Cermin Nurani di Kepulauan Tanimbar: Fortiter in Re, Suaviter in Modo
Oleh: Johanis Kopong
Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Sabtu, 5 September 2026 – Riak angin pesisir Desa Lauran berembus tenang, menyapu pelataran Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus. Di tengah keheningan reksa pastoral yang menyejukkan, refleksi mendalam mengenai esensi hukum dan martabat manusia mengemuka. Narasi keteladanan kembali ditautkan pada sebuah riwayat klasik dalam Injil Lukas, kala orang-orang Farisi mempertanyakan tindakan para murid Yesus yang memetik bulir gandum di hari Sabat demi melepas dahaga lapar.
Hukum untuk Manusia, Bukan Pembelenggu Nurani
Pertanyaan kritis tersebut menjadi titik mula evaluasi bathiniah yang mendasar bagi kehidupan bermasyarakat. Ketika aturan hukum berhadapan langsung dengan kebutuhan paling hakiki dari hidup manusia, seperti kelaparan, rasa sakit, atau situasi darurat yang mengancam keselamatan, belas kasih sepatutnya menempati tampuk tertinggi. Hukum, baik institusi agama maupun negara, pada hakikatnya dirancang sebagai sarana menata ketertiban hidup, bukan alat pembelenggu kemanusiaan.
Baca juga: FORUM KOMUNITAS SENI GUGAT PENGUKUHAN 25 ANGGOTA DKJ
Praktik penerapan aturan secara kaku tanpa empati kerap menjebak manusia pada sikap menghakimi dan formalisme kosong. Sikap yang mengedepankan pencitraan demi penghormatan superficial semata hanya akan merenggut rasa kepedulian sosial yang tulus. Dalam ruang hidup bersama, keberadaan belas kasih justru menjadi pengikat kemanusiaan yang sejati.
Suara Kemanusiaan dari Pesisir Lauran
”Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” ujar Pastor Pius Heljanan, MSC, mengutip teguran orang Farisi kepada murid-murid Yesus yang lapar.
Lebih lanjut, beliau menegaskan keutamaan nilai kemanusiaan di atas sekadar ketaatan ritualistik yang kaku.
”Saudaraku, bagi Yesus ketika aturan berhadapan dengan kebutuhan dasar manusia demi kehidupan dan keselamatan (seperti sakit, lapar, kecelakaan, dll.) belas kasihlah yang diutamakan. Aturan, baik agama pun negara dibuat untuk menata hidup manusia, bukan membelenggu manusia. Orang Farisi menerapkan hukum secara kaku tanpa ada rasa peduli dan empati terhadap manusia. Bagi Yesus, mengutamakan kasih jauh lebih utama dari sekadar ritual kaku yang menyengsarakan,” tegas Pastor Pius Heljanan, MSC.
Menolak Pencitraan, Merawat Ketegasan yang Santun
Pesan moral tersebut ditutup dengan ajakan mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa merawat prinsip keteguhan normatif dengan cara-cara yang santun dan penuh kasih.
”Jangan jadi Farisi dalam hidup bersama: suka menghakimi, cari panggung, penghormatan dan pencitraan diri demi terlihat hebat. Sepakat: Fortiter in re, suaviter in modo, Tegas dalam prinsip, tapi lembut dalam cara,” imbau Pastor Pius Heljanan, MSC.
(Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku)


