Sabtu, 15 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

JALAN PANJANG DUNIA KESENIAN DIDING BONENG

Putri Miranda | Penulis 

Teater, Film, Komedi & Sebuah Pengabdian

Baca juga: Jelang HUT RI ke-81, Bhabinkamtibmas Abat Ajak Warga Kibarkan Merah Putih

Perjalanan kesenian Diding Boneng merupakan bagian dari perjalanan panjang seni peran Indonesia. Ia dikenal luas sebagai aktor film dan televisi, terutama melalui karakter-karakter komedi. Sejak 1973, ia telah menjalani proses keaktoran melalui panggung dan kelompok teater. Karena itu, perjalanan kariernya tidak dapat hanya dilihat dari filmografi, tetapi juga dari aktivitasnya sebagai aktor panggung, sutradara, pembina kelompok, dan guru teater.

Diding Boneng merupakan nama panggung Zainal Abidin. Ia lahir di Jakarta pada 3 Maret 1950. Ia mulai aktif berteater sejak 1973 dan terlibat dalam berbagai kegiatan serta festival teater. Dalam perjalanan berikutnya, ia tidak hanya bermain, tetapi juga membina kelompok dan terlibat dalam proses pendidikan teater, khususnya di wilayah Jakarta Timur.

Periode awal tersebut menjadi fondasi penting dalam pembentukan dirinya sebagai aktor. Teater memberinya pengalaman mengenai disiplin latihan, pengolahan tubuh dan suara, pembangunan karakter, kerja kelompok, serta hubungan antara aktor dan penonton. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia memasuki dunia film dan televisi.

Baca juga: Polsek Selaru Gelar Bakti Sosial, Bersihkan Lingkungan Desa Adaut

Memasuki Dunia Film dan Televisi
Diding Boneng mulai memasuki dunia film melalui Tiga Dara Mencari Cinta pada 1980. Setelah itu, ia memperoleh kesempatan tampil dalam sejumlah produksi film dan televisi. Salah satu titik penting dalam kariernya adalah keterlibatannya dalam serial televisi Rumah Masa Depan. Dalam serial tersebut ia memainkan karakter bernama Boneng. Nama karakter itu kemudian melekat kuat dan menjadi nama panggung yang dikenal masyarakat.

Popularitas Diding semakin berkembang ketika ia tampil dalam berbagai film komedi. Ia tercatat bermain dalam sejumlah film pada akhir 1980-an hingga 1990-an, antara lain Godain Kita Dong, Lupa Aturan Main, Mana Bisa Tahan, Bebas Aturan Main, Bisa Naik Bisa Turun, Sudah Pasti Tahan, Masuk Kena Keluar Kena, Bagi-Bagi Dong, dan Pencet Sana Pencet Sini. Ia juga terlibat dalam sejumlah film lain seperti Siapa Menabur Benci Akan Menuai Bencana, Kanan Kiri OK, Gonta Ganti, Antri Dong!, dan Ini Rindu.

Keterlibatannya dalam film-film komedi membuat Diding Boneng dikenal luas oleh penonton Indonesia. Kemampuan ekspresi, timing, karakter fisik, dan penguasaan permainan komedi menjadi bagian dari kekuatan keaktorannya. Namun, menyebutnya hanya sebagai aktor komedi tidak cukup menggambarkan perjalanan keseniannya. Komedi merupakan salah satu wilayah permainan yang ia jalani, sementara dasar keaktorannya tetap terbentuk dari pengalaman panjang di teater.

Dalam sebuah wawancara pada 2025, Diding menyatakan bahwa dirinya tidak pernah bercita-cita menjadi bintang film. Ia berteater sejak 1973 dan justru dari dunia teater itulah ia kemudian memperoleh kesempatan memasuki perfilman. Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana ia memandang film sebagai bagian dari perjalanan, bukan pengganti teater.

Popularitas Film dan Identitas Teater

Bagi Diding, teater memiliki posisi khusus dalam kehidupannya. Setelah memperoleh popularitas melalui film dan televisi, ia tidak meninggalkan panggung. Ia tetap terlibat dalam latihan, pertunjukan, pembinaan kelompok, dan pendidikan teater.
Pilihan tersebut penting karena tidak semua aktor yang memperoleh popularitas melalui film tetap aktif di panggung. Industri film dan televisi menawarkan jangkauan penonton yang lebih besar, sedangkan teater membutuhkan proses latihan yang panjang dengan hasil ekonomi yang sering kali terbatas. Diding tetap mempertahankan hubungan dengan teater karena di sanalah ia membangun dasar keaktorannya.

Dalam wawancara pada 2025, ia menyebut dirinya sebagai orang teater. Ia juga melihat teater sebagai proses yang dapat memanusiakan manusia. Pandangan tersebut sejalan dengan aktivitasnya pada masa berikutnya ketika ia lebih banyak mencurahkan pengalaman kepada generasi muda melalui proses pendidikan dan pembinaan.

