Penulis: Yohanis Rumaropen
–
BIAK NUMFOR – PAPUA | SUARA ANAK NEGERI, 3 Juni 2026 — Dalam upaya memperkuat arsitektur ketangguhan bencana di wilayah timur Indonesia, Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra.,S.H., M.M., secara resmi membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Se-Provinsi Papua Tahun 2026. Kegiatan strategis yang diselenggarakan di Ballroom Swiss-Belhotel Cendrawasih Biak ini berlangsung pada Rabu (3/6/2026), dengan Bupati Mansnembra bertindak selaku perwakilan Gubernur Papua, Komjen Pol (Purn) Matius D. Fakhiri.
Mengusung tema besar “Papua Tangguh, Papua Cerah” dengan sub-tema “Bersatu Dalam Siaga Tangguh Menghadapi Bencana”, forum dua hari ini menjadi wadah konsolidasi kebijakan bagi sekitar 200 peserta. Kehadiran mereka mencakup perwakilan BPBD dari berbagai kabupaten/kota, termasuk Jayapura, Keerom, Mamberamo Raya, Waropen, Kepulauan Yapen, Supiori, dan tuan rumah Biak Numfor, baik melalui mekanisme tatap muka maupun daring.
Urgensi Transformasi Paradigma: Dari Responsif ke Preventif-Mitigatif
Dalam sambutan Gubernur Provinsi Papua yang dibacakannya Bupati Biak Numfor menegaskan perlunya transformasi paradigma dalam tata kelola kebencanaan di Papua. Pendekatan yang semula bersifat reaktif-responsif (reactive-response) pasca-kejadian, harus bertransisi menuju model yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis pencegahan (prevention), mitigasi, serta kesiapsiagaan (preparedness).
Baca juga: UNIPAR HADIR LEBIH DEKAT DI SITUBONDO, BANGUN SEMANGAT GENERASI MUDA MELANJUTKAN KULIAH
“Urusan kebencanaan adalah tanggung jawab bersama. Diperlukan kolaborasi erat dalam semangat pentahelix yang melibatkan pemerintah, TNI/Polri, dunia usaha, akademisi, media massa, hingga masyarakat adat,” tegas Bupati saat menyampaikan pesan strategis Gubernur.
Penekanan ini sangat krusial mengingat kondisi geografis Papua yang luas, kompleks, dan memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor) maupun geologi (gempa bumi). Dengan mengadopsi pendekatan holistik, risiko korban jiwa dan kerugian materiil dapat diminimalisir secara signifikan.
Ketangguhan Bencana sebagai Fondasi “Papua Cerah”
Lebih lanjut, Bupati menjelaskan bahwa penguatan ketangguhan bencana (disaster resilience) merupakan pondasi utama untuk mewujudkan visi “Papua Cerah” yang bermakna Cerdas, Sejahtera, dan Harmoni. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, masyarakat yang terlindungi dari ancaman bencana akan menjamin keberlangsungan sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan stabilitas ekonomi daerah. Tanpa keamanan dari ancaman alam, capaian pembangunan lainnya rentan mengalami kemunduran drastis akibat guncangan eksternal.
Sinergi Kelembagaan dan Rekomendasi Strategis
Rakorda ini juga menghadirkan narasumber berkompetensi tinggi, termasuk perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Dr. Sesa Wiguna dan Bintang Bhagaskara, serta Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Jayapura, John H. Mampioper.
Melalui forum diskusi teknis dan plenaria, diharapkan lahir rekomendasi konkret dan penyamaan persepsi (shared mental models) antar-lembaga. Tujuannya adalah membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih adaptif, responsif, dan kontekstual terhadap karakteristik sosio-kultural masing-masing daerah di Tanah Papua.





