Oleh: joko
Baca juga: ATR/BPN dan Kejaksaan Agung Perkuat Sinergi Pulihkan Aset Pertanahan
Pdt. Haris Boritnaban: Besar atau Kecil Tugas Pelayanan Memiliki Nilai yang Sama di Hadapan Tuhan
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Pelantikan Pengurus tidak hanya menjadi seremoni pergantian kepengurusan, tetapi juga menjadi momentum peneguhan nilai-nilai pelayanan bagi generasi muda Kristen. Dalam ibadah syukur yang berlangsung di Aula SMP Kristen Saumlaki, Senin (15/6/2026), para pengurus yang baru dilantik diingatkan agar menjalankan tugas pelayanan dengan motif yang benar, yakni semata-mata untuk Tuhan, bukan demi jabatan, pujian, ataupun pengakuan manusia.
Pesan tersebut disampaikan melalui khotbah oleh Pdt. Haris Boritnaban, S.Th. bertema “Pelayan dan Motif Melayani”. Ia menegaskan bahwa pelayanan sejati tidak diukur dari jabatan ataupun aktivitas yang tampak, melainkan dari hati dan motivasi yang melandasi seseorang dalam melayani.
Ibadah syukur pelantikan turut dihadiri Kepala Kesbangpol, Wakapolres, Sekretaris DPRD Rano Titirloloby, Anggota DPRD Riky Baumase, serta mantan Bupati Piterson Rangkoratat.
Baca juga: Kantor Pertanahan Tanimbar Teken SPK Gedung Perwakilan MBD
Pelantikan Jadi Momentum Refleksi Pelayanan
Mengawali khotbahnya, Pdt. Haris menjelaskan bahwa seorang pelayan adalah pribadi yang menerima tanggung jawab khusus dalam ruang lingkup pelayanan. Sementara melayani merupakan pelaksanaan mandat Tuhan melalui gereja.
Menurutnya, pelayan dan pelayanan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu, pelayanan tidak boleh dipahami hanya sebagai rutinitas organisasi atau aktivitas gerejawi semata.
“Pelayanan bukan sekadar liturgi, berkhotbah, memimpin ibadah, atau menjalankan roda organisasi gereja. Pelayanan berbicara lebih dalam, yakni tentang motif yang mendorong seseorang melayani,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh pengurus IPPL untuk bertanya kepada diri sendiri, mengapa mereka melayani dan kepada siapa pelayanan itu akan dipertanggungjawabkan.
Pelayanan Tidak Diukur dari Jabatan
Mengacu pada Kolose 3:23, Pdt. Haris menegaskan prinsip pertama, yakni seorang pelayan tidak boleh mengklasifikasikan pelayanan berdasarkan besar atau kecilnya tanggung jawab.
Menurutnya, firman Tuhan yang berbunyi “Apa pun juga yang kamu perbuat…” menunjukkan bahwa seluruh bentuk pelayanan memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan.
Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang bersemangat ketika dipercaya memegang jabatan penting, tetapi kehilangan antusiasme saat menerima tugas yang dianggap sederhana.
Padahal, lanjutnya, kesetiaan dalam perkara kecil merupakan batu uji sebelum Tuhan mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar.
“Kalau saudara setia dalam perkara kecil, Tuhan akan mempercayakan perkara yang lebih besar,” pesannya.

Melayani dengan Sepenuh Hati
Prinsip kedua yang ditekankan adalah pentingnya melayani dengan sepenuh hati.
Mengutip bagian firman “Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu,” Pdt. Haris mengatakan bahwa Tuhan tidak hanya memperhatikan hasil pelayanan, tetapi juga melihat motivasi yang ada di dalam hati setiap pelayan.
Untuk memperkuat pesannya, ia mengangkat kisah Yesus yang tiga kali bertanya kepada Petrus dalam Yohanes 21:15–17.
Menurutnya, pertanyaan Yesus bukan dimaksudkan untuk menguji kemampuan Petrus, melainkan menguji kasih dan motif pelayanan yang dimilikinya. “Dalam pelayanan, Tuhan lebih dahulu melihat hati sebelum melihat apa yang kita kerjakan,” katanya.
Tuhan Menjadi Tujuan Utama Pelayanan
Prinsip terakhir yang disampaikan adalah menjadikan Tuhan sebagai pusat dan tujuan utama pelayanan. Mengutip firman “…seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia,” Pdt. Haris menegaskan bahwa pertanggungjawaban tertinggi seorang pelayan bukan kepada manusia, melainkan kepada Tuhan.
Ia menyadari bahwa dalam perjalanan pelayanan setiap orang dapat mengalami kekecewaan terhadap pemimpin maupun sesama pelayan karena setiap manusia memiliki keterbatasan.
Namun demikian, ia mengingatkan agar kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti melayani. “Kalau kita memandang Tuhan sebagai tujuan pelayanan, maka apa pun situasi dan kondisi yang terjadi, kita akan tetap setia melayani,” ujarnya.
Ajakan Menjadi Pelayan yang Berintegritas
Menutup khotbahnya, Pdt. Haris mengajak seluruh pengurus IPPL periode 2026–2029 menjadikan pelayanan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan yang dilakukan dengan ketulusan, kasih, dan kesetiaan.
Ia berharap kepengurusan yang baru tidak hanya aktif menjalankan program organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan teladan melalui karakter pelayan yang rendah hati, bertanggung jawab, serta memiliki motivasi yang benar dalam setiap tugas yang dipercayakan Tuhan.





