Oleh : Era Nurza
–
1. Paru-Paru yang Dibakar
Kabut turun bukan lagi embun
tapi asap yang kau beri nama pembangunan
Pagi tak lagi bening
ia batuk, sesak, dan hitam di tenggorokan
Pohon-pohon berdiri seperti jenazah
daunnya abu, akarnya doa yang tak sampai
Burung lupa cara pulang
karena langitnya sudah kau jual
Kau tebang untuk meja makanmu
kau bakar untuk perluas tamakmu
lalu kau tulis di spanduk: jaga alam
dengan tangan yang masih berlumur arang
Baca juga: Perempuan Papua Bicara, UGM dan Kementerian Transmigrasi Petakan Jalan Menuju Kemandirian Ekonomi
Alam tidak butuh puisimu
alam butuh kau berhenti
Padang,September 2026
2. Ketika Gunung Menahan Napas
Gunung tidak lagi biru
ia kelabu, dibekap kabut dan jelaga
Sungai tidak lagi mengalir
ia merayap, membawa racun dan plastik
Kau sebut itu kabut musim
padahal itu asap dari keserakahanmu sendiri
Kau sebut itu cuaca buruk
padahal itu alam yang sedang mengutuk
Jangan tunggu hutan berlutut
jangan tunggu tanah benar-benar mati
Sekali ia diam, ia tak akan kembali
Jaga alam
sebelum alam tak lagi mau menjagamu
Padang, September 2026
3. Doa Pohon di Dalam Asap
Aku masih di sini
dalam kabut yang bukan lagi kabut
Daunku kau catat sebagai oksigen
tapi kau hisap lebih rakus dari api
Aku tak minta dipuja
hanya jangan dibakar diam-diam
Aku tak minta disembah
hanya beri aku hujan yang bersih
bukan hujan yang membawa abu namamu
Padang, September 2026
4. Langit Sudah Muak
Sudah kuberi biru, kau balas jelaga
Sudah kuberi hujan, kau balas limbah
Sudah kuberi napas, kau balas knalpot dan cerobong
Kau pikir kabut ini romantis?
Ini kafanku
Kau pikir asap ini estetika?
Ini sumpahku
Teruslah tebang
sampai oksigen tinggal di museum
sampai anakmu menghirup debu
dan menyebutnya udara.
Padang, September 2026
–

Tentang Penulis
Edrawati, M.Pd., yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah penulis, penyair, dan sosok guru inspiratif yang percaya bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, tetapi membentuk karakter dan menyalakan semangat belajar. Ia membimbing murid-muridnya untuk berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya. Hingga kini, ia telah melahirkan buku tunggal dan lebih dari 50 antologi, karyanya fiksi maupun nonfiksi. Aktif di berbagai komunitas literasi nasionl dan internasional. Era Nurza terus menebarkan cahaya literasi dan motivasi agar generasi muda mencintai ilmu dan menulis dengan hati.


