Robert Frost’s Poems Translated (English – Indonesia) by Leni Marlina
/1/
The Road Not Taken
Baca juga: Leni Marlina's Poem Bilingual Poems Collection: "THE MASS THAT KNOWS NO SCALE"
Poem by Robert Frost
–
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Baca juga: Berkomunikasi dalam Perspektif Sosial dan Keagamaan
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
—
Indonesian version of “The Road Not Taken”
Jalan yang Tak Kupilih
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Dua jalan bercabang di hutan yang menguning,
Sayang, tak mungkin keduanya kutempuh;
Lama aku berdiri, seorang pengembara yang termenung,
Memandang satu jalan sejauh mata mampu menembus,
Hingga ia berbelok di semak yang rimbun dan teduh.
Lalu kupilih jalan yang satu lagi,
Yang sama indahnya, mungkin lebih layak dijalani;
Karena rumputnya lebat, seakan jarang dilalui,
Meski, jika kupikirkan lagi, jejak kaki
Telah membuat keduanya nyaris sama sekali.
Pagi itu keduanya terbentang sunyi,
Berselimut daun yang belum ternoda jejak kaki.
Ah, kusimpan jalan pertama untuk hari nanti!
Namun kusadari, satu jalan mengantar ke jalan lainnya,
Dan aku ragu akan pernah kembali.
Kelak, bertahun-tahun, entah sampai kapan nanti,
Akan kukisahkan ini dengan helaan napas sunyi:
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku
Aku memilih jalan yang lebih jarang dilalui,
Dan pilihan itulah yang membuat segalanya berbeda.
—
/2/
Stopping by Woods on a Snowy Evening
Poem by Robert Frost
–
Whose woods these are I think I know.
His house is in the village, though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound’s the sweep
Of easy wind and downy flake.
The woods are lovely, dark and deep,
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.
—
Indonesian version of “Stopping by Woods on a Snowy Evening”
Singgah di Hutan Bersalju
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Kurasa kutahu siapa pemilik hutan ini,
Rumahnya di desa, jauh dari sini;
Ia takkan melihatku berhenti sendiri,
Menatap salju memenuhi hutan sunyi.
Kudaku yang kecil tentu merasa heran,
Mengapa berhenti jauh dari rumah dan pemukiman,
Di antara hutan dan danau yang membeku,
Pada malam tergelap sepanjang tahun berlalu.
Lonceng kekangnya digoyangkannya perlahan,
Seolah bertanya, “Apakah salah perjalanan?”
Hanya desir angin terdengar lembut,
Bersama salju berbulu yang jatuh lembut.
Hutan ini begitu indah—gelap dan dalam,
Namun masih ada janji yang harus kugenggam.
Masih bermil-mil jalan sebelum aku terlelap,
Masih bermil-mil jalan sebelum aku terlelap.
—
/3/
Fire And Ice
Poem by Robert Frost
–
Some say the world will end in fire,
Some say in ice.
From what I’ve tasted of desire
I hold with those who favor fire.
But if it had to perish twice,
I think I know enough of hate
To say that for destruction ice
Is also great
And would suffice.
—
Indonesian version of “Stopping by Woods on a Snowy Evening”
Api dan Es
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Ada yang berkata dunia kan berakhir dalam api,
Ada pula yang percaya: dalam es yang sunyi.
Dari hasrat yang pernah kurasakan sendiri,
Aku sependapat dengan mereka yang memilih api.
Namun jika dunia mesti binasa dua kali,
Kurasa aku cukup mengenal dinginnya benci,
Untuk berkata: bagi kehancuran, es pun tak kalah berarti,
Sama dahsyatnya dalam membinasakan diri,
Dan sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri.
—
/4/
Nothing Gold Can Stay
Poem by Robert Frost
–
Nature’s first green is gold,
Her hardest hue to hold.
Her early leaf’s a flower;
But only so an hour.
Then leaf subsides to leaf,
So Eden sank to grief,
So dawn goes down to day
Nothing gold can stay.
—
Indonesian version of “Nothing Gold Can Stay ”
Hijau Pertama Alam
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Hijau pertama alam berkilau bagai emas,
Warna yang paling lekas sirna dan lepas.
Daun pertama baginya laksana bunga,
Namun hanya sekejap—tak lebih dari sejam lamanya.
