Sabtu, 05 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Jiwa di Balik Hukum: Wewangian Kasih dan Kerendahan Hati dari UST Manila

Oleh: Johanis Kopong

Baca juga: Optimalisasi Tata Kelola Fiskal dan Reformasi Birokrasi: Bupati Biak Numfor Tegaskan Realisasi TPP Berbasis Kinerja di Tengah Restrukturisasi Anggaran

​Pesan Spiritual dari Manila: Ketika Belas Kasih Menjadi Panggilan Utama Manusia

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Sabtu, 05 September 2026 – ​Di tengah dinamika kehidupan yang serba cepat dan kerap diwarnai persaingan, sebuah perenungan mendalam hadir menyejukkan jiwa. Bertempat di Central Seminary UST Manila, Filipina, Keterangan ini disampaikan oleh RD. Domincs Baldawins Masriat sebagai Pastor Mahasiswa di UST Manila – Filipina. Melalui refleksi spiritual bertajuk Sejenak Sabda, ia mengajak publik untuk sejenak berhenti dan merenungkan hakikat keberadaan diri di hadapan Sang Pencipta.

​Mengangkat refleksi dari Bacaan Liturgi Hari Biasa Pekan Biasa XXII (1 Korintus 4:6b-15 dan Lukas 6:1-5), perenungan ini menggarisbawahi pentingnya menyadari landasan utama dalam berelasi dengan sesama: kerendahan hati yang murni dan belas kasih yang melampaui sekat aturan formal.

Baca juga: FORUM KOMUNITAS SENI GUGAT PENGUKUHAN 25 ANGGOTA DKJ

Anugerah dan Keluhuran Kerendahan Hati

​Dalam bagian awal perenungannya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa segala hal yang melekat pada diri manusia sejatinya merupakan titipan murni dari Allah. Keluhuran seseorang tidak diukur dari tingginya kedudukan, melainkan dari sejauh mana ia mampu menjaga kesederhanaan hatinya.

“Pertama, hendaklah kita menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah dari Allah. Segala jabatan, talenta dan kebaikan berasal dari Allah Oleh karena itu, hendaklah kita berusaha untuk tetap rendah hati dan jangan suka menyombongkan diri. Jangan suka mencari pujian dan kehormatan dari manusia hanya karena kita hebat atau memiliki sesuatu yang lebih dari orang lain. Tetaplah menjadi orang yang rendah hati.”

Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan

​Menjawab tantangan moral dalam interaksi sosial yang kerap diwarnai konflik, ia menegaskan pentingnya konsistensi dalam berbuat baik. Kebijaksanaan tertinggi terletak pada keberanian untuk memutus rantai kebencian melalui kekuatan cinta.

“Kedua, membalas kejahatan dengan kebaikan adalah suatu hal yang terkadang sulit dilakukan tetapi ingat bahwa hal ini merupakan panggilan dari setiap orang kristiani. Oleh karena itu, jangan sampai kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap kita membuat kita menjadi jahat. Tetaplah berusaha untuk sabar dan selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Ingat bahwa tidak ada kejahatan yang dapat diselesaikan dengan kejahatan. Hanya cinta dan kebaikan yang dapat menyelesaikan dan mengalahkan kejahatan. Amor Omnia Vincit: Cinta mengalahkan Segalanya.”

Menemukan Jiwa di Balik Hukum

​Mengulas esensi dari aturan dan regulasi, naskah ini mengajak pembaca untuk memandang hukum sebagai instrumen pemuliaan martabat manusia, bukan sekadar instrumen kekuasaan atau pembatasan yang kaku.

“Ketiga, Hukum dan aturan dibuat untuk melayani manusia dan memuliakan Allah, bukan sebaliknya. Aturan tidak boleh membelenggu atau mengabaikan Kebutuhan dasar manusia. Dengan kata lain, Yesus mengajarkan bahwa keselamatan, kehidupan, dan belas kasih jauh lebih utama daripada ketaatan hukum secara harfiah yang kehilangan jiwanya.”

Mata Kasih yang Membebaskan

​Sebagai penutup narasi, RD. Domincs Baldawins Masriat menggarisbawahi perbedaan mendasar antara sikap menghakimi dan dorongan untuk melayani. Kepekaan terhadap kebutuhan sesama merupakan wujud nyata dari kemanusiaan yang beradab.

“Keempat, Orang Farisi fokus mencari-cari kesalahan murid Yesus, sementara Yesus melihat kebutuhan hidup mereka. Kita dipanggil untuk melihat sesama dengan mata kasih, bukan dengan sikap menghakimi.”

​Rangkaian refleksi ini diakhiri dengan sebuah doa sederhana namun bermakna mendalam: “Ya Allah berkatilah kami agar kami selalu rendah hati dan mampu melakukan kasih kepada semua orang.”

Kategori:
Tags:

Terkini