RD Ponsianus Ongirwalu: Menenun Masa Depan Gereja dari Sebutir Beras
http://suaraanaknwgeri.com | Saumlaki – Di tengah berbagai tantangan kehidupan umat dewasa ini, sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna terlihat di lingkungan Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (4/6/2026).
Karung-karung beras yang diantar secara bergilir oleh 19 rukun umat menuju Seminari Santo Yohanes Vianney (SYV) Saumlaki mungkin tampak sebagai bantuan biasa. Namun di balik setiap butir beras yang terkumpul, tersimpan doa, pengorbanan, dan harapan besar akan lahirnya para imam masa depan bagi Gereja Katolik di Keuskupan Amboina.
Bagi umat HKY Olilit Barat, tradisi saling menopang ini bukan sekadar memenuhi program tahunan kevikepan. Lebih dari itu, gerakan tersebut menjadi wujud nyata iman yang hidup dan bertumbuh dalam semangat kebersamaan.
Baca juga: Bhabinkamtibmas Wowonda Tinjau Lahan Jagung Gagal Panen Milik Petani

Persembahan dari Hati Umat
Dengan penuh kehangatan dan ketulusan, para Ketua Rukun mewakili umat menyerahkan bantuan beras kepada Seminari SYV Saumlaki. Bagi mereka, bantuan tersebut merupakan hasil kebersamaan keluarga-keluarga Katolik yang ingin mengambil bagian dalam pembinaan calon imam.
“Pastor, Frater, dan anak-anak seminaris sekalian, kami datang membawa persembahan yang tidak seberapa ini dari rukun kami. Beras 50 kilogram ini adalah wujud cinta dan keringat dari setiap keluarga di rukun,” ungkap salah satu perwakilan Ketua Rukun.
Baca juga: Bhabinkamtibmas Saumlaki Utara Perkuat Kemitraan dengan Warga
Menurut mereka, bantuan tersebut dikumpulkan tanpa paksaan. Yang hadir justru kerinduan bersama agar para seminaris dapat menjalani masa pendidikan dengan baik tanpa kekurangan kebutuhan pokok.
“Setiap bulir beras ini diiringi doa kami di rukun. Kiranya dari meja makan seminari ini lahir imam-imam yang kudus dan setia untuk Keuskupan Amboina. Tugas kami menjaga dapur kalian tetap mengepul, tugas kalian adalah belajar dan berdoa untuk kami,” tuturnya.
Ungkapan itu menggambarkan hubungan batin yang erat antara umat dan lembaga pendidikan calon imam. Di sana, beras bukan sekadar bahan pangan, melainkan simbol kasih yang menghubungkan altar dengan rumah-rumah umat.

RD Ponsianus Ongirwalu: Ini Bukan Sekadar Bantuan Logistik
Pastor Paroki HKY Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, memandang gerakan tersebut sebagai tindakan iman yang memiliki makna pastoral yang mendalam. Dalam refleksinya, ia menegaskan bahwa bantuan beras yang dihimpun dari 19 rukun bukan sekadar aktivitas sosial ataupun pemenuhan kewajiban program gerejawi.
“Bagi kita, gerakan memberikan 50 kilogram beras per rukun ini bukan sekadar urusan logistik atau menggugurkan kewajiban jadwal dari Kevikepan KKT-MBD. Ini adalah tindakan liturgis yang nyata di luar gereja,” ujar Pastor Ongirwalu.
Menurutnya, keberadaan Seminari SYV Saumlaki memiliki posisi strategis bagi masa depan Gereja lokal. Dari lembaga itulah calon-calon imam dipersiapkan untuk melayani umat di berbagai wilayah Keuskupan Amboina.
“Seminari SYV Saumlaki adalah jantung keuskupan kita. Dari sanalah masa depan sakramen dan pelayanan sakral Gereja dipertaruhkan. Jika hari ini kita menutup mata terhadap kebutuhan seminari, maka di masa depan kita sedang mempersiapkan kekosongan altar,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa setiap bentuk perhatian kepada seminari sejatinya merupakan investasi iman yang hasilnya akan dirasakan Gereja pada masa mendatang.
“Satu piring nasi yang kita berikan kepada seorang seminaris hari ini adalah investasi iman agar kelak di masa depan, tangan yang sama akan memberkati kita, menerimakan komuni kepada kita, dan meneguhkan anak-cucu kita,” tuturnya.
Di akhir pesannya, Pastor Ongirwalu menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat dan para Ketua Rukun yang telah terlibat aktif dalam gerakan tersebut.
“Tuhan tidak pernah berutang pada kebaikan kita. Setiap keikhlasan akan dibalas-Nya dengan berkat yang melimpah dalam keluarga,” ujarnya.
Semangat Communio yang Tetap Menyala
Rasa syukur yang sama juga disampaikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) HKY Olilit Barat. Mereka menilai keterlibatan umat sepanjang Mei hingga awal Juni menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi keluarga-keluarga Katolik.
Menurut DPP, program tahunan tersebut menunjukkan bahwa beban yang besar akan terasa ringan ketika dipikul bersama.
“Kami sangat terharu dan bangga melihat dinamika umat di 19 rukun. Di tengah situasi ekonomi yang memiliki tantangan masing-masing, semangat keterlibatan umat sama sekali tidak luntur,” ungkap perwakilan DPP.
Mereka juga memberikan apresiasi kepada para Ketua Rukun yang dinilai menjadi penggerak utama keberhasilan program tersebut. “Kami tidak hanya mengirimkan beras, tetapi kami mengirimkan hati dan doa seluruh umat paroki bersama rukun-rukunnya,” katanya.
Menjaga Api Panggilan
Gerakan yang tumbuh dari Paroki HKY Olilit Barat memperlihatkan bahwa pembinaan calon imam bukan hanya tanggung jawab seminari atau para pastor semata. Di balik setiap panggilan imamat, terdapat dukungan umat yang setia menopang melalui doa, tenaga, dan pengorbanan sederhana.
Dari rumah-rumah umat di Olilit Barat, karung-karung beras itu berangkat menuju seminari. Namun yang sesungguhnya sedang dikirim adalah harapan agar Gereja tetap memiliki gembala-gembala yang melayani dengan setia di masa depan.
Di Bumi Duan Lolat, semangat gotong royong yang disucikan oleh nilai-nilai Injili itu terus menyala, mengajarkan bahwa masa depan Gereja dapat ditenun bersama, bahkan dari sebutir beras yang diberikan dengan tulus.(jk)