Lalu daun pun kembali menjadi daun,
Seperti Eden tenggelam dalam duka yang turun.
Seperti fajar perlahan larut menjadi siang,
Tak ada emas yang selamanya gemilang.
—
/5/
A Question
Poem by Robert Frost
–
A voice said, Look me in the stars
And tell me truly, men of earth,
If all the soul-and-body scars
Were not too much to pay for birth.
—
Indonesian version of “A Question ”
Sebuah Pertanyaan
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Sebuah suara berkata, “Tatap aku di bintang,
Dan katakan sejujurnya, wahai manusia di bumi:
Jika segala luka jiwa dan raga yang membayang,
Tak terlalu mahalkah harga untuk lahir ke dunia ini?”
—
/6/
Acquainted with the Night
Poem by Robert Frost
–
I have been one acquainted with the night.
I have walked out in rain – and back in rain.
I have outwalked the furthest city light.
I have looked down the saddest city lane.
I have passed by the watchman on his beat
And dropped my eyes, unwilling to explain.
I have stood still and stopped the sound of feet
When far away an interrupted cry
Came over houses from another street,
But not to call me back or say good-bye;
And further still at an unearthly height,
One luminary clock against the sky
Proclaimed the time was neither wrong nor right.
I have been one acquainted with the night.
—
Indonesian version of “Acquainted with the Night Stay ”
Akrab dengan Malam
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Aku telah lama bersahabat dengan malam.
Kutembus hujan, lalu kembali dalam hujan,
Melampaui cahaya kota yang paling jauh di ujung jalan.
Kupandang lorong kota yang paling muram,
Kulewati penjaga malam yang tengah berkeliling,
Kutundukkan mata, enggan memberi penjelasan.
Aku berhenti, membungkam langkah kaki,
Saat dari kejauhan terdengar jerit yang terputus,
Menyusup melintasi rumah-rumah dari jalan lain,
Namun bukan untuk memanggilku pulang atau mengucap selamat tinggal;
Dan lebih jauh lagi, di ketinggian yang tak wajar,
Sebuah jam bercahaya menggantung di langit,
Mengabarkan bahwa waktunya tak salah, tak pula benar.
Aku telah lama bersahabat dengan malam.
—
/7/
A Late Walk
Poem by Robert Frost
–
When I go up through the mowing field,
The headless aftermath,
Smooth-laid like thatch with the heavy dew,
Half closes the garden path.
And when I come to the garden ground,
The whir of sober birds
Up from the tangle of withered weeds
Is sadder than any words
A tree beside the wall stands bare,
But a leaf that lingered brown,
Disturbed, I doubt not, by my thought,
Comes softly rattling down.
I end not far from my going forth
By picking the faded blue
Of the last remaining aster flower
To carry again to you.
—
Indonesian version of “A Late Walk”
Jalan Pulang yang Terlambat
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Saat kutempuh padang yang baru saja dipangkas,
Sisa-sisa batang tanpa kepala terbentang;
Tersusun halus bagai jerami, basah oleh embun yang deras,
Menutup separuh jalan menuju taman.
Dan ketika tiba di tanah kebun,
Dari rumpun ilalang yang layu dan berserak,
Kicau burung yang muram terbangun,
Lebih sedih daripada kata-kata yang terucap.
Sebatang pohon di sisi tembok berdiri telanjang,
Namun sehelai daun cokelat masih bertahan;
Terganggu, entah oleh pikiranku yang panjang,
Ia pun jatuh perlahan, berdesir di sepanjang halaman.
Tak jauh dari tempat mula aku melangkah,
Perjalananku berakhir dalam hening yang biru;
Kupetik bunga aster biru terakhir yang masih tersisa,
Untuk kembali kubawa kepadamu.
—
/8/
A Minor Bird
Poem by Robert Frost
–
have wished a bird would fly away,
And not sing by my house all day;
Have clapped my hands at him from the door
When it seemed as if I could bear no more.
The fault must partly have been in me.
The bird was not to blame for his key.
And of course there must be something wrong
In wanting to silence any song.
—
Indonesian version of “A Minor Bird “
Seekor Burung Kecil
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Pernah kuharap seekor burung terbang pergi,
Tak lagi bernyanyi di rumahku sepanjang hari.
Kupukulkan tangan dari ambang pintu,
Saat rasanya tak sanggup lagi kutahan itu.
Mungkin sebagian salahnya ada padaku,
Burung itu tak patut disalahkan atas lagunya.
Dan tentu ada yang keliru, entah bagaimana,
Bila kita ingin membungkam nyanyian yang ada.
—
/8/
A Prayer in Spring
Poem by Robert Frost
–
Oh, give us pleasure in the flowers to-day;
And give us not to think so far away
As the uncertain harvest; keep us here
All simply in the springing of the year.
Oh, give us pleasure in the orchard white,
Like nothing else by day, like ghosts by night;
And make us happy in the happy bees,
The swarm dilating round the perfect trees.
And make us happy in the darting bird
That suddenly above the bees is heard,
The meteor that thrusts in with needle bill,
And off a blossom in mid air stands still.
For this is love and nothing else is love,
The which it is reserved for God above
To sanctify to what far ends He will,
But which it only needs that we fulfil.
—
Indonesian version of “A Prayer in Spring “
Doa di Musim Semi
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Oh, beri kami sukacita pada bunga hari ini;
Jangan biarkan pikiran kami melayang terlalu jauh nanti,
Memikirkan panen yang belum pasti; biarkan kami tetap di sini,
Menikmati sederhana mekarnya tahun ini.
Oh, beri kami sukacita pada kebun yang putih berseri,
Tiada bandingnya di siang hari, bagai hantu di malam sunyi;
Dan bahagiakan kami bersama lebah-lebah yang riang,
Kerumunan yang mengembang di sekeliling pepohonan gemilang.
Dan bahagiakan kami oleh burung yang melesat terbang,
Yang tiba-tiba terdengar jauh di atas lebah yang berdengung riang;
Laksana meteor dengan paruh setajam jarum menembus udara,
Lalu berhenti sekejap di atas sekuntum bunga.
Sebab inilah cinta, dan tiada yang lain selain cinta,
Yang diserahkan kepada Tuhan di atas sana,
Untuk disucikan-Nya menuju tujuan yang dikehendaki-Nya,
Namun yang cukup bagi kita hanyalah menjalaninya.
—
/9/
The Rose Family
Poem by Robert Frost
–
The rose is a rose,
And was always a rose.
But the theory now goes
That the apple’s a rose,
And the pear is, and so’s
The plum, I suppose.
The dear only knows
What will next prove a rose.
You, of course, are a rose –
But were always a rose.
—
Indonesian version of “The Rose Family “
Keluarga Mawar
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Mawar tetaplah mawar,
Sejak dahulu memang mawar.
Namun teori kini berkata benar:
Apel pun ternyata mawar,
Pir pun, begitu pula plum yang mekar.
Entah Tuhan saja yang tahu benar
Apa lagi kelak disebut mawar.
Dan kau, tentu saja, adalah mawar—
Namun sejak dulu, tetaplah mawar.
—
/10/
A Soldier
Poem by Robert Frost
–
He is that fallen lance that lies as hurled,
That lies unlifted now, come dew, come rust,
But still lies pointed as it plowed the dust.
If we who sight along it round the world,
See nothing worthy to have been its mark,
It is because like men we look too near,
Forgetting that as fitted to the sphere,
Our missiles always make too short an arc.
They fall, they rip the grass, they intersect
The curve of earth, and striking, break their own;
They make us cringe for metal-point on stone.
But this we know, the obstacle that checked
And tripped the body, shot the spirit on
Further than target ever showed or shone.
—
Indonesian version of “A Soldier “
Seorang Prajurit
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Dialah tombak yang terjatuh, sebagaimana ia terlempar,
Kini terbaring tak terangkat, datang embun, datang karat,
Namun tetap terbaring dengan ujung mengarah, sebagaimana ia membajak debu.
Jika kita, yang mengikuti arah ujungnya mengitari dunia,
Tak melihat sesuatu yang layak menjadi sasarannya,
Itu karena, seperti manusia, kita memandang terlalu dekat,
Lupa bahwa, sebagaimana disesuaikan dengan bulatnya bumi,
Senjata-senjata kita selalu menempuh lengkung yang terlalu pendek.
Ia jatuh, mengoyak rumput, memotong lengkung bumi,
Dan ketika menghantam, tubuhnya sendiri pun patah;
Membuat kita meringis saat ujung logam beradu dengan batu.
