http://suaraanaknegeri.com | Manila, Filipina – Di tengah derasnya arus informasi dan banjir opini yang kerap diterima tanpa proses penyaringan, manusia modern menghadapi tantangan besar: membedakan antara apa yang tampak di permukaan dan apa yang sungguh benar.
Pesan itulah yang menjadi inti refleksi harian “Sejenak Sabda” yang disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat dari Central Seminary Universitas Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, Jumat (5/6/2026).
Sebagai Pastor Mahasiswa di UST Manila, imam asal Kepulauan Tanimbar itu mengajak umat merenungkan Injil Markus 12:35-37 secara lebih mendalam. Baginya, dialog Yesus dengan para ahli Taurat bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cermin kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini.
Melampaui Label dan Stereotipe
Dalam refleksinya, RD. Domincs menyoroti kecenderungan manusia yang sering terjebak pada label, prasangka, dan asumsi yang sempit.
Baca juga: Pdt. Roy Daniel Sitepu Dorong Generasi Tanimbar Menjadi Pribadi Berdampak
Pada masa itu, para ahli Taurat meyakini Mesias hanyalah “Anak Daud”, sosok yang dipahami sebatas pemimpin politik atau militer yang akan membebaskan bangsa Israel. Cara pandang yang terbatas itu membuat mereka gagal mengenali identitas Mesias yang sesungguhnya.
“Kita sering kali gagal melihat kebenaran atau nilai sejati dari seseorang karena kita sudah terlanjur memberi label atau memiliki ekspektasi yang sempit,” ungkapnya.
Menurut RD. Domincs, pola pikir serupa masih banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang dinilai berdasarkan latar belakang, status sosial, pendidikan, jabatan, bahkan masa lalunya.
Baca juga: Patroli Presisi Polres Tanimbar Cegah Begal dan Premanisme
Akibatnya, potensi dan nilai yang sesungguhnya dimiliki seseorang sering kali luput dari perhatian. Karena itu, ia mengajak umat untuk membangun cara pandang yang lebih terbuka dan mendalam. “Belajarlah untuk melihat lebih dalam, melampaui asumsi dan stereotipe,” pesannya.
Membangun Iman yang Kritis dan Dewasa
Selain mengajak umat melampaui prasangka, RD. Domincs juga menegaskan pentingnya sikap kritis dalam kehidupan beriman maupun dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, kedewasaan tidak lahir dari kebiasaan mengikuti arus, melainkan dari keberanian untuk bertanya, mencari makna, dan menguji kebenaran.
“Kita diajak untuk tidak menjadi pengikut yang buta. Baik dalam hal agama, pekerjaan, maupun kehidupan sosial, kita perlu memiliki pemikiran yang kritis, berani bertanya, dan mencari kebenaran yang substansial,” tegasnya.
Pesan tersebut dinilai semakin relevan di era digital ketika informasi dapat tersebar dalam hitungan detik, sementara proses refleksi dan verifikasi sering kali tertinggal.
Bagi RD. Domincs, iman yang sehat bukanlah iman yang pasif. Iman sejati justru terus bertumbuh melalui pencarian akan kebenaran dan keterbukaan untuk belajar.
Ketika Kerendahan Hati Menjadi Tanda Kebesaran
Refleksi Injil hari itu juga menghadirkan keteladanan Raja Daud yang, meskipun dikenal sebagai penguasa besar Israel, tetap mampu menyebut Mesias sebagai “Tuanku”.
Menurut RD. Domincs, sikap tersebut menunjukkan makna sejati dari kerendahan hati.
“Orang yang besar dan berkuasa secara moral adalah mereka yang mampu menundukkan egonya dan menghormati kebenaran yang lebih besar, meskipun itu datang dari generasi di bawahnya,” ujarnya.
Di tengah budaya yang kerap mengukur kebesaran melalui kekuasaan, pengaruh, dan pencapaian pribadi, pesan tersebut menghadirkan perspektif yang berbeda. Kebesaran sejati justru lahir dari kemampuan menghargai keunggulan orang lain dan mengakui kebenaran di luar diri sendiri.
Pengetahuan yang Melahirkan Kebijaksanaan
Pesan lain yang mendapat perhatian dalam refleksi tersebut adalah pentingnya integritas antara pengetahuan dan tindakan.
RD. Domincs mengingatkan bahwa para ahli Taurat memiliki pemahaman mendalam tentang Kitab Suci. Namun pengetahuan yang luas itu kehilangan makna ketika tidak disertai kerendahan hati dan keterbukaan terhadap kebenaran.
“Pengetahuan, gelar, atau teori yang kita miliki tidak ada gunanya jika tidak membuat kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana, toleran, dan tunduk pada kebenaran,” katanya.
Ia menilai salah satu bahaya terbesar dalam dunia intelektual adalah ketika kepintaran berubah menjadi kesombongan. Alih-alih membuka ruang dialog dan pembelajaran, kesombongan intelektual justru membuat seseorang menutup diri terhadap perspektif baru dan kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.
“Jangan sampai kepintaran kita justru membuat kita menjadi keras kepala dan menutup diri dari perspektif baru,” tegasnya.
Ajakan untuk Terus Mencari Kebenaran
Dari ruang pembinaan calon imam di Manila, refleksi sederhana yang disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat menghadirkan pesan yang melampaui batas geografis.
Di tengah dunia yang semakin cepat memberi penilaian dan semakin mudah terjebak dalam polarisasi, umat diajak untuk melihat lebih jauh daripada sekadar apa yang tampak di permukaan.
Sebab kebenaran tidak ditemukan dalam prasangka, melainkan dalam kerendahan hati untuk belajar, keberanian untuk bertanya, dan keterbukaan untuk menerima perspektif yang lebih luas.
Refleksi itu kemudian ditutup dengan doa yang sederhana namun sarat makna:
“Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu hidup dalam kerendahan hati.”
Doa yang singkat, tetapi menjadi fondasi penting bagi siapa saja yang ingin terus bertumbuh dalam iman, kebijaksanaan, dan kemanusiaan. Rilis:jr
Editor: jk





