Selasa, 04 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dr. Noviyanter: Program Kesehatan Berbasis Data Digital Lindungi Tanimbar

Oleh: joko

INPEX Dukung Pengendalian Malaria, Medika Prakarsa Siapkan Program Berkelanjutan
suaraanaknegeri.com | Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku | Minggu, 2 Agustus 2026 – Site Health Leader Medika Prakarsa Indonesia, dr. Noviyanter Siahaya, menegaskan bahwa program pengendalian malaria dan demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar disusun sebagai upaya jangka panjang yang berbasis data, kolaborasi, serta keterlibatan aktif masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan dr. Noviyanter Siahaya saat memberikan pemaparan pada rangkaian kegiatan Soft Launching Ruma Kidabela yang digelar INPEX Masela Ltd. di Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Minggu (2/8/2026).

Baca juga: Wakapolres: Ruma Kidabela Rumah Bersama untuk Kemajuan Tanimbar

Tanimbar Dinilai Memiliki Faktor Risiko Tinggi
Dalam paparannya, dr. Noviyanter menjelaskan bahwa program tersebut dijalankan setelah hasil kajian menunjukkan Kabupaten Kepulauan Tanimbar memiliki sejumlah faktor risiko penyebaran malaria dan DBD.

Menurutnya, posisi geografis Tanimbar yang berdekatan dengan wilayah endemis malaria seperti Papua dan Papua Barat menjadi salah satu alasan utama pelaksanaan program tersebut.

“Kami sudah setahun di sini. Program ini dijalankan karena letak geografis Kepulauan Tanimbar dekat dengan daerah endemis tinggi, yaitu Papua dan Papua Barat. Dari data yang kami kumpulkan, sekitar 70 hingga 72 persen riwayat perpindahan penduduk berasal dari daerah endemis, terutama Timika,” ujar dr. Noviyanter.

Baca juga: INPEX Resmikan Ruma Kidabela, Perkuat Sinergi dengan Masyarakat

Ia juga mengungkapkan bahwa hasil survei menemukan sekitar 43 persen rumah tangga memiliki tempat penampungan air yang menjadi lokasi berkembangnya jentik nyamuk penyebab malaria maupun demam berdarah.

Program Dimulai Sejak 2024
Dr. Noviyanter menjelaskan bahwa program kesehatan tersebut telah dimulai sejak 2024 melalui tahapan penilaian risiko (risk assessment), dilanjutkan penyusunan strategi mitigasi pada 2025, kemudian memasuki tahap intervensi secara masif sepanjang 2026.

Pada 2027 mendatang, program akan memasuki tahap evaluasi, konsultasi serta penyempurnaan berbagai kegiatan agar dapat berlanjut secara mandiri. “Program kami dimulai sejak 2024 melalui survei, kemudian 2025 kami mempersiapkan mitigasi, tahun 2026 kami gencar melakukan intervensi, dan 2027 akan dilakukan evaluasi serta penguatan keberlanjutan program,” katanya.

Berbasis Digital dan Teknologi Satelit
Salah satu inovasi yang diterapkan Medika Prakarsa Indonesia adalah digitalisasi pengumpulan data kesehatan masyarakat berbasis satelit.

Data yang dihimpun meliputi jumlah kasus malaria dan DBD, lokasi penyebaran, kondisi lingkungan, hingga titik-titik yang memiliki risiko tinggi berkembangnya nyamuk. “Kami mengubah sistem pengumpulan data dari metode manual menjadi digital berbasis satelit sehingga seluruh data dapat dianalisis secara cepat untuk menentukan intervensi yang tepat,” jelasnya.

Distribusi Kelambu dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
Selain penguatan sistem data, Medika Prakarsa Indonesia juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan bagi dokter, perawat, dan bidan mengenai diagnosis malaria, demam berdarah, pemeriksaan laboratorium hingga tata laksana penanganan kasus.
Di sisi lain, perusahaan telah mendistribusikan sekitar 3.000 kelambu kepada masyarakat di wilayah terdampak sejak 2025 hingga 2026.

Selain itu, dilakukan pula pembagian alat diagnosis cepat malaria (Rapid Diagnostic Test/RDT), fogging untuk pencegahan DBD, penyemprotan dalam ruangan (Indoor Residual Spraying/IRS), pemberian larvasida ramah lingkungan, hingga pemeriksaan ribuan tempat penampungan air.

Libatkan Kader Lokal
Dr. Noviyanter mengatakan, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga partisipasi masyarakat. Karena itu, sebanyak sekitar 25 kader malaria dari empat wilayah binaan telah direkrut dan dilatih untuk melakukan edukasi kesehatan, pendataan digital, hingga pengawasan lingkungan secara berkelanjutan.

“Kami ingin program ini nantinya dapat diteruskan oleh pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan. Karena itu masyarakat lokal kami libatkan sejak awal agar memiliki kemampuan melanjutkan program ini secara mandiri,” ujarnya.

Dukung Komunikasi Terbuka Melalui Ruma Kidabela
Dalam kesempatan yang sama, Vice President Corporate Services INPEX Masela Ltd., Rudi Imran, mengatakan kehadiran Ruma Kidabela menjadi ruang komunikasi antara perusahaan dan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan Proyek LNG Abadi. “Harapan kami dengan adanya rumah ini terjalin komunikasi dan pemahaman yang sama antara kami dan masyarakat sehingga kita bisa bersama-sama mewujudkan proyek yang telah lama dinantikan,” kata Rudi Imran.

Pemerintah Daerah Ajak Bangun Sinergi
Sementara itu, Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Chatarina Ratuanak, mengapresiasi langkah INPEX yang menghadirkan ruang komunikasi terbuka melalui Ruma Kidabela.

Ia menilai komunikasi yang baik menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan seluruh pemangku kepentingan. “Rumah Kidabela dibangun sebagai sarana komunikasi. Komunikasi yang tuntas adalah ketika bapak mengerti kami, kami mengerti bapak, dan seluruh program dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.

Usai rangkaian sambutan, Wakil Bupati secara resmi meresmikan Ruma Kidabela melalui prosesi pengguntingan pita yang disaksikan unsur Forkopimda, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat Desa Lermatang.

(Sumber: Paparan dr. Noviyanter Siahaya, Site Health Leader Medika Prakarsa Indonesia; Sambutan Vice President Corporate Services INPEX Masela Ltd. Rudi Imran; Sambutan Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar dr. Juliana Chatarina Ratuanak; Dokumen Soft Launching Ruma Kidabela INPEX Masela Ltd.)

Kategori:
Tags:

Terkini