Namun inilah yang kita tahu: penghalang yang menghentikan,
Yang menjegal tubuhnya, justru melontarkan jiwanya
Lebih jauh daripada sasaran mana pun yang pernah tampak atau bersinar.
—
/11/
A Time to Talk
Poem by Robert Frost
–
When a friend calls to me from the road
And slows his horse to a meaning walk,
I don’t stand still and look around
On all the hills I haven’t hoed,
And shout from where I am, What is it?
No, not as there is a time to talk.
I thrust my hoe in the mellow ground,
Blade-end up and five feet tall,
And plod: I go up to the stone wall
For a friendly visit.–
—
Indonesian version of “A Time to Talk“
Saatnya Berbicara
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Ketika seorang sahabat memanggilku dari jalan,
Lalu memperlambat kudanya menjadi langkah penuh makna,
Aku tak berhenti, menoleh ke segala penjuru,
Memandang bukit-bukit yang belum sempat kubajak,
Lalu berteriak dari tempatku, “Ada apa?”
Tidak—sebab ada waktunya untuk berbicara.
Kuhentakkan cangkulku ke tanah yang gembur,
Ujung bilahnya menghadap ke atas, menjulang lima kaki,
Lalu kutapaki jalan dengan langkah berat menuju pagar batu,
Untuk sebuah kunjungan bersahabat.
—
/12/
Asking For Roses
Poem by Robert Frost
–
A house that lacks, seemingly, mistress and master,
With doors that none but the wind ever closes,
Its floor all littered with glass and with plaster;
It stands in a garden of old-fashioned roses.
I pass by that way in the gloaming with Mary;
‘I wonder,’ I say, ‘who the owner of those is.’
‘Oh, no one you know,’ she answers me airy,
‘But one we must ask if we want any roses.’
So we must join hands in the dew coming coldly
There in the hush of the wood that reposes,
And turn and go up to the open door boldly,
And knock to the echoes as beggars for roses.
‘Pray, are you within there, Mistress Who-were-you? ‘
‘Tis Mary that speaks and our errand discloses.
‘Pray, are you within there? Bestir you, bestir you!
‘Tis summer again; there’s two come for roses.
‘A word with you, that of the singer recalling-
Old Herrick: a saying that every maid knows is
A flower unplucked is but left to the falling,
And nothing is gained by not gathering roses.’
We do not loosen our hands’ intertwining
(Not caring so very much what she supposes) ,
There when she comes on us mistily shining
And grants us by silence the boon of her roses.
—
Indonesian version of “Asking for Roses“
Meminta Bunga Mawar
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Sebuah rumah yang tampaknya tanpa tuan dan nyonya,
Pintunya hanya angin yang menutup bila ia berembus;
Lantainya berserakan pecahan kaca dan reruntuhan,
Berdiri di taman dengan mawar-mawar gaya zaman dahulu.
Aku melewati jalan itu saat senja bersama Mary;
“Entah,” kataku, “siapakah pemilik mawar-mawar itu?”
“Oh, bukan siapa pun yang kau kenal,” jawabnya ringan,
“Namun seseorang yang harus kita mintai, bila ingin mendapat mawar.”
Maka kami bergandengan tangan di antara embun yang dingin,
Di sana, dalam hening hutan yang terlelap;
Kami berbalik, lalu dengan berani menuju pintu yang terbuka,
Dan mengetuk, seperti pengemis yang memohon bunga mawar.
“Permisi, apakah kau ada di dalam, Nyonya, siapapun dirimu?”
Mary berseru, menjelaskan maksud kedatangan kami.
“Permisi, apakah kau ada di dalam? Bangunlah, bangunlah!
Musim panas telah kembali; kami berdua datang meminta mawar.”
“Hanya sepatah kata, mengingatkan pada seorang penyair
Herrick tua: pepatah yang dikenal setiap gadis:
Bunga yang tak dipetik hanyalah dibiarkan jatuh,
Dan tak ada yang diperoleh dengan membiarkan mawar tak dipetik.”
Kami tak melepaskan jemari yang saling bertaut,
Tak begitu peduli apa yang mungkin dipikirkannya,
Ketika ia datang kepada kami, berkilau samar dalam kabut,
Dan dalam diamnya, mengaruniakan kepada kami mawar-mawarnya.
—
/13/
A Boundless Moment
Poem by Robert Frost
–
He halted in the wind, and – what was that
Far in the maples, pale, but not a ghost?
