Senin, 21 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

“Dari Sowek, Menyeberangi Dunia, Kembali Mengabdi: Mengenang Prof. Oskar Wambrauw”

Laporan Paulus Laratmase

Jayapura, Suara Anak Negeri — Kepergian Prof. Dr. Oskar Oswald Octavianus Wambrauw, S.E., M.S., Agrarwissenschaft, Rektor Universitas Cenderawasih, tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga besar yang berduka. Kepergiannya juga meninggalkan ruang kehilangan bagi sahabat, mahasiswa, sivitas akademika, serta masyarakat Tanah Papua yang mengenal perjalanan hidup dan pengabdiannya.

Baca juga: RADIO

Dalam suasana penuh haru, Dr. Ferdinan Risamasu, S.E., M.Ec.Agr., menyampaikan pesan perpisahan mewakili sahabat-sahabat dekat almarhum.

Ferdinan mengawali sambutannya dengan pengakuan yang sederhana tetapi penuh makna. Ia mengatakan dirinya merasa berat untuk berdiri di hadapan keluarga dan seluruh hadirin untuk menyampaikan kata-kata perpisahan bagi seorang sahabat.

“Saya rasanya tidak mau untuk berdiri di sini. Saya rasanya tidak sanggup menerima sebuah kenyataan bahwa hari ini saya harus berdiri untuk menyampaikan kata perpisahan dari seorang sahabat, seorang teman,” tutur Ferdinan dalam suasana haru.

Baca juga: BENGKEL KURASI DAN PENULISAN KREATIF: MENELUSUR JEJAK KOSMIS MITOLOGI TAMAN BUMI IJEN DI BONDOWOSO

Ia menyadari bahwa dirinya tidak mungkin mewakili seluruh sahabat Prof. Oskar. Sebab, menurutnya, almarhum memiliki begitu banyak sahabat dan teman.

“Almarhum mempunyai sahabat yang banyak. Almarhum mempunyai teman yang banyak sekali. Almarhum dicintai oleh semua orang,” katanya.

Bagi Ferdinan, Prof. Oskar merupakan sosok yang ketika mengerjakan sesuatu selalu berusaha melakukannya dengan baik.

Karena itu, ketika harus menyampaikan kata-kata terakhir untuk sahabatnya, Ferdinan mengaku kesulitan menentukan dari mana kisah itu  harus dimulai.

Mengenang 17 September 2026

Tanggal 17 September menjadi salah satu tanggal yang sulit dilupakan oleh keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengenal Prof. Oskar.

Pada hari itu, mereka harus menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka telah pergi untuk selamanya.

Di tengah suasana duka, Ferdinan kemudian membuka grup WhatsApp alumni Asrama Sakura.

Di dalam grup itu ia menemukan sebuah tulisan yang menurutnya sangat indah untuk menggambarkan perjalanan kehidupan Prof. Oskar.

Tulisan itu berbentuk sebuah elegi dengan judul:

“Sang Kamasan Sowek: Elegi untuk Profesor Doktor Oskar Oswald Octavianus Wambrauw, Sarjana Ekonomi, Magister Sains, Agrarwissenschaft, Rektor Universitas Cenderawasih.”

Ferdinan kemudian meminta izin kepada penulisnya untuk membacakan tulisan itu di hadapan keluarga dan seluruh pelayat.

Sowek, Laut, dan Awal Sebuah Perjalanan

Elegi itu membawa pembaca kembali ke Sowek, kampung halaman Prof. Oskar.

Sowek digambarkan sebagai negeri yang berdiri di atas laut. Laut bukan saja sebuah bentang alam, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat.

Di sana terdapat rumah-rumah yang bersentuhan dengan laut, ikan-ikan yang hidup di bawah rumah, serta samudra yang menjadi halaman kehidupan.

Dalam gambarannya, Albert Rumbekwan menggambarkan Sowek sebagai tempat kelahiran. Sowek adalah ruang pertama tempat seorang anak belajar tentang kehidupan.

Salah satu simbol yang digunakan dalam elegi itu adalah “Kamasan,” besi yang dibakar dalam bara, dipukul, ditempa, dan diasah hingga menjadi parang yang berguna bagi kehidupan.

“Kamasan” dalam bahasa Biyak (baca: Biak)  menjadi metafora bagaimana kehidupan menempa seseorang.

Seperti besi yang harus melewati panas dan pukulan sebelum menjadi sesuatu yang berguna, demikian pula seorang manusia harus melewati proses panjang untuk menjadi pribadi yang kuat.

Hidup tidak dibentuk oleh kemudahan, tetapi oleh ketekunan, kesabaran, dan pengabdian.

Dari Kampung ke Asrama Sakura

Perjalanan Prof. Oskar kemudian membawa dirinya meninggalkan Sowek.

Layar “Waimansusu” terkembang. “Angin Wambrau” berhembus kencang.

Perahu meninggalkan kampung halaman dengan membawa doa seorang ibu dan harapan sebuah keluarga serta masyarakat.

