Minggu, 05 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Bupati Biak Numfor Buka Snap Mor: Integrasi Kearifan Lokal Sasi dan Konservasi Ekosistem Laut di FBMW 2026

Bupati Biak Numfor Buka Snap Mor

BIAK-PAPUA | SUARA ANAK NEGERI – Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, S.H., M.M., secara resmi membuka kegiatan Snap Mor di Pantai Kampung Mnurwar, Distrik Oridek, pada Sabtu (4/7/2026). Pembukaan ini menandai puncak dari implementasi kearifan lokal adat Biak dalam pengelolaan sumber daya hayati laut, yang menjadi bagian integral dari rangkaian Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026. Acara ini dihadiri oleh ribuan masyarakat, unsur pemerintahan, tokoh adat, serta wisatawan mancanegara, termasuk delegasi dari Jerman, yang menyaksikan langsung harmonisasi antara tradisi leluhur dan prinsip konservasi modern.

Foto Bupati Biak Numfor bersama Wisatawan asal Jerman

Dimensi Filosofis Snap Mor: Simbol Kohesi Sosial dan Ekologi

Baca juga: Bupati Biak Numfor Buka Snap Mor di Mnurwar: Syukur atas Anugerah Alam dan Kearifan Lokal Sasi

Dalam tinjauan antropologis budaya, Snap Mor bukan sekadar aktivitas penangkapan ikan massal saat air surut, melainkan sebuah institusi sosial yang merefleksikan nilai-nilai luhur masyarakat Biak. Bupati Mansnembra menjelaskan bahwa tradisi ini mengandung makna filosofis mendalam sebagai simbol persatuan, gotong royong (woy), dan rasa syukur terhadap anugerah alam.

Sebagai umat yang percaya kepada Tuhan, kita patut mengucap syukur karena Tuhan begitu baik sehingga kita semua masih diberikan kesehatan, kekuatan, dan berbagai berkat… Snap Mor merupakan simbol persatuan dan penghormatan masyarakat terhadap alam melalui nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun,” ujar Bupati dalam sambutannya yang penuh hikmat.

Ia menekankan bahwa hari tersebut adalah “hari yang dilayakkan Tuhan”, di mana seluruh elemen masyarakat berkumpul untuk merayakan hasil bumi dan laut yang dikelola secara berkelanjutan. Kehadiran wisatawan internasional, termasuk wisatawan dari Jerman, menjadi indikator meningkatnya daya tarik budaya Biak di panggung global, sekaligus membuktikan bahwa kearifan lokal memiliki relevansi universal dalam pariwisata berbasis komunitas.

Baca juga: Snap Mor Kampung Mnurwar Dipadati Pengunjung: Simfoni Alam dan Kearifan Lokal di FBMW 2026

Implementasi Hukum Adat Sasi: Mekanisme Konservasi Berbasis Komunitas

Aspek ekologis dari kegiatan ini terletak pada penerapan hukum adat Sasi Laut. Bupati menyoroti bahwa kawasan perairan Kampung Mnurwar telah menjalani masa tutup (sasi) selama kurang lebih enam bulan. Selama periode ini, masyarakat secara sukarela menahan diri dari aktivitas eksploitasi sumber daya laut untuk memungkinkan regenerasi ekosistem.

Tuhan telah memberikan masyarakat di sini alam yang luar biasa, namun hal itu harus dijaga dengan komitmen. Selama masa sasi, masyarakat tidak bisa beraktivitas di kawasan tersebut. Hari ini, setelah didoakan secara simbolis, kita bersama-sama membuka sasi ini untuk menikmati hasil laut yang tersedia,” ungkap Bupati.

Proses pembukaan Sasi ini mendemonstrasikan efektivitas pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) dalam menjaga biodiversitas. Hasil tangkapan dalam Snap Mor merupakan bukti nyata keberhasilan mekanisme konservasi berbasis komunitas yang mampu menyeimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian lingkungan.

Sinergi Multistakeholder dan Dukungan Infrastruktur Sosial

Keberhasilan pelaksanaan FBMW 2026 dan Snap Mor dikreditkan kepada sinergi kolaboratif antara Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD, tokoh adat, agama, dan masyarakat Kampung Mnurwar. Bupati menyampaikan apresiasi tinggi atas partisipasi aktif seluruh pihak dalam mempersiapkan infrastruktur dan layanan publik.

Sebagai wujud konkret dukungan pemerintah terhadap kohesi sosial-spiritual masyarakat, Bupati Mansnembra menyampaikan bahwa pihaknya akan memberikan bantuan dana sebesar Rp 150 juta untuk kelanjutan pekerjaan Pembangunan Gereja di Kampung Mnurwar. Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam membangun keseimbangan antara pembangunan fisik infrastruktur dan penguatan ketahanan spiritual masyarakat.

Penutup: Pelestarian Identitas sebagai Aset Strategis

Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus mempertahankan kearifan lokal sebagai identitas strategis Biak Numfor. “Mari kita menjaga budaya kita, kita menjaga alam kita, karena apa yang dimiliki kita saat ini belum tentu dimiliki oleh daerah lain. Ini adalah warisan berharga yang harus kita lestarikan,” pungkasnya.

Dengan menggabungkan daya tarik budaya, keunikan ekologi, dan keramahtamahan masyarakat, Snap Mor di Kampung Mnurwar telah memposisikan Biak Numfor sebagai destinasi wisata edukasi dan ekowisata kelas dunia yang berkelanjutan.

 

Penulis: Anis R

Kategori:
Tags:

Terkini