He stood there bringing March against his thought,
And yet too ready to believe the most.
‘Oh, that’s the Paradise-in-bloom,’ I said;
And truly it was fair enough for flowers
had we but in us to assume in march
Such white luxuriance of May for ours.
We stood a moment so in a strange world,
Myself as one his own pretense deceives;
And then I said the truth (and we moved on) .
A young beech clinging to its last year’s leaves.
—
Indonesian version of “A Boundless Moment “
Sesaat Tanpa Batas
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Ia berhenti diterpa angin—dan apakah itu
Jauh di antara pohon maple, pucat, namun bukan hantu?
Ia berdiri, membawa bulan Maret melawan pikirannya,
Namun terlalu mudah untuk mempercayai apa saja.
“Oh, itu Firdaus yang sedang berbunga,” kataku;
Dan sungguh, cukup elok seandainya bunga-bunga
Mampu membuat kita percaya bahwa di bulan Maret
Kemewahan putih bulan Mei telah menjadi milik kita.
Sesaat kami berdiri di sana, dalam dunia yang asing,
Aku sendiri, seperti orang yang tertipu oleh khayalannya;
Lalu kukatakan yang sebenarnya—dan kami pun melanjutkan:
Itu pohon beech muda yang masih menggenggam daun-daun tahun lalu.
—
/14/
A Brook in the City
Poem by Robert Frost
–
The farmhouse lingers, though averse to square
With the new city street it has to wear
A number in. But what about the brook
That held the house as in an elbow-crook?
I ask as one who knew the brook, its strength
And impulse, having dipped a finger length
And made it leap my knuckle, having tossed
A flower to try its currents where they crossed.
The meadow grass could be cemented down
From growing under pavements of a town;
The apple trees be sent to hearth-stone flame.
Is water wood to serve a brook the same?
How else dispose of an immortal force
No longer needed? Staunch it at its source
With cinder loads dumped down? The brook was thrown
Deep in a sewer dungeon under stone
In fetid darkness still to live and run —
And all for nothing it had ever done
Except forget to go in fear perhaps.
No one would know except for ancient maps
That such a brook ran water. But I wonder
If from its being kept forever under,
The thoughts may not have risen that so keep
This new-built city from both work and sleep.
—
Indonesian version of “A Brook in the City “
Sungai Kecil di Tengah Kota
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Rumah pertanian itu masih bertahan, meski tak selaras
Dengan jalan kota baru yang memaksanya memakai
Nomor alamat. Namun bagaimana dengan sungai kecil
Yang dahulu merangkul rumah itu seperti lengkung siku?
Aku bertanya sebagai orang yang mengenal sungai itu, kekuatannya
Dan dorongannya, setelah pernah mencelupkan ujung jari
Dan membuatnya melompat melewati buku jariku, pernah pula kulempar
Sekuntum bunga untuk menguji arusnya di tempat arus itu berpapasan.
Rumput padang dapat dilapisi semen
Agar tak lagi tumbuh di bawah trotoar kota;
Pohon-pohon apel dapat dikirim menjadi api perapian.
Tetapi apakah air dapat diperlakukan seperti kayu
Untuk melayani sungai dengan cara yang sama?
Bagaimana lagi membuang tenaga abadi
Yang tak lagi dibutuhkan? Menyumbatnya dari mata air
Dengan timbunan abu yang dituangkan ke dalamnya?
Sungai itu dilemparkan
Ke dalam selokan bawah tanah, penjara di bawah batu,
Dalam kegelapan yang busuk, namun tetap hidup dan mengalir—
Dan semua itu hanya karena tak pernah dilakukannya apa-apa,
Kecuali mungkin lupa untuk hidup dalam ketakutan.
Tak seorang pun akan tahu, kecuali dari peta-peta kuno,
Bahwa dahulu sungai kecil itu mengalirkan air. Namun aku bertanya-tanya,
Mungkinkah karena ia selamanya dipaksa berada di bawah tanah,
Pikiran-pikiran seperti itu justru muncul—pikiran yang kini
Menjaga kota yang baru dibangun ini
Dari bekerja maupun tidur?
—
/15/
A Patch of Old Snow
Poem by Robert Frost
–
There’s a patch of old snow in a corner
That I should have guessed
Was a blow-away paper the rain
Had brought to rest.
It is speckled with grime as if
Small print overspread it,
The news of a day I’ve forgotten —
If I ever read it.
