Selasa, 21 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Generasi Literat Ajak Anak Muda Hang Out Kebinekaan ke Komunitas Bnei Noah

Penulis Catherine Natalia
(Relawan Generasi Literat)

Jakarta Selatan, 18 Juli 2026 — Suara Anak Negeri| Tidak semua prasangka lahir dari kebencian. Banyak di antaranya tumbuh karena manusia belum pernah saling bertemu, belum pernah saling mendengar, dan belum pernah saling mengenal.

Baca juga: Drs. Maskur Bora Resmi Menutup MPLS SMK Negeri Pariwisata Biak 2026/2027: "Karakter Adalah Segalanya, Raihlah Masa Depan dengan Moral yang Baik"

Berangkat dari keyakinan itulah, Generasi Literat kembali menghadirkan Hang Out Kebhinnekaan Ke-31 dengan mengunjungi Komunitas Bnei Noah di MULA Town Center, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7).

Kegiatan ini menjadi ruang aman bagi peserta dari beragam latar belakang agama, kepercayaan, dan komunitas untuk saling mengenal secara langsung. Di antara peserta yang hadir adalah perwakilan dari Komunitas Eden, Komunitas Kristen Ortodoks Konstantinopel, Pemuda Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), dan Global Peace Foundation (GPF).

Founder Generasi Literat, Mila Muzakkar, dalam sambutannya mengatakan bahwa, Hang Out Kebhinnekaan lahir dari kesadaran bahwa keberagaman Indonesia tidak cukup hanya diakui, tetapi juga perlu dialami melalui perjumpaan.

Baca juga: KEMBANG KANGKUNG

“Ini merupakan kali kedua kami mengunjungi Komunitas Bnei Noah. Setiap bertemu orang-orang baru, selalu ada harapan bahwa semakin banyak orang berani membuka diri terhadap perbedaan. Hang Out Kebhinnekaan hadir agar kita tidak berhenti pada asumsi atau cerita dari orang lain, tetapi benar-benar bertemu, berdialog, dan saling memahami,” ujarnya.

Menurut Mila, selama hampir tiga tahun penyelenggaraannya, Hang Out Kebhinnekaan telah mengunjungi berbagai komunitas bhinneka yang hidup dan berkembang di Indonesia, namun belum banyak dikenal masyarakat, bahkan sebagian mengalami penolakan hingga diskriminasi. Baginya, perjumpaan merupakan cara paling sederhana sekaligus paling efektif untuk mematahkan prasangka.

Sementara Moreh Leo Yuwono, S.Kom., M.A. in Noahide Theology, sebagai tuan rumah sekaligus Founder Komunitas Bnei Noah, mengenalkan bawah komunitas ini mempelajari Taurat dalam kerangka Tujuh Hukum Nuh (Seven Noahide Laws), yang menurut ajaran mereka merupakan pedoman etika universal bagi seluruh umat manusia.

Moreh Leo menjelaskan bahwa Komunitas Bnei Noah di Indonesia tersebar di sejumlah wilayah seperti Sumatra, Jawa, Bali, Ambon, Maluku Utara, dan Papua, meskipun jumlah anggotanya masih relatif sedikit. Ia menekankan bahwa salah satu nilai yang terus dihidupi komunitasnya adalah melakukan kebaikan kepada siapa pun tanpa membedakan suku, ras, warna kulit, maupun latar belakang.

“Ketika hidup dibangun di atas prasangka, kita akan mudah menghakimi orang lain. Karena itu, salah satu hal yang penting adalah belajar melihat sesama sebagai manusia yang sama-sama diciptakan Tuhan,” ungkapnya.

Selama lebih dari dua jam, peserta mengikuti dialog yang membahas sejarah Bnei Noah, pandangan mereka mengenai Taurat, Tujuh Hukum Nuh, etika kehidupan, hingga hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

Berbagai pertanyaan mengenai ibadah, lingkungan hidup, hukum, serta relasi Bnei Noah dengan tradisi Yahudi dijawab secara terbuka dalam suasana yang hangat dan penuh rasa hormat.

Setelah kenalan dan berdialog, peserta diajak mengenal alfabet Ibrani (Alef Bet) melalui sesi praktik menulis bahasa Ibrani sederhana sebagai bagian dari pengenalan budaya dan tradisi yang berkembang di komunitas tersebut.

Bagi banyak peserta, pengalaman yang paling berkesan bukan sekadar memperoleh pengetahuan baru, melainkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan komunitas yang selama ini jarang mereka kenal.
Salah satu peserta bernama Hakim, mahasiswa Universitas Indonesia, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai nilai-nilai kemanusiaan dalam tradisi agama-agama Abrahamik.

“Saya melihat bahwa agama-agama Abrahamik memiliki nilai dasar yang sama, yaitu mengajarkan manusia untuk berbuat baik. Penjelasan yang disampaikan memberikan wawasan baru mengenai Bnei Noah sekaligus mengingatkan pentingnya membangun perdamaian dan mengurangi prasangka,” katanya.

Sementara itu, Kornelia, perwakilan persekutuan Gereja Indonesia , mengaku rela datang dari Bogor untuk mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, dialog yang berlangsung membuatnya memperoleh pemahaman baru mengenai bahasa Ibrani dan Taurat sekaligus menghadirkan optimisme bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki ruang untuk saling belajar dan menghargai.

Menutup kegiatan, Moreh Leo menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme peserta, terutama generasi muda, yang dinilainya menunjukkan keterbukaan dalam membangun dialog lintas komunitas.
“Suasana kegiatan ini sangat positif di kalangan generasi muda, penuh keterbukaan, saling menghargai, dalam semangat kebhinnekaan.

Teruslah merawat ruang-ruang perjumpaan yang positif seperti ini dalam rangka merajut tali kebhinnekaan dalam bangsa kita.” pesannya.

Melalui Hang Out Kebhinnekaan, Generasi Literat percaya bahwa keberagaman bukanlah ancaman yang harus dijauhi, melainkan kekayaan bangsa yang perlu dikenali. Sebab, ketika orang-orang yang berbeda bersedia duduk bersama, mendengarkan satu sama lain, dan belajar memahami pengalaman sesamanya, prasangka perlahan berubah menjadi penghormatan, dan perbedaan menjadi jembatan untuk memperkuat persatuan Indonesia.

Kategori:
Tags:

Terkini