Menjelma Ingatan
Pernah suatu musim
ketika namamu menjadi ombak
Baca juga: Amor Fati, Fatum, dan Pengharapan di Seberang Kepergian
dan hatiku dipenuhi badai
kita adalah gelora
kerinduan yang tak usai
Baca juga: Antara Pusat Kesenian dan Ruang Kebudayaan: Perdebatan Makna dan Fungsi Taman Ismail Marzuki
Percakapan kita di setiap
senja, menjadi muara
seperti mata air, kata-kata
menemukan jalannya
dan secangkir kopi sore hari
memberi isyarat bibirmu
yang dahaga
Akulah pengembara
kutemukan rumah di bola matamu
bersamamu diam-diam
keberanianku tumbuh
seperti anak burung yang belajar
mengepak, hinggap di dadamu
Kutuliskan puisi
agar dapat kusimpan
cahaya di wajahmu
pelangi di matamu
warna warni tawamu
dan aroma nafas yang hangat
kau tinggalkan di dahan kayu putih,
abadi
Cerita tentangmu adalah
bait paling utuh dalam hidupku
namamu jadi puisi paling syahdu
kubiarkan waktu menuntun
langkahku menujumu
Dan,
pada suatu ketika
ingatan menjelma kenangan
sebagai alasan aku datang
meski musim telah selesai
kepadamu aku ingin pulang
Nuyang Jaimee
Jatiasih, 20.07.26/23.08

Tentang Penulis:
Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.





