Secangkir Kopi Cak Mus – 09.08.26
–
Ada nasihat yang sangat populer: “Lisan dan tulisan merupakan cerminan kepribadian.” Kalimat ini terdengar masuk akal. Orang yang berbicara santun dianggap memiliki kepribadian santun. Orang yang menulis dengan bahasa yang tertata dianggap memiliki pikiran yang tertata. Sebaliknya, orang yang kasar dalam berbicara atau buruk dalam menulis mudah dicap sebagai pribadi yang buruk.
Baca juga: Keuskupan Agung Merauke Memrakarasai Seminar AI dan Filsafat Pendidikan bagi Para Guru YPPK
Masalahnya bukan pada kalimat tersebut, melainkan pada kesimpulan yang terlalu cepat. Lisan dan tulisan memang dapat menjadi jendela untuk melihat sebagian aspek kepribadian. Namun, menjadikannya sebagai cermin utuh adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Manusia jauh lebih kompleks daripada kata-kata yang keluar dari mulut atau rangkaian kalimat yang muncul di layar.
Seseorang dapat berbicara sangat santun tetapi manipulatif. Seseorang dapat menulis kalimat penuh empati tetapi bersikap egois dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, seseorang dapat berbicara terbata-bata, kasar, atau tidak pandai merangkai kata, tetapi memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dengan kata lain, yang keluar dari mulut dan tulisan seseorang adalah data tentang dirinya, tetapi bukan keseluruhan dirinya.
Bahasa memang mengungkapkan sesuatu tentang manusia. Pilihan kata, gaya bahasa, topik yang sering dibicarakan, serta pola komunikasi tertentu dapat berkaitan dengan karakteristik psikologis.
Misalnya, orang yang sering menggunakan kata ganti orang pertama seperti “saya” atau “aku” dalam konteks tertentu dapat menunjukkan fokus perhatian yang berbeda dibandingkan orang yang lebih sering menggunakan bentuk kolektif seperti “kita”. Namun, makna penggunaan kata tersebut tetap bergantung pada konteks.
Seseorang yang mengatakan, “Saya berhasil menyelesaikan pekerjaan ini.” belum tentu narsistik. Sebaliknya, “Kita berhasil.” juga belum tentu rendah hati.
Kalimat pertama mungkin sekadar laporan faktual. Kalimat kedua mungkin strategi politik untuk memperoleh simpati kelompok.
Di sinilah persoalannya: bahasa memiliki makna, tetapi makna tidak berdiri sendirian. Kita perlu memperhatikan siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam situasi apa, dengan tujuan apa, dan apa yang terjadi setelah kata-kata tersebut diucapkan.
Kesalahan pertama: menganggap bahasa sebagai “cermin”, bukan “jendela” Metafora cermin mengandung asumsi bahwa apa yang tampak di permukaan merepresentasikan keadaan sebenarnya.
Jika seseorang tersenyum, kita menganggap ia bahagia. Jika seseorang berbicara lembut, kita menganggap ia baik. Jika seseorang menulis tentang keadilan, kita menganggap ia adil. Padahal hubungan antara ekspresi dan keadaan batin tidak sesederhana itu.
Dalam ilmu psikologi, manusia dikenal memiliki kemampuan melakukan impression management, yaitu mengelola kesan yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Erving Goffman menjelaskan kehidupan sosial sebagai ruang tempat manusia menampilkan dirinya dengan cara tertentu sesuai dengan situasi sosial.
Seorang pejabat dapat berbicara tentang kesederhanaan sambil hidup sangat mewah. Seorang pemimpin dapat berbicara tentang keadilan sambil memperlakukan bawahannya secara tidak adil. Seorang pendidik dapat berbicara tentang pentingnya kejujuran tetapi melakukan manipulasi administratif.
Apakah kata-kata mereka otomatis menjadi cermin kepribadian? Tidak.
Kata-kata tersebut justru mungkin merupakan alat untuk membangun citra. Di sinilah kita harus membedakan antara ekspresi diri dan presentasi diri.
Ekspresi diri berusaha menyampaikan sesuatu tentang diri. Presentasi diri berusaha membuat orang lain melihat diri dengan cara tertentu. Keduanya dapat terlihat sama dari luar.
Kesalahan kedua: mengira ucapan baik pasti menunjukkan orang baik. Ini merupakan bentuk fundamental attribution error yang sering muncul dalam kehidupan sosial.
Konsep yang dikembangkan dalam psikologi sosial tersebut menunjukkan kecenderungan manusia untuk terlalu menekankan faktor internal ketika menjelaskan perilaku orang lain, sementara faktor situasional sering kurang diperhitungkan.
Seseorang berkata kasar. Kita segera berpikir, “Dia memang orang kasar.”
Padahal mungkin ia sedang berada dalam tekanan, menghadapi provokasi, mengalami konflik, atau berada dalam kondisi emosional tertentu. Sebaliknya, seseorang berbicara sangat sopan. Kita segera berpikir, “Dia orang baik.”
Padahal bisa saja ia sedang berada dalam situasi yang membuat kesopanan menjadi strategi. Seorang tenaga penjual berbicara sangat ramah kepada calon pembeli. Keramahan tersebut mungkin tulus, tetapi mungkin juga merupakan bagian dari tuntutan pekerjaannya.
Seorang politisi menyampaikan pidato penuh empati. Apakah pidato itu membuktikan bahwa ia benar-benar memiliki empati? Belum tentu.
Kesalahan ketiga: menyamakan kemampuan berbahasa dengan kualitas moral. Masyarakat sering memberikan penghargaan moral kepada orang yang pandai berbicara. Orang yang mampu menyusun argumen dengan baik dianggap pintar. Orang yang menggunakan kosakata akademik dianggap berwawasan. Orang yang berbicara lembut dianggap berakhlak. Orang yang menulis dengan indah dianggap memiliki kedalaman berpikir.
Padahal kemampuan retorika dan kualitas moral adalah dua hal berbeda. Retorika adalah kemampuan menggunakan bahasa secara efektif. Moralitas berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dan mengambil keputusan berdasarkan prinsip etis.
Seorang propagandis dapat sangat pandai berbicara. Seorang penipu dapat sangat meyakinkan. Seorang manipulatif dapat memahami psikologi manusia dengan baik. Bahkan orang yang melakukan kejahatan serius dapat memiliki kemampuan komunikasi yang sangat tinggi. Artinya, bahasa adalah instrumen.
Kata ahli hikmah, “Jangan menilai seseorang hanya dari kata-katanya. Kata-kata menunjukkan apa yang ingin ia katakan; kebiasaan menunjukkan siapa dirinya.”





