Minggu, 07 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ruang Kata Menyatukan Dunia di Mini Teater Perpustakaan Bung Hatta

Era Nurza

Bukittinggi kembali menjadi titik temu bagi para pencinta literasi dunia. Dalam balutan suasana hangat dan penuh semangat kebudayaan, kegiatan diskusi buku bertajuk Ruang Kata dan Gagasan digelar di Ruang Mini Teater Perpustakaan Bung Hatta, Bukittinggi. Acara yang menjadi bagian dari rangkaian IMLF ke- 4 tersebut menghadirkan penulis, penyair, dan pegiat literasi dari berbagai negara dalam satu panggung dialog yang kaya makna.

Baca juga: Transformasi Paradigma Penanggulangan Bencana: Bupati Biak Numfor Buka Rakorda BPBD Se-Provinsi Papua 2026 di Tengah Visi “Papua Tangguh”

Ruang mini teater siang itu seolah berubah menjadi pelabuhan kata. Beragam bahasa, pengalaman, serta perspektif berlayar menuju tujuan yang sama: memperkuat jalinan persaudaraan melalui sastra. Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti setiap sesi diskusi, menyimak gagasan-gagasan yang lahir dari pengalaman lintas budaya dan lintas negara.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber internasional, di antaranya Rohani Din dari Singapura, Francisco Munoz S. dari Spanyol, Norhayati Hj Khamis dan Hashimah Hashim dari Malaysia, Bang Ai Tho dari Vietnam, May White dari Australia, Manuel Alejandro Ceballos dari Meksiko, Nandan Masilamani serta Prof. Dr. Prithviraj Taur dari India. Indonesia sendiri diwakili oleh Dikdik Sadikin, Dr.Andria C. Tamsin, M.Pd., Mira Gusniwati, dan Nuyang Jaimee.

Baca juga: AKAR-AKAR YANG MENYANGGA FAJAR

Dalam suasana dialog yang akrab, para narasumber berbagi pandangan mengenai peran sastra sebagai jembatan kemanusiaan. Mereka menyoroti bagaimana karya sastra mampu menembus batas geografis, agama, budaya, bahkan politik. Kata-kata yang lahir dari hati, menurut mereka, memiliki kemampuan untuk mempertemukan manusia dalam ruang pemahaman yang lebih luas.

Tidak hanya membahas proses kreatif dan perkembangan literasi di negara masing-masing, para pembicara juga mengulas sejumlah karya antologi yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Setiap tanggapan dan pemikiran yang disampaikan memperlihatkan bahwa sastra tetap memiliki tempat istimewa di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan zaman.

Keindahan acara semakin terasa ketika sesi pembacaan puisi dimulai. Delegasi dari berbagai negara bergantian tampil membacakan puisi karya mereka. Suara-suara dari berbagai penjuru dunia mengalun dalam satu ruang, menghadirkan warna yang berbeda namun berpadu dalam harmoni kemanusiaan.

Ada puisi yang berbicara tentang perdamaian, ada pula yang mengisahkan kerinduan, harapan, perjuangan, hingga kecintaan terhadap tanah kelahiran. Setiap bait mengalir lembut, menembus dinding bahasa dan menjangkau perasaan para pendengar. Tepuk tangan yang bergema selepas pembacaan puisi menjadi bukti bahwa sastra masih mampu menyentuh hati manusia, apa pun latar belakangnya.

Bagi Perpustakaan Bung Hatta, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata dukungan terhadap penguatan budaya literasi dan diplomasi budaya. Kehadiran para delegasi internasional tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga memperkenalkan Bukittinggi sebagai kota yang terbuka terhadap dialog kebudayaan dunia.

Ruang Kata dan Gagasan akhirnya bukan sekadar sebuah diskusi buku. Ia menjelma menjadi pertemuan jiwa-jiwa yang percaya bahwa kata dapat menyalakan cahaya, menyatukan perbedaan, serta menumbuhkan harapan. Dari Mini Teater Perpustakaan Bung Hatta, pesan itu melayang jauh melintasi batas negara: bahwa sastra akan selalu menemukan jalannya untuk mempertemukan manusia dalam satu bahasa yang paling universal, yaitu kemanusiaan.

Bukittinggi, 5 Juni 2026

Kategori:
Tags:

Terkini