—
Indonesian version of “A Brook in the City “
Segumpal Salju Tua
Puisi karya Robert Frost
Penerjemah (Inggris – Indonesia): Leni Marlina
–
Ada segumpal salju tua di sebuah sudut,
Yang semestinya kukira
Hanyalah selembar kertas yang diterbangkan angin,
Lalu dibawa hujan hingga berhenti di sana.
Kini bertabur kotoran, seolah-olah
Tulisan kecil memenuhi seluruh permukaannya—
Berita tentang suatu hari yang telah kulupakan,
Jika memang pernah kubaca.
—
About the Poet – Robert Frost
Robert Frost (1874–1963) was a famous American poet known for his poems about nature, rural life, and the human experience. He was born in San Francisco, California, but grew up mainly in New England, which strongly influenced his poetry. Frost attended Dartmouth College and Harvard University but did not graduate. He worked as a teacher, farmer, and in other jobs while continuing to write poetry. In 1912, he moved to England, where he published his first poetry collection, A Boy’s Will, in 1913. His second collection, North of Boston, followed in 1914 and established him as an important poet. Some of Frost’s most famous poems include “The Road Not Taken,” “Stopping by Woods on a Snowy Evening,” and “Mending Wall.” His poetry often uses simple language and traditional forms to explore deeper ideas about choices, nature, relationships, and life. Frost won the Pulitzer Prize for Poetry four times and received the Congressional Gold Medal in 1960. He also famously read his poetry at President John F. Kennedy’s inauguration in 1961. Robert Frost died in Boston in 1963 at the age of 88. He remains one of the most influential American poets of the 20th century.
—
Robert Frost (1874–1963) adalah penyair terkenal asal Amerika Serikat yang dikenal karena puisinya tentang alam, kehidupan pedesaan, pilihan hidup, dan kehidupan manusia. Ia lahir di San Francisco, California, tetapi sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di New England, yang kemudian banyak memengaruhi karya-karyanya. Frost pernah belajar di Dartmouth College dan Harvard University, tetapi tidak menyelesaikan pendidikannya. Ia bekerja sebagai guru, petani, dan dalam berbagai pekerjaan lain sambil terus menulis puisi. Pada tahun 1912, ia pindah ke Inggris dan menerbitkan buku puisi pertamanya, A Boy’s Will, pada tahun 1913. Karya berikutnya, North of Boston (1914), semakin membuat namanya terkenal. Beberapa puisinya yang paling terkenal adalah “The Road Not Taken,” “Stopping by Woods on a Snowy Evening,” dan “Mending Wall.” Frost memenangkan Pulitzer Prize for Poetry sebanyak empat kali dan menerima Congressional Gold Medal pada tahun 1960. Robert Frost meninggal di Boston pada tahun 1963 dalam usia 88 tahun. Ia dikenang sebagai salah satu penyair Amerika paling berpengaruh pada abad ke-20.
—
About the Translator – Leni Marlina
Leni Marlina is the Indonesian poet, writer and lecturer. Her passion for literature and literacy began during her school years and has remained an integral part of her life ever since. Her interest in literature deepened significantly while pursuing a Master of Arts in Writing and Literature in Australia. Since 2006, she has served as a ecturer in the Department of English Language and Literature, Faculty of Languages and Arts, at Padang State University. Alongside her academic responsibilities, she writes poetry, short stories, essays, and scholarly articles, while also engaging in various translation and editorial projects. She also serves as an editor at Suara Anak Negeri (SAN) Media Group, a digital media platform. Beyond her creative and academic pursuits, Leni is actively involved in numerous literacy and writing communities. She also contributes to the development and management of learning and knowledge-sharing spaces for enthusiasts of education, literacy, and literature, including PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Literary Talk Community), and Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni is a member of several writers’ and literary organizations, including SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers, and ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. She has received several awards for her writing at local, national, and international levels, which she gratefully regards as part of her lifelong journey of learning, creating, and contributing to the literary world. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
—
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi di Universitas Negeri Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia. Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Mengabdi sebagai redaktur di platform digital Suara Anak Negeri (SAN) Media Group. Selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community). Leni merupakan anggota organisasi penulis SatuPena Sumbar, Penyala Literasi Semesta, Victorian Writers & ACC Shanghai Huifeng International Literaty Association. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya. Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id


