Rabu, 17 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KONSEP BUHUTA DALAM BUDAYA ORGANISASI LAMAHU

oleh Reiner Emyot Ointoe*

“Budaya adalah alat manajemen ‘keras’ yang membutuhkan kesepahaman di antara keanggotan , bukan hanya menciptakan tempat kerja yang nyaman.” — Jennifer A. Chatman dan Glenn R. Carroll dalam Making Organizational Culture
Great(2026).

Baca juga: Biak Menuju Pulau Antariksa Indonesia: BRIN Paparkan Rencana Besar Bandar Antariksa dan Kawasan Aerospace

Konsep Buhuta dalam ranah budaya(cultural domain) Gorontalo merupakan simbol ruang sosial yang meneguhkan identitas kolektif masyarakat, baik dalam dimensi adat maupun religius.

Dalam bahasa Gorontalo, kata Buhuta secara etimologis berasal dari akar kata “huta”(harafiah: tanah) yang berarti kampung atau pemukiman, sedangkan imbuhan “bu-” memberi makna kolektif atau penekanan pada ruang sosial.

Dengan demikian, Buhuta berarti “kampung besar” atau “pusat komunitas” yang menjadi wadah interaksi sosial, adat, dan religius masyarakat Gorontalo.

Baca juga: 32 Bandit Kangkangi Presiden dengan Hanya Rp19,8 Triliun Bancakan Program MBG

Dalam tradisi Gorontalo, Buhuta tidak sekadar menunjuk lokasi fisik, melainkan simbol solidaritas sosial dan pranata budaya.

Ia adalah ruang di mana masyarakat berkumpul untuk melaksanakan ritual adat, musyawarah, hingga kegiatan keagamaan maupun sosial kemasyarakat.

Hakikatnya, Buhuta mencerminkan filosofi(Weltanschauung) Gorontalo:

“Adati hula-hulaa to syara, syara hula-hulaan to Qurani” — adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.

Artinya, Buhuta menjadi titik temu antara adat dan agama, memperlihatkan keterhubungan nilai spiritual dengan kehidupan komunalistik.

Dalam buku Abad Gorontalo(2007) karya sosiolog Dr. Alim S. Niode, Buhuta dipahami sebagai pranata solidaritas yang hidup, bukan sekadar simbolik.

Ia menjadi wadah ekspresi kolektif masyarakat, mulai dari ritual keagamaan hingga perayaan budaya seperti Tumbilotohe, di mana cahaya lampu bukan hanya tanda estetis, melainkan lambang keterhubungan spiritual dan sosial.

Demikian pula, walima, dikili, meraji hingga mongaruwa maupun empat adati utama.

Niode menekankan bahwa budaya Gorontalo bersifat substantif karena hadir dalam praktik keseharian, sehingga Buhuta adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai adat yang berpadu dengan syarak.

Sementara itu, dalam Sejarah Kerajaan Gorontalo(2005) karya sejarawan dan arsipan, Harto Juwono dan Yosephine Hutagalung bersama Wiwiek Sudjiati dan Johannes Burdam, Buhuta dikaitkan dengan struktur kerajaan dan lipu sebagai komunitas adat.

Buku ini menegaskan bahwa Buhuta berfungsi sebagai pusat koordinasi sosial dan politik, tempat di mana nilai Adati hula-hulaa to syara, syara hula-hulaan to Qurani dijalankan secara nyata.

Dengan demikian, Buhuta menjadi titik temu antara sejarah kerajaan, adat, dan agama, memperlihatkan kesinambungan tradisi yang tetap relevan dalam dinamika sosial kemasyarakatan modern.

Hakikat Buhuta dapat diringkas sebagai ruang hidup yang mengikat masyarakat dalam solidaritas, menghubungkan adat dengan syarak, dan menjadi sumber identitas kolektif yang terus hidup di tengah perubahan sosial.

Ia adalah bukti bahwa budaya Gorontalo tidak statis, melainkan dinamis, mampu menyesuaikan diri sambil tetap menjaga akar tradisi.

Perspektif ini sejalan dengan kritik mutakhir dalam Making Organizational Culture Great(2026) karya sosiolog Jennifer A. Chatman dan Glenn R. Carroll, yang menegaskan bahwa budaya adalah alat manajemen keras, bukan sekadar retorika.

Seperti halnya organisasi modern, Buhuta dalam budaya Gorontalo adalah kerangka nilai dan perilaku yang menyatukan komunitas dalam tujuan strategis, menjadikannya sumber keunggulan kolektif yang berkelanjutan.

Makassar, 16 Juni 2026

*Ketua Lamahu Sulut 2026-2031.

#coverlagu:
Lagu daerah Gorontalo Tilolamu Wa’u to Delomo Wololo yang dibawakan kembali oleh Devika Devita dirilis sebagai rekaman digital pada tahun 2023.

Maknanyq adalah ungkapan kesedihan mendalam karena ditinggalkan oleh kekasih, sebuah tema universal yang diolah dengan bahasa Gorontalo penuh metafora emosional.

#credit foto Komunitas Buhuta rapat di ruang
adat super digital dibuat dengan bantuan AI.

Kategori:
Tags:

Terkini