Selasa, 04 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

CODOT KATHOKAN: KRITIK SOSIAL YAI AZIZ KHOIRI YANG JUJUR DAN KONSISTEN

*(Oleh: Muslimin –  Cak Mus

Membincang atau menulis seorang tokoh besar tidak semudah yang dibayangkan. Dari sisi mana menguliknya, terasa sulit menuliskan. Dengan kapasitas keilmuan dan aktivitas keumatan yang padat, Yai Abdul Aziz Khoiri patut menjadi panutan ketokohan. Baiklah, tulisan ini merupakan catatan kecil dari seorang santri yang mengagumi ulama besar. Pasti banyak kekurangan, itu menjadi tanggung jawab saya menerima kritik dan perbaikan.

K.H. Abdul Aziz Khoiri adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma’ruf Lamongan, beliau wafat pada Jumat, 26 Juni 2026. Kepergian yang membawa duka kehilangan yang dalam, khususnya bagi warga Lamongan. Kiyai sepuh yang setia menuntun umat, mencerahkan peradaban, dan memberdayakan warga. Kejujuran dan konsisten beliau menjadi himpunan kenangan yang sulit terlupakan.

Baca juga: KETIKA DOKUMEN ADAT DIJADIKAN ALAT KEKUASAAN: MENIMBANG KEMBALI "SUMPAH TRISAKTI" DALAM PERSPEKTIF KONSTITUSI DAN NEGARA HUKUM

K.H. Abdul Aziz Khoiri lahir di Desa Tanggul Pringgil, Kabupaten Lamongan tahun 1941. Di samping sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ma’ruf 1 Kranggan, Lamongan, beliau juga Ketua MUI Kabupaten Lamongan 3 Periode, dan Ketua Ta’mir Masjid Agung Lamongan. Semua jabatan dijalankan dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Jabatan-jabatan itu bukan sekadar stempel identitas, melainkan kesungguhan demi umat Islam berbasis keikhlasan.

Beliau ulama besar Lamongan yang dikenal aktif di bidang pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat sejak tahun 1970-an hingga akhir hayatnya.

Semasa muda aktif di GP Ansor bidang penerangan, pernah jadi Ketua Bidang Dakwah NU, dan anggota DPR dari Partai NU. Di MUI Lamongan menjadi Ketua MUI Lamongan selama 3 periode. Padahal maksimal 2 periode, tapi karena banyak yang percaya akhirnya dipilih lagi periode ke-3. Selama di MUI Lamongan, beliau menggagas dan mewujudkan pembinaan MUI tingkat kecamatan dan pendirian MUI di tingkat desa, serta sering kunjungan ke desa-desa. Terakhir dikukuhkan sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Lamongan masa khidmat 2022-2027.

Baca juga: MELURUSKAN NARASI ORYOIN: CATATAN KRITIS ATAS ARTIKEL "MENGALIRKAN KEDAMAIAN DARI WEYE ORYOIN" Membedakan Fakta, Interpretasi, dan Konsekuensi Hukum dalam Sengketa Sumber Daya Alam

Berdasarkan penelitian UNISLA, gaya kepemimpinan beliau di pesantren ada 4: 1.Karismatik
2.Adaptif
3. Partisipatif
4.Entreprenurial
Strategi beliau mendidik santri: keteladanan, pengajaran, pembiasaan, pemberian hadiah, dan pemberian hukuman. Fokus beliau: meningkatkan kualitas pemahaman agama dan akhlak santri.

Dalam cerita “Belajar Sabar dari Kiai Aziz Khoiri”, rumah beliau di Gang Ababil Sidokumpul Lamongan sangat sederhana, tidak megah. Busana yang dikenakan juga sederhana sekali.
Beliau tipe kiai yang tenang, banyak mendengar tamu, dan selalu menutup dengan doa.

Yang menjadi catatan penting dalam perjalanan dakwah beliau adalah kejujuran dan konsistensi tanpa jeda. Sejak tahun 1980-an, waktu saya masih remaja, sering mendengar ceramah beliau. Yai Aziz Khoiri tidak pilih kasih siapa yang mengundang. Asal tidak ada udzur, beliau pasti datang. Di hajatan warga hingga pengajian umum. Tidak meminta keistimewaan, datang dengan tawadhu’, murah senyum, dan penuh kesungguhan. Suara beliau lantang, terdengar jelas, dan sajian selipan humor yang menyegarkan. Suara soundsystem atau loudspeaker yang kurang layak tidak dipersoalkan.

Keistimewaan lainnya, sekolah-sekolah negeri di Lamongan, antara lain SMADA, SMASA, MAN, pasti mengundang beliau untuk memberi motivasi keyakinan kepada orang tua atau wali murid. Hal ini juga berkaitan dengan para santri beliau yang jumlahnya ratusan, pagi hingga tengah hari bersekolah di lembaga pendidikan umum.

Dalam bidang politik, beliau tetap setia kepada PPP. Politik beliau adalah politik keumatan, mendidik dan mengkader politisi bukan sekadar meraih kekuasaan dan jabatan, melainkan menjalankan amanah umat.

Kesinambungan yang terjalin secara elegan tersebut, selalu beliau suarakan dalam ceramah dan mauidzohnya. Dengan gaya santai namun berisi, beliau menggunakan analog “codot kathokan”. Yakni manusia-manusia serakah yang memiliki kuasa dan jabatan, namun menggerogoti uang rakyat. Korupsi tanpa empati pada penderitaan dan kesengsaraan rakyat.

Codot adalah jenis binatang pengerat yang memangsa sayur atau buah tanaman petani. Mereka menjarah mangsanya pada malam hari. Petani yang mengharap panen tetapi lengah, pagi hari bisa menangis tanamannya ludes tanpa hasil. Itu codot sungguhan, kalau codot kathokan, menurut Yai Aziz lebih buas dan serakah, membuat rakyat terpuruk ke jurang nestapa. Ungkapan codot kathokan beliau lontarkan tanpa tedeng aling-aling. Di hadapan pejabat sipil atau militer, beliau selalu berpesan agar tidak menjadi codot kathokan. Amanat rakyat jangan dikhianati dengan kesenangan sesaat yang menyesatkan.
Jika codot sungguhan paling-paling hanya makan sayur dan buah, codot kathokan makan anggaran. Menelan aspal, kayu, bangunan, hingga menyunat anggaran untuk rakyat. Menggelembungkan pengeluaran untuk memeroleh keuntungan yang menggiurkan. Codot sungguhan akan berhenti makan bila sudah kenyang, codot kathokan seperti minum air laut. Kehausan tanpa henti menggarong uang rakyat sampai ajal menjelang. Tidak kapok dan tidak bosan.

Begitulah pembaca, kritik sosial Yai Aziz Khoiri yang jujur dan konsisten, sangat relevan dalam setiap gelombang zaman. Sepenuh hati beliau peduli pada umat. Sepenuh jiwa beliau mengedukasi penguasa agar berkhidmat pada rakyat. Pada posisi seperti ini tidak banyak orang yang mampu. Namun beliau menunjukkan keberanian yang luar biasa. Tidak takut intimidasi dan agitasi. Yang terjadi justru beliau menjadi tuntunan yang membumi. Rakyat menyayangi, pejabat menghormati. Hingga Kabupaten Lamongan menjadi wilayah yang kondusif, stabil, aman, dan tenteram
Semua itu tidak terlepas dari sumbangsih Yai Abdul Aziz Khoiri, yang penuh arahan religius dan simpati kemanusiaan.

Kesimpulannya, K.H. Abdul Aziz Khoiri adalah sosok ulama kharismatik Lamongan. Selain pengasuh PP Al-Ma’ruf, beliau juga nahkoda MUI Lamongan selama 3 periode. Dikenal sederhana, tegas dalam dakwah “melakukan yang baik dengan cara yang baik”, dan sangat peduli pendidikan santri. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT.

*( Penulis adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Tashwirul Afkar Sarirejo dan SMP Islam Tikung. Suka menulis puisi dan tulisan bebas. Sudah 11 buku antologi bersama, berisi kumpulan puisi dan artikel.

Kategori:
Tags:

Terkini