Rabu, 22 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

“Agama sebagai Garam: Ketika Nilai Bekerja Diam-Diam, Bukan Dipertontonkan”

*(Oleh Paulus Laratmase

Pemikiran Goenawan Mohamad tentang “garam” sebagai metafora agama menghadirkan refleksi yang tajam sekaligus subtil. Garam adalah sesuatu yang tidak mencolok secara visual, namun esensial. Ia tidak hadir untuk dipamerkan, melainkan larut dan menyatu dalam makanan, memberi rasa, menjaga kualitas, dan menghadirkan manfaat tanpa menarik perhatian.

Baca juga: 62 Tahun Mengabdi Tanpa Henti: P. Lambertus Somar MSC, Jejak Imam dari Tanimbar untuk Nusantara

Dalam kerangka ini, agama idealnya tidak tampil sebagai identitas yang dipertontonkan atau sekadar simbol sosial. Sebaliknya, agama seharusnya menjadi nilai yang bekerja diam-diam dalam kehidupan sehari-hari, menghidupi, bukan sekadar menghiasi.

Agama: Antara Esensi dan Simbol

Refleksi ini mengandung kritik halus terhadap fenomena di mana agama kerap direduksi menjadi simbol identitas atau bahkan alat kepentingan politik. Praktik religius sering kali menonjolkan aspek lahiriah, ritual, atribut, dan klaim kebenaran, namun kehilangan kedalaman makna spiritual.

Baca juga: PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MENULIS KEMERDEKAAN DENGAN DARAH DAN CAHAYA

Dalam esai-esainya di Catatan Pinggir, Goenawan menyinggung bagaimana agama bisa berubah menjadi “perisai untuk menutup diri” dalam konflik identitas. Ketika agama terlalu “terlihat”, ia berisiko bergeser dari sumber nilai menjadi instrumen pembenaran.

Agama sebagai Etika Hidup

Agama, dalam pengertian yang lebih mendalam, adalah etika hidup. Ia hadir melalui nilai-nilai seperti kejujuran, empati, keadilan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini tidak membutuhkan panggung, karena kekuatannya justru terletak pada konsistensi praktik, bukan pada pengakuan publik.

Gagasan ini selaras dengan tradisi filsafat moral dan spiritualitas universal: nilai yang paling kuat adalah nilai yang tidak memerlukan validasi eksternal.

Dimensi Spiritual: Ikhlas dan Tanpa Pamrih

Secara spiritual, metafora “garam” menyentuh persoalan ego. Yang terlihat sering kali berkaitan dengan keinginan untuk diakui, sementara yang tidak terlihat justru berhubungan dengan keikhlasan.

Dalam tradisi sufistik, dikenal keyakinan bahwa amal paling murni adalah yang tidak disaksikan siapa pun selain Tuhan. Dengan demikian, agama sebagai “garam” bukanlah agama yang berisik, menghakimi, atau memaksa, melainkan yang menghidupkan ruang sosial secara halus dan menebarkan rahmat secara nyata.

Relevansi dalam Konteks Indonesia

Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, agama kerap ditampilkan sebagai identitas kelompok yang tegas, bahkan terkadang menjadi sumber ketegangan. Di sini, Goenawan menawarkan perspektif alternatif: agama sebagai daya perekat, bukan pemisah.

Seperti garam yang menyatu dalam makanan, agama seharusnya hadir dalam kehidupan sosial tanpa menciptakan sekat, melainkan memperkaya dan memperhalus relasi antarmanusia.

Konklusi

Agama yang terlalu “keras terlihat” cenderung dekat dengan ego dan potensi konflik. Sebaliknya, agama yang “tak terlihat” justru dekat dengan nilai dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang relevan bukanlah seberapa tampak seseorang dalam beragama, melainkan seberapa nyata manfaat kehadirannya bagi sesama.

Bukan seberapa terlihat agamamu, tetapi seberapa terasa kebaikanmu.

______________

*) Paulus Laratmase adalah akademisi, pimpinan umum media “Suara Anak Negeri”

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini