Selasa, 09 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menafsir Metafora Bunga dalam Sajak Francisco Munoz Soler di Teater Mini Perpustakaan Bung Hatta

Oleh: Era Nurza

Suasana intelektual dan sastra terasa begitu hangat di Teater Mini Perpustakaan Bung Hatta saat kegiatan bedah buku dalam rangkaian International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 4 digelar. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd. sebagai pembedah buku kumpulan puisi Tercengkeram (Pinched) karya penyair Francisco Munoz Soler dari Spanyol yang diterjemahkan oleh Siska Saputri dan dieditori oleh Sastri Bakry.

Baca juga: MENDENGAR PIDATO PRABOWO DAN MACRON DI JAMUAN MAKAN MALAM

Acara ini menjadi salah satu ruang penting dalam IMLF 4 dihadiri 38 negara, mempertemukan penulis, akademisi, pegiat literasi, mahasiswa, dan pecinta sastra untuk bersama-sama menelaah makna yang tersembunyi di balik larik-larik puisi. Dalam pemaparannya, Dr. Andria Catri Tamsin mengulas salah satu puisi yang dianggap sangat menarik untuk dibedah, yakni Bagaimana Mungkin Sebuah Bunga.

Menurut Dr. Andria, puisi tersebut merupakan karya yang kaya akan metafora. Ia menjelaskan bahwa penyair menggunakan bunga sebagai simbol utama untuk menyampaikan pesan kemanusiaan yang mendalam. Metafora bunga merupakan salah satu metafora paling populer dalam dunia sastra. Bunga sering digunakan untuk melambangkan keindahan, harapan, pertumbuhan, kehidupan, sekaligus kerapuhan dan kesedihan ketika ia layu.

Baca juga: Ruang Kata Menyatukan Dunia di Mini Teater Perpustakaan Bung Hatta

Dalam puisinya, Francisco Munoz Soler menuliskan pertanyaan yang menggugah pembaca: bagaimana mungkin sebuah bunga dapat berdiri tegak dan tetap memancarkan wangi memesona ketika ia justru menginginkan kelopak-kelopaknya layu? Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami tragedi yang disampaikan penyair.

Dr. Andria menjelaskan bahwa bait pertama puisi menggambarkan kondisi sebuah bunga yang secara sadar menginginkan dirinya layu. Kelopak-kelopak yang seharusnya mekar justru diidamkan untuk gugur. Situasi ini menghadirkan paradoks yang menyakitkan. Bunga yang identik dengan kehidupan dan keindahan justru memilih jalan menuju kerusakan dirinya sendiri demi menghibur duka yang disebut penyair sebagai “duka yang tak masuk akal”.

Melalui pendekatan gaya bahasa, Dr. Andria menafsirkan bahwa bunga dalam puisi tersebut bukanlah bunga dalam pengertian harfiah. Bunga hadir sebagai metafora seorang perempuan muda yang masih berada pada masa belia. Frasa “kelopak-kelopaknya layu” menjadi simbol rapuhnya masa muda yang seharusnya sedang berkembang, namun justru mengalami kerusakan sebelum sempat menikmati keindahan hidup.

Pembacaan yang lebih mendalam kemudian mengarah pada persoalan sosial. Menurut Dr. Andria, perempuan muda dalam puisi itu digambarkan berada dalam kondisi kehidupan yang sulit dan memprihatinkan. Kemiskinan serta tekanan hidup menjadi latar yang menyebabkan ia mengambil keputusan yang menghancurkan masa depannya sendiri. Dalam konteks itulah, “menghibur duka” dimaknai sebagai upaya bertahan hidup di tengah kesulitan ekonomi yang begitu berat.

Bait kedua memperlihatkan dimensi tragedi yang lebih kuat. Penyair menulis bahwa akal sehat tokoh bunga diganggu oleh kegilaan. Kegilaan yang dimaksud bukanlah kehilangan kesadaran, melainkan pergulatan batin yang membuat seseorang terjebak dalam pilihan-pilihan hidup yang bertentangan dengan nurani dan akal sehatnya.

Tokoh perempuan muda itu berharap kehinaan yang dialaminya dapat segera berakhir. Namun kenyataan berkata lain. Yang tersisa baginya hanyalah “dinginnya sebuah angka”, simbol usia yang terus bertambah tanpa mampu mengembalikan masa muda yang telah hilang. Pada titik ini, puisi menghadirkan pertanyaan eksistensial yang sangat tajam: apa arti hidupnya kini?

Dr. Andria menegaskan bahwa puisi ini bukan sekadar kisah individu, melainkan cermin realitas sosial yang masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Banyak perempuan muda yang harus berhadapan dengan kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan tekanan ekonomi yang membuat mereka kehilangan kesempatan menikmati masa mudanya secara utuh.

Melalui metafora bunga, Francisco Munoz Soler menghadirkan kritik sosial sekaligus ungkapan empati terhadap mereka yang terpaksa mengorbankan diri demi bertahan hidup. Keindahan bahasa puisi berpadu dengan keprihatinan kemanusiaan sehingga melahirkan karya yang menggugah pembaca untuk merenungkan makna kehidupan, harga diri, dan perjuangan manusia menghadapi kemiskinan.
Kegiatan bedah buku ini berlangsung dalam suasana dialogis. Para peserta tampak antusias mengikuti paparan dan diskusi yang berkembang. Berbagai pertanyaan dan tanggapan muncul, menunjukkan bahwa sastra masih memiliki daya hidup yang kuat sebagai sarana memahami realitas sosial dan kemanusiaan.

Melalui forum bedah buku dalam rangkaian IMLF 4 ini, Teater Mini Perpustakaan Bung Hatta kembali menjadi ruang perjumpaan gagasan, tempat puisi tidak hanya dibaca sebagai rangkaian kata-kata indah, tetapi juga sebagai medium untuk memahami luka, harapan, dan perjuangan manusia. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan proses menafsirkan kehidupan melalui berbagai perspektif yang kaya dan mendalam.
__

Penulis


Edrawati, M.Pd., dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah penulis, penyair, dan pendidik. Melalui karya dan pendidikan, ia konsisten menumbuhkan minat baca dan menulis, khususnya di kalangan generasi muda. Karyanya berupa fiksi dan nonfiksi. Aktivitas literasinya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga menjangkau berbagai negara seperti Australia, Turki, Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Era Nurza aktif dalam sejumlah komunitas literasi. Ia punya motto akan berkarya selagi aksara ada.

Kategori:
Tags:

Terkini