Minggu, 30 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Puisi – Puisi Karya Leni Marlina dan Zulkifli Abdy

/1/

KUNCI YANG TUMBUH DI TANGANMU

Puisi: Leni Marlina

Baca juga: Ketika Senja Tak Boleh Sepi: Lansia Paroki Santa Maria Biak Merawat Harapan

Engkau lahir dari tanah, dari hujan, dari nadi,
sebuah peta belum tentu menjadi negeri,
kau berjalan membawa luka, membawa sunyi,
lalu belajar: rumah bukan tempat, melainkan cara memberi.

Baca juga: REUNI LINTAS ANGKATAN (LINTANG)

Di pasar timbangan tidur sebelah mata,
beras menguning di bawah lidah harga,
engkau luruskan jarumnya dengan telapak terluka,
dan besi yang dingin pun mengenal malu pada manusia.

Di jalan lubang membuka mulut yang lapar,
menelan roda, menelan upah, menelan sabar,
engkau isi dengan batu, tambal dengan akar,
hingga langkah orang kecil tak lagi patah di tengah jalan yang liar.

Di meja kantor stempel berkaki mengejar nama,
mengunyah wajah, menggemukkan angka,
engkau tahan tanganmu agar tak berubah menjadi gigi mereka,
sebab manusia bukan kertas yang selesai oleh satu cap semata.

Anakmu menggambar rumah di bawah cahaya pagi,
empat dinding, satu jendela, pintu tanpa kunci,
“Siapa boleh masuk?” ia bertanya sekali lagi,
engkau membuka pintu: “Yang datang sebagai manusia, masuklah kemari.”

Malam menjahit bendera dengan benang luka,
merah dari darah, putih dari napas yang dijaga,
angin menyusup ke seratnya, membuat kain itu bernyawa,
ia berkibar bukan untuk disembah, melainkan mengingatkan siapa menjaga sesama.

Engkau tak mengangkat negeri dengan pidato dan puja,
tapi mengangkat tubuh yang jatuh di pinggir jalan raya,
sepotong roti dibelah menjadi dua tanpa bertanya,
dan meja sempitmu tiba-tiba lebih luas daripada peta.

Engkau berjalan tanpa mahkota, tanpa prasasti, tanpa puji,
tak meminta sejarah menghafal jejakmu setiap hari,
sebab bangsa bukan patung yang menunggu manusia berlutut di kaki,
ia bernapas melalui pilihanmu ketika tak seorang pun melihat diri.

Jika suatu hari pintu berkata, “Bukan untukmu tempat ini,”
jangan mengecilkan tubuh, jangan menyerahkan kunci,
sentuh engselnya—dengarkan karat menyimpan jerit sunyi,
lalu buka dari dalam: sebuah negeri menjadi rumah ketika tak ada manusia yang harus mengecil untuk tinggal di dalamnya.

Padang, Sumbar, 2025

/2/

BELUM JADI TUAN DI NEGERI SENDIRI

Puisi: Zulkifli Abdy

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka
Hari kemerdekaan berulang-ulang
Kita rayakan setiap 17 Agustus
Benarkah kita telah merdeka
Secara de jure tentu sudah
Dan dunia mengakuinya
De facto terasa belum
Bangsa belum bebas
Dari jerat kemiskinan
Bayar pajak ini dan itu
Dari rasa ketidakadilan
Harga yang serba mahal
Berbagai kebijakan negara
Yang tak berpihak pada rakyat
Kesempatan kerja yang terbatas
Anehnya, tenaga asing relatif bebas
Rakyat belum jadi tuan di negeri sendiri.

(Banda Aceh, 17 Agustus 2026).

/3/

KALI INI BUKAN BARANGKALI

Puisi: Zulkifli Abdy

Kali ini
Aku tak ingin menulis metafora angin
Tetapi lebih tentang napas
Kehidupan
Tak juga tentang matahari dan bulan
Tetapi lebih tentang energi
Kekuatan

Kali ini
Aku tak ingin bercerita tentang daun
Tetapi lebih tentang buah
Kemanfaatan
Tak juga ingin bertanya tentang janji
Tetapi lebih tentang bukti
Kenyataan

Kali ini
Aku tak menuntut penegakan hukum
Tetapi lebih daripada itu
Keadilan
Tak lagi bicara tentang kemerdekaan
Tetapi lebih daripada itu
Kesejahteraan.

(Banda Aceh, 8 Agustus 2026).

——

Tentang Penyair – Zulkifli Abdy

Zulkifli Abdy merupakan penulis dan penyair senior kelahiran Jambi yang berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia merupakan lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas untuk mengisi kesenggangan, tetapi salah satu cara untuk menuangkan perasaan secara imajinatif, juga sebagai pengganti catatan harian.

—-

/4/

NEGERI BUKAN YANG KAU MILIKI

Puisi: Leni Marlina

Pagi itu kau membeli beras; timbangan berkedip sebelah mata,
butir-butir bergeser, menggigil di bawah harga,
satu koin jatuh—lantai menelannya tanpa suara,
kau membungkuk: wajahmu sendiri mengapung di sana.

Di jalan, lubang membuka lambung, lapar dan lebar,
menelan roda, memuntahkan sandal yang masih hangat benar,
kau jongkok, memasukkan batu ke mulutnya yang liar,
jalan mengatup pelan—kakimu pulang tanpa gentar.

Di kantor, stempel berlari mengejar nama,
mengunyah wajah menjadi nomor, menggemukkan angka,
kau tangkap sebelum tinta menyelesaikan mangsa,
merah di telapakmu: luka, atau bendera yang lupa.

Pulang, anakmu menggambar rumah tanpa pagar,
satu pintu, satu jendela, langit tanpa kawat berduri dan pagar,
“Jika negeri ada di dada, mengapa dadaku sempit, Ayah?”
kau diam—piring di meja cuma cukup untuk separuh lapar.

Tanah di halaman membuka retak, mengeluarkan akar,
akar menyentuh kakimu—bukan mengikat, hanya mengajar,
pohon tidak tumbuh sendirian; ia berbagi tanah, air, dan sabar,
kau berlutut—debu masuk kuku, dan sesuatu di dalam dirimu mekar.

Di kursi, bendera tergeletak; jahitannya terlepas di sisi,
kau mengambil jarum, tinta, tanah, darah masih tinggal di jari,
kau jahit bagian yang robek—bukan agar kain tampak rapi,
tetapi agar tanganmu tahu: yang koyak tak selalu harus dibuang pergi.

Angin datang; kain bergerak, tidak tinggi—hanya lebih dekat ke bumi,
kau membuka telapak: merah, tanah, benang, sedikit nyeri,
di antara menggenggam dan melepas, kau menemukan arti,
negeri bukan yang kau miliki—melainkan manusia yang kau pilih untuk kau lindungi.

Kategori:
Tags:

Terkini