Senin, 20 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

MENCUIL PERSEPSI TUHAN DAN BUKAN TUHAN*

Oleh Reiner Emyot Ointoe

„Keempat pria ini, Hitchean, Dennet, Dawkins, Harris, menjadikan tujuan hidup mereka untuk menyerang dan membongkar agama dengan segala cara yang mereka bisa. Namun, mereka semua pemikir amatir dengan pemahaman sangat buruk tentang agama-agama yang ingin mereka serang.

Baca juga: Di Balik Seragam Loreng, Ada Kepedulian yang Tak Pernah Padam

Namun, tetap saja mereka menyerang. Dan setiap kali mereka kehabisan logika, filsafat, dan teologi, mereka beralih ke argumen budaya, moralitas, dan politik.“ — Subboor Ahmad(41), Apologet Muslim asal Irak, dalam Kejatuhan Dawkins dan Runtuhnya Ateisme Baru: Debat Kritis , Tajam dan Mencerahka(Terjemahan IRCiSoD, 2026).

Tak satupun definisi soal Tuhan yang sempurna dan paripurna. Meski Tuhan sendiri didaulat Mahasempurna(Omni Potent).

Lantas definisi apa yang pas untuk mendeskripsi tentang Dia(Arab lainnya: رائع)?

Baca juga: MPLS Hari Kelima SMK Negeri 1 Biak Tanamkan Semangat Hidup Sehat, Peduli Lingkungan, dan Tertib Berlalu Lintas

Sejak ada rasio, pengetahuan(logos) atau kognisi, Tuhan malah menjadi lebih rumit dibahas bahkan diyakini.

Fasilitas filsafat, teologi dan sains akhir-akhir ini terus mencari-cari bukti apakah Tuhan yang diyakini masih penting untuk dipersoalkan?

Bahkan bagi Stenger, sekedar hipotesis yang gagal maupun dalam “outgrowing God dan god is no great, Dawkins dan mendiang Hitchean.

Padahal, menurut bio-antropolog, Agustine Fuentes, ada 83%(5,3 miliar) manusia yang masih memercayai adanya Tuhan dengan berbagai varian dan predikat yang pantas disembah.

Sementara hanya sekitar di bawah 3% yang tidak percaya adanya Tuhan. Kaum ateis, lama maupun baru, hingga dengan kategori agnostik.

Akan tetapi, mereka dari mereka rata-rata para sainstis yang mendeklarasi tak ada Tuhan(ateis). Sebut saja, mendiang Stephen Hawking, Christopher Hitchean, Daniel Dennet dan Richard Dawkins serta Sam Harris.

Keempat dari mereka, dua telah menemui ajal, Hitchean dan Dennet, sisa Dawkins dan Harris yang populer dengan sebutan Four Horsemen, Empat Penunggabg Kuda.

Namun demikian, dalil ateisme mereka hingga kini telah memperoleh kritik yang cukup kokoh dari Subboor Ahmad — aktif dalam Islamic Education and Research Academy(iERA) seperti tersua dalam buku barunya, Dawkins Deselected: The Extinction of New Atheism(2025).

Mengapa rata-rata yang tak mempercayai adanya Tuhan itu kebanyakan para sainstis?

Selain dikampanyekan lewat debat daring-luring, mereka ikut memromosikan itu lewat buku-buku mereka yang laris dan terus berargumen untuk menyangkal tidak adanya Tuhan dengan hipotesis sainstifik.

Misalnya, bukti astrofisika soal ‘blackhole’, ‘god no great(Hitchean), ‘god delusion’, ‘outgrowing of god'(Dawkins) dan ‘the end of faith'(Sam Harris) atau ‘kinds of mind'(Dennet) hingga ‘mind of god'(Paul Davies) atau ‘god failed hypothesis'(Victor Stenger).

Sebagian besar mereka dikenal sebagai ateis. Kelak, menurut Ahmad, „Salah satu penyebab utama kesesatan intelektual para Ateis Baru adalah komitmen mereka yang tidak berdasar kepada saintisme. Inilah lensa tunggal yang mereka gunakan untuk melihat dunia, sehingga mereka tidak mampu melihat realitassecara beraneka warna.“

Di pihak sainstis yang percaya adanya Tuhan bisa dirujuk pada Karen Armstrong(History of God), Dhepak Chopra(Future of God), Francis Collins(Language of God) hingga Reza Aslan(No God but God) atau The Evolution of God(Robert Wright), One True God(Rodney Strak), God’s Philiosophers(James Hannam) dan tentu lebih banyak lagi daftarnya.

Lalu, apa esensi dan hakikatnya mempersoalkan ada tidak adanya Tuhan baik bagi kalangan ahli maupun awam?

Apakah dengan membuktikan tidak adanya Tuhan — sejauh ini belum ada bukti kecuali sebatas hipotesis — kita telah memenangkan kejayaan hidup di dunia sampai kita mati?

Atau, apakah juga dengan memercayaiNya tanpa satu buktipun juga dengan kemenangan hingga mati, sudah menjawab keberadaan Tuhan?

Dua orang sainstis dan teolog yang ateistik dan teistik, Jon Avery dan Hasan Askari, dari fakultas teologi Temple universitas pernah berdebat hingga tuntas soal bukti ada tidaknya Tuhan dalam “Towards a Spiritual Humanism”(1991).

Argumen akhir debat itu datang dari Askari sang teistik: “Jon, tidak mudah bagiku untuk membuktikan agar kau percaya adanya Tuhan sebagaimana kau juga tak percaya adanya Tuhan.”

Sampai di sini, dialog humanisme itu bukan perkara kemampuan membuktikan ada tidaknya Tuhan.

Akhirnya, dialog itu hanya bisa menyimpulkan dengan mediatif: bukan soal bisa membuktikan ada tidaknya Tuhan atau ada Tuhan dan bukan Tuhan.

Tapi, bersama segala keterbatasan dan kemajuan, potensi spiritualitas manusia lah yang bisa menjawab dan membukti itu.

Karna spiritualitas itu sendiri, sebuah potensi kredo universal yang dimiliki manusia manapun dengan percaya Tuhan atau tanpa Tuhan, bukan masalah.

*Ditulis ulang dari laman FB LITERATER(LITERASI & TEATER), 23 Juli 2020.

#coversongs:
“Imagine” dirilis John Lennon pada 11 Oktober 1971 sebagai single dan bagian dari album Imagine.

Lagu ini segera menjadi salah satu karya paling berpengaruh abad ke‑20, dengan makna utopis: membayangkan dunia tanpa batas negara, tanpa agama yang memecah belah, dan tanpa harta yang menimbulkan keserakahan.

#credit foto koleksi buku tentang Tuhan di ReO Bibliothek Kokima Hill — Manado, 19 Juli 2025.

Kategori:
Tags:

Terkini