Pada 2024, Diding diberitakan masih aktif mengajar teater di sejumlah komunitas di wilayah Jabodetabek. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kariernya berkembang dari seorang aktor menjadi seorang pendidik. Pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun kemudian digunakan untuk membentuk aktor-aktor baru.

Bagi seorang guru teater, keberhasilan tidak hanya dapat dilihat dari jumlah pertunjukan yang pernah dimainkan. Pengaruhnya juga terlihat melalui murid-murid yang kemudian melanjutkan proses berkesenian. Banyak pengetahuan dalam teater memang tidak selalu masuk dalam arsip atau filmografi. Pengetahuan tersebut berpindah melalui latihan, koreksi, percakapan, dan pengalaman langsung.

Kembali kepada Perfilman Generasi Baru
Perjalanan Diding Boneng juga berlanjut pada perfilman Indonesia generasi baru. Ia kembali tampil dalam sejumlah produksi film setelah melewati periode panjang dalam kariernya. Di antaranya adalah KKN di Desa Penari, KKN di Desa Penari: Uncut, The Torture: Beranak dalam Kubur, dan Badarawuhi di Desa Penari. Dalam KKN di Desa Penari dan Badarawuhi di Desa Penari, ia memainkan karakter Mbah Buyut.

Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa pengalaman seorang aktor tidak berhenti ketika sebuah generasi industri berakhir. Diding dapat diterima kembali dalam produksi film yang ditonton generasi berbeda karena kemampuan dan pengalaman keaktorannya tetap relevan.

Kariernya dengan demikian membentang lintas generasi. Ia memulai proses teater pada 1970-an, memasuki televisi dan film pada 1980-an, dikenal luas melalui film-film komedi pada 1980-an dan 1990-an, kemudian tetap aktif dalam teater dan pendidikan, serta kembali tampil dalam film-film yang dikenal oleh penonton generasi baru.

Diding Boneng dan Warisan Keaktoran

Jika perjalanan Diding Boneng hanya dihitung melalui judul film, sebagian penting dari jejak keseniannya akan hilang. Filmografi memang menunjukkan karya yang pernah ia ikuti, tetapi tidak mencatat seluruh aktivitasnya di ruang latihan, komunitas, festival, pendidikan, dan pembinaan aktor.

Pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari warisannya. Ia pernah berada dalam posisi sebagai pemain, kemudian sutradara, pembina, dan guru. Perubahan posisi tersebut menunjukkan perkembangan seorang seniman yang tidak berhenti pada pencapaian personal.

Dalam pengalaman personal murid-muridnya, termasuk mereka yang pernah berproses bersamanya di Jakarta Timur, Diding dikenal sebagai sosok yang tegas dalam latihan. Ia menuntut pemain untuk serius, disiplin, dan fokus. Ketegasan tersebut merupakan bagian dari cara pendidikan teater yang menempatkan proses sebagai dasar keaktoran. Di luar latihan, ia sebagai pribadi yang terbuka untuk hangat, berdiskusi dan suka bercanda.

Perjalanan Diding Boneng memperlihatkan bahwa karier seorang aktor tidak harus berhenti pada popularitas. Ia dapat berkembang menjadi proses pendidikan dan regenerasi. Setelah melewati pengalaman panjang sebagai pemain, seorang seniman memiliki pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, posisi Diding Boneng dalam sejarah seni peran Indonesia tidak hanya terletak pada film-film yang pernah dibintanginya. Ia juga merupakan bagian dari tradisi teater yang membentuk banyak pekerja seni melalui proses latihan dan pembinaan.

Jejak tersebut penting dicatat karena sejarah seni tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang berada di depan kamera melainkan juga oleh mereka yang bekerja di ruang latihan, membentuk kelompok, mendidik pemain, dan menjaga keberlanjutan komunitas.

Diding Boneng telah melewati lebih dari lima dekade dalam dunia seni peran. Ia datang dari teater, memperoleh pengakuan melalui film dan televisi, dikenal melalui komedi, kemudian tetap kembali kepada teater dan pendidikan. Perjalanan itu memperlihatkan konsistensi seorang seniman dalam mempertahankan akar keseniannya di tengah perubahan industri.

Warisan seorang aktor pada akhirnya tidak hanya berupa daftar karya. Ia juga berupa pengetahuan, pengalaman, metode, dan manusia-manusia yang pernah belajar kepadanya. Dalam konteks itulah perjalanan Diding Boneng layak dicatat sebagai bagian dari sejarah teater dan perfilman Indonesia.

 

 

Tentang Penulis:

Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.

 

Kategori:
Tags:

Terkini