Perjalanan itu akhirnya sampai di Jayapura.

Di kota inilah Oskar muda menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan tinggal di Asrama Sakura Universitas Cenderawasih.

Jauh dari keluarga, ia mulai membangun kehidupannya melalui pendidikan.

Buku menjadi sahabat.

Diskusi menjadi ruang pembentukan pikiran.

Tugas dan ujian menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Di lingkungan Asrama Sakura pula, ia bertemu dengan anak-anak Papua dari berbagai daerah dan latar belakang.

Persahabatan yang dibangun sejak masa muda itu kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Ilmu Membawa Pulang Pengabdian

Perjalanan pendidikan Prof. Oskar tidak berhenti di Jayapura.

Ia melanjutkan perjalanan akademiknya ke Bogor, kemudian menuju Jerman.

Di sana ia mendalami ilmu agribisnis dan ekonomi.

Ilmu bukan hanya tentang angka, pasar, atau aktivitas ekonomi.

Dalam refleksi yang disampaikan Ferdinan, ilmu itu berkaitan dengan bagaimana membangun kekuatan bersama dan menciptakan kesejahteraan bagi orang banyak.

Setelah menyelesaikan perjalanan pendidikannya, Oskar kembali ke Tanah Papua.

Ia memilih untuk mengabdikan ilmu dan pengetahuannya sebagai seorang pendidik dan akademisi.

Dari ruang-ruang pendidikan tinggi, ia ikut membentuk generasi muda Papua.

Dari seorang anak Sowek, ia kemudian tumbuh menjadi seorang akademisi dan pemimpin Universitas Cenderawasih.

Rektor dan Anak Negeri

Bagi keluarga besar Universitas Cenderawasih, Prof. Oskar bukan hanya seorang rektor.

Ia adalah bagian dari perjalanan panjang lembaga pendidikan tinggi yang menjadi salah satu pusat pengembangan sumber daya manusia di Tanah Papua.

Kepemimpinannya berada dalam sebuah tradisi panjang pengabdian akademik: mendidik, membangun ilmu pengetahuan, dan menyiapkan generasi penerus.

Karena itu, kepergiannya meninggalkan duka yang dirasakan tidak hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh lingkungan perguruan tinggi.

Para mahasiswa yang hadir dalam suasana duka menjadi bagian dari kesaksian bahwa perjalanan seorang akademisi pada akhirnya akan dilanjutkan oleh generasi yang pernah ia didik.

Pesan yang Tinggal

Dari kisah kehidupan Prof. Oskar, Ferdinan menyampaikan sebuah pesan yang lebih luas.

Bahwa asal-usul seseorang tidak pernah menjadi penghalang bagi sebuah perjalanan panjang.

Seorang anak dari kampung di atas laut dapat meninggalkan kampungnya untuk menuntut ilmu, menyeberangi wilayah dan bahkan negara, kemudian kembali membawa ilmu  untuk tanah kelahirannya.

Perjalanan itu memperlihatkan hubungan yang kuat antara kampung, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pengabdian.

Sowek memberikan akar.

Jayapura memberikan ruang pendidikan.

Bogor dan Jerman memperluas cakrawala ilmu.

Dan Tanah Papua menjadi tempat pengabdian.

Warisan yang Tidak Berakhir

Kematian mengakhiri perjalanan kehidupan seseorang, tetapi tidak selalu mengakhiri pengaruh dan nilai yang telah ditinggalkannya.

Demikian pula dengan Prof. Oskar.

Ia telah pergi, tetapi kisah perjuangannya masih dapat diceritakan kepada generasi berikutnya.

Kisah seorang anak kampung yang ditempa kehidupan.

Kisah seorang mahasiswa yang tumbuh melalui pendidikan.

Kisah seorang akademisi yang memperluas pengetahuan.

Dan kisah seorang anak negeri yang kembali untuk mengabdi.

Karena itu, mengenang Prof. Oskar tidak harus selalu dalam tangis.

Ia dapat dikenang melalui kerja baik, ilmu pengetahuan, persahabatan, pendidikan, dan pengabdian.

“Sangkamasan Sowek” menjadi sebuah elegi tentang perjalanan pulang seorang anak negeri: dari laut tempat ia dilahirkan, menuju dunia tempat ia menimba ilmu, lalu kembali ke tanah yang menjadi rumah pengabdiannya.

Prof. Oskar telah menyelesaikan perjalanannya.

Kini, cerita tentang perjuangan dan pengabdiannya menjadi bagian dari ingatan keluarga, sahabat, Universitas Cenderawasih, dan Tanah Papua.

Selamat jalan, Prof. Oskar Wambrauw.

Dari Sowek engkau berangkat membawa doa.

Dari dunia engkau pulang membawa ilmu.

Dan kepada Tanah Papua engkau meninggalkan pengabdian.

Jejakmu tinggal dalam ilmu, persahabatan, dan generasi yang pernah engkau layani.

Kategori:
Tags:

Terkini