Sabtu, 04 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KITAB ANGIN DI NEGERI LANGIT BIRU

Oleh: Rizal Tanjung

I.

Baca juga: KEMBANG MELATI

Di negeri ketika pegunungan
mengangkat bahunya
hingga menyentuh bibir langit,
tak ada siapa pun
yang menghitung
berapa hati
yang gugur
setiap matahari tenggelam.

Padang-padang rumput
tetap menghampar
seperti permadani hijau
yang dijahit
oleh embun pertama.

Angin terus berkelana
membawa aroma susu kuda,
wangi tanah,
dan doa-doa
para pengembara.

Baca juga: IGNATIUS, RUMI DAN PAUL TILLICH

Hanya manusia
yang diam-diam
menyimpan musim dingin
di balik senyumnya.

Dan aku,
adalah salah satunya.

II.

Aku bertemu denganmu
bukan karena bintang
menuliskan nama kita.

Barangkali
hanya seekor elang
yang sedang terbang rendah,
atau angin stepa
yang kehilangan arah,
lalu mempertemukan
dua jiwa
di antara lereng-lereng
yang telah berusia
ribuan musim.

Sejak itu,
langit Mongolia
tak lagi sekadar biru.

Ia menjadi wajahmu
yang selalu kupandang
setiap fajar.

III.

Engkau datang
membawa mata
sejernih Danau Khövsgöl,
dan senyum
selembut salju
yang turun
di atas puncak Altai.

Aku melihat dunia
berubah perlahan.

Rumput-rumput
tak lagi sekadar rumput.

Mereka adalah surat-surat
yang ditulis bumi
untuk langit.

Dan setiap helainya
mengeja namamu.

IV.

Cinta rupanya
tidak lahir
di istana-istana megah.

Ia lahir
di dalam kemah
yang diterangi
api kecil.

Ketika malam
begitu panjang,
dan angin
memainkan lagu purba
di sela-sela dinding kain.

Di sanalah
dua insan
belajar bahwa
kehangatan
tidak berasal
dari api.

Melainkan
dari saling menjaga.

V.

Pegunungan Mongolia
mengajariku
bahwa cinta
harus seteguh batu.

Karena salju
akan selalu datang.

Badai
akan selalu menguji.

Namun gunung
tak pernah meninggalkan
langit.

Meski keduanya
tak pernah benar-benar
bersentuhan.

Begitulah kita.

Dekat
karena percaya.

VI.

Sering kali
aku melihatmu
berlari bersama kuda-kuda liar.

Rambutmu
diterbangkan angin.

Gaunmu
menjadi sungai
yang mengalir
di atas padang hijau.

Saat itu
aku sadar,

bahwa cinta
bukanlah sangkar.

Ia adalah padang luas,
tempat dua burung
bebas terbang
namun selalu
menemukan jalan pulang
ke langit yang sama.

VII.

Kadang
musim dingin
datang terlalu cepat.

Bunga-bunga
membeku.

Sungai
berhenti bernyanyi.

Namun genggamanmu
tetap hangat.

Seolah
seluruh matahari
bersembunyi
di dalam telapak tanganmu.

Dan aku tahu,

tak ada musim
yang mampu
membekukan
cinta
yang terus
belajar menghangatkan.

VIII.

Malam-malam
di negeri stepa
adalah kitab
yang dibuka
oleh jutaan bintang.

Kami membacanya
tanpa suara.

Sebab cinta
tak membutuhkan
banyak kata.

Ia hanya memerlukan
dua hati
yang sama-sama bersedia
menjadi rumah.

IX.

Serigala melolong
di kejauhan.

Elang
mengitari langit.

Kuda-kuda
berlari
mengikuti angin.

Dan kita
duduk berdua
di bawah bulan,

seolah seluruh alam
sedang menyaksikan
dua manusia
yang saling mencintai
tanpa perlu
menguasai.

X.

Aku belajar
dari pegunungan.

Semakin tinggi
ia menjulang,

semakin dalam
akar batunya.

Begitulah cinta.

Semakin besar
ia tumbuh,

semakin rendah hati
ia menjadi.

Karena cinta
yang angkuh

akan runtuh
oleh badai pertama.

XI.

Jika suatu hari
engkau harus pergi
mengikuti musim,

aku takkan
menyalahkan angin.

Bukankah burung
pun berpindah
ketika langit
mengubah warna?

Aku hanya akan
menitipkan namamu
kepada pegunungan,

agar setiap gema
tetap mengenang
bahwa pernah ada
dua insan
yang saling mencintai
setulus salju
yang jatuh
tanpa suara.

XII.

Waktu
adalah penggembala tua.

Ia membawa
setiap hari
ke padang
yang berbeda.

Namun cintaku
tetap mengenalmu,

sebagaimana
kuda mengenali
langkah tuannya,

meski ribuan jejak
menghapus
bekas perjalanan.

XIII.

Barangkali
hidup hanyalah
perjalanan
dari satu lembah
menuju lembah lain.

Tetapi bersamamu,

setiap tanjakan
menjadi nyanyian.

Setiap batu
menjadi tempat
menumbuhkan harapan.

Setiap luka
menjadi mata air
yang mengajarkan
arti kesabaran.

XIV.

Dan apabila
suatu hari nanti
usia menjadikan rambut kita
seputih salju Mongolia,

aku ingin
tetap duduk
di sampingmu.

Memandang
elang-elang
yang pulang
ke sarangnya,

sementara matahari
perlahan tenggelam
di balik pegunungan.

Tanpa banyak kata.

Karena cinta
yang telah dewasa
tak lagi pandai
berjanji.

Ia hanya pandai
menetap.

XV.

Jika langit
tetap membentang
tanpa akhir,

biarlah.

Jika angin
tetap mengembara,

biarlah.

Karena aku telah memilih
menjadi pengelana
di dalam cintamu.

Menjadi rumput
yang setia
menunggu embun.

Menjadi batu
yang tabah
menahan musim.

Menjadi sungai
yang tak pernah lelah
mengalir
menuju laut keabadian.

Dan selama
Pegunungan Altai
masih berdiri
memeluk langit Mongolia,

selama elang
masih mengajarkan
kebebasan,

selama padang stepa
masih menyimpan
jejak kaki
kuda-kuda pengembara,

selama itu pula
cinta
akan selalu menemukan
jalan pulang,

bukan kepada kepemilikan,

melainkan
kepada dua jiwa
yang saling memilih
menjadi langit
bagi bumi yang dicintainya,
dan menjadi rumah
bagi hati
yang tak pernah berhenti
percaya kepada kehidupan.

Sumatera Barat, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini