KAMIS 30/4/2026
Pekan IV Paskah (P)
– Kisah Para Rasul
13:13-25
– Yohanes 13:16-20
Ketika Paulus dan teman-temannya di rumah ibadat di Antiokhia, para pejabat rumah ibadat mempersilahkan agar menyampaikan sesuatu untuk menghibur dan meneguhkan jemaat.
Maka, Paulus berdiri dan menyampaikan sejarah keselamatan bangsa Israel: mulai dari Mesir, padang gurun, Kanaan, Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus. Hal mana memperlihatkan bahwa iman berjalan, bertumbuh dan berkembang dalam sejarah.
Baca juga: Refleksi Minggu Panggilan: Oase di Tengah Luka Panggilan
Iman itu bukan tiba-tiba ada. Orang beriman saat ini adalah bagian kecil dari sejarah iman, maka peliharalah sejarah itu dan wariskan turun-temurun: agar tahu dari mana, sekarang harus buat apa dan mau ke mana tujuan hidup.
Yesus berkata seorang hamba atau utusan tidak lebih tinggi dari tuannya atau yang mengutusnya. Artinya, seorang hamba atau utusan yang baik hanya melakukan apa yang menjadi tugasnya, tidak menambah manuver pribadi yang mengaburkan tujuan.
Kadang kita merasa orang utusan itu harus suci murni, tetapi Tuhan punya kuasa untuk menentukan utusan-Nya: “Barangsiapa menerima orang yang Ku-utus, ia menerima Aku” (Yohanes 3:20). Aku datang bukan untuk orang benar tetapi untuk orang berdosa, tentu yang bertibat bukan yang terus dalam dosa (Lukas 5:32, Matius 9:13).
Baca juga: Pematang Siantar Kota Toleran
Saudari – saudara terkasih.
Semoga hari ini kita lebih suka memelihara sejarah iman, karena sejarah itu bagai benang merah perjalanan menuju tujuan akhir.
Kita lebih suka mewariskan tradisi adat yang baik dan tradisi iman yang otentik kepada anak cucu dan itu kewajiban setiap orang beriman dalam satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kita lebih suka melakukan apa yang menjadi tugas, entah di rumah atau di tempat kerja, agar kita dapat berkembang dengan baik dan terus berjalan menuju tujuan akhir.
Sejarah itu “guru kehidupan” (magistra vitae), sehingga kita terus belajar untuk maju. Sejarah tidak mengajak kita untuk mundur tetapi untuk maju. Yesus mengatakan kalau sudah membajak maka jangan menoleh ke belakang.
Hidup ini bukan seperti “pomp bensin” harus selalu kembali ke titik nol. Hidup ini seperti sekolah: dari TK ke SD, dari SD ke SMP dan seterusnya. Kalau sudah sarjana jangan berjuang kembali ke TK atau SD. Intinya, pikiran itu harus ke depan jangan ke belakang. Amin.
P. Felix Amias MSC
Biara MSC Merauke
Propinsi Papua Selatan
Thursday, April 30, 2026



