Minggu, 30 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ketika Senja Tak Boleh Sepi: Lansia Paroki Santa Maria Biak Merawat Harapan

Maria Desyline Gawi, S.Kep., Ns., M.Kep (Berdiri) memperhatikan para lansia bergiliran sesuai nomor urut untuk diperiksa dokter dan para medis.

Paulus Laratmase| Penulis

BIAK — SUARA ANAK NEGERI | Di usia senja, tubuh mungkin tak lagi sekuat dahulu. Langkah mulai melambat, tenaga berkurang, bahkan sebagian harus menjalani hari-hari dari tempat tidur. Namun, usia tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti dirawat, didengar, dan disapa, demikian Ketua WKRI Cabang Paroki Santa Maria Biak, Ibu  Selfiana M. Pattipeiluhu, SE, mengawali kegiatan Posyandu Lansia Paroki Santa Maria Biak, Jumat, 28 Agustus 2026 di Gereja Katolik Santa Maria Biak. Ia pun menegaskan bahwa Posyandu Lansia menjadi tanggunjawab Koordinator Bidang Kesehatan, Ibu Maria Desyline Gawi, S.Kep., Ns., M.Kep.

Baca juga: Ringkasan reflektif-kritis atas buku Pdt. Albertus M. Patty: Patty, A. M. (2026). Mengikut Yesus di dunia yang berubah pesat: Gereja ada di mana dan mau ke mana? Grafika KreasIndo.

Di tengah para lansia yang mengikuti pemeriksaan kesehatan atau general check up, Koordinator WKRI Cabang Paroki Santa Maria Biak Bidang Kesehatan Lansia, Maria Desyline Gawi, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa kegiatan ini  menjadi bagian dari upaya membangun perhatian yang lebih terorganisasi terhadap kehidupan para lansia.

“Ini sebenarnya masuk dalam kegiatan paroki. Di paroki sekarang, sudah ada model seperti organisasi khusus untuk lansia. Salah satu kegiatannya adalah Posyandu Lansia,” ungkapnya.

Baca juga: DEMONSTRASI: ALARM DEFISIT DEMOKRASI

Menurut Desy, Posyandu Lansia secara ketentuan dapat dilaksanakan maksimal enam kali dalam setahun. Namun, pihaknya berupaya agar kegiatan tersebut dapat dilakukan setiap bulan agar kondisi kesehatan para lansia dapat dipantau secara lebih berkesinambungan.

“Posyandu Lansia itu dilakukan maksimal setahun enam kali. Tetapi kita berusaha untuk melakukan setiap bulan supaya kesehatan lansianya terpantau,” katanya.

Bukan Sekadar Memeriksa, tetapi Menemani

Pendampingan terhadap lansia, kata Maria, tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan. Dalam rangkaian kegiatan ini juga, direncanakan adanya ibadah rutin setiap bulan.

Sebelumnya, kegiatan ibadah bagi para lansia dilakukan dari rumah ke rumah. Tradisi itu diupayakan tetap dilanjutkan sebagai bagian dari pelayanan pastoral dan kebersamaan umat.

Kepengurusan khusus lansia Gereja Katolik Paroki Santa Maria Biak juga sementara dibentuk. Rencananya, kepengurusannya akan diberkati oleh Pastor Paroki sebagai bentuk penguatan pelayanan kepada kelompok lansia.

Dengan demikian, Posyandu lansia bukan berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas: menjaga kesehatan, merawat iman, dan memastikan para lansia tetap memiliki ruang untuk bersosialisasi.

88 Lansia Masuk Database Paroki

Antusiasme terlihat dari jumlah lansia yang mengikuti kegiatan. Berdasarkan daftar hadir dan kartu antrian yang digunakan, sekitar 30 lansia hadir dalam kegiatan  pada hari Jumat, 28 Agustus 2026.

Sementara itu, jumlah lansia yang telah masuk dalam database Paroki Santa Maria Biak mencapai sekitar 88 orang.

Namun, tidak seluruh lansia dapat hadir secara langsung. Sebagian di antaranya memiliki keterbatasan mobilitas, bahkan harus menjalani kehidupan sehari-hari di tempat tidur.

“Mereka yang tidak bisa datang ke gereja karena mobilitasnya terbatas dan hanya bisa berada di tempat tidur, itu harus dilakukan kunjungan rumah,” jelas Maria.

Pelayanan ini dilakukan melalui koordinasi dengan Puskesmas Biak Kota maupun puskesmas sesuai wilayah tempat tinggal lansia.

Maria mengatakan, untuk lansia yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Biak Kota, pihaknya berkoordinasi agar petugas kesehatan dapat melakukan kunjungan. Sementara bagi lansia yang berada di luar wilayah tersebut, koordinasi dilakukan dengan puskesmas setempat.

“Kalau di wilayah kerja saya, ada sekitar dua orang yang sudah kami kunjungi. Mereka warga umat Katolik di Paroki Santa Maria Biak karena sudah tidak bisa datang ke Posyandu,” ujarnya.

Dua lansia itu, masing-masing mengalami kondisi yang membuat mereka tidak mampu menghadiri kegiatan secara langsung. Salah satunya mengalami stroke, sementara yang lainnya sudah berusia sangat lanjut dan harus lebih banyak beristirahat di tempat tidur.

Menjaga Senja Tetap Produktif

Bagi Desy, perhatian kepada lansia pada akhirnya bukan hanya soal angka tekanan darah, pemeriksaan kesehatan, atau catatan medis.

Ada sesuatu yang lebih besar: memastikan bahwa masa tua tetap memiliki makna.

Ia berharap keberadaan Posyandu Lansia Paroki Santa Maria dapat membantu para lansia tetap sehat, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

“Supaya lansia tetap produktif, tetap sehat, dan umur harapan hidupnya bisa meningkat,” katanya.

Ia menyebut angka umur harapan hidup di Biak Numfor yang berada di kisaran 70 tahun lebih sebagai salah satu alasan pentingnya perhatian terhadap kelompok lanjut usia.

“Kita berharap lansianya, warga lansia yang ada di Paroki Santa Maria tetap produktif, tetap sehat, dan bisa hidup lebih dari 70 tahun,” harapnya.

Di usia ketika dunia perlahan bergerak lebih cepat daripada langkah kaki, perhatian menjadi bentuk kasih yang paling sederhana.

Sebab, menjadi tua bukan berarti harus menjadi sunyi.

Ada tangan yang perlu menggenggam. Ada kesehatan yang perlu dijaga. Ada doa yang perlu terus dipanjatkan. Dan ada kehidupan yang, meski telah memasuki senja, tetap layak dirayakan.

Posyandu Lansia Paroki Santa Maria Biak pun hadir bukan hanya untuk memeriksa kesehatan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap lansia tetap merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang tidak melupakan mereka.

 

Kategori:
Tags:

Terkini