Aresnyaman| Penulis
–
PADANG — SUARA ANAK NEGERI| Festival Literasi Daerah Sumatera Barat tahun ini tidak sekadar menjadi ruang pamer buku dan karya tulis. Panggung literasi di halaman Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat berubah menjadi panggung kreativitas ketika komunitas Penyala Literasi Semesta (PLS) tampil membawa karya, talenta, dan semangat generasi muda.
Baca juga: "NEGARA BUKAN PANGGUNG"
Festival Literasi Daerah resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi. Hadir pula Bunda Literasi Sumatera Barat, Harneli Bahar, bersama para Bunda Literasi dari berbagai kabupaten dan kota se-Sumatera Barat.
Kehadiran berbagai stan dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, pelaku UMKM, serta komunitas literasi semakin menyemarakkan kegiatan. Namun, di tengah deretan stan yang menawarkan berbagai program dan inovasi, stan Penyala Literasi Semesta menjadi salah satu titik yang menarik perhatian pengunjung.
Beragam buku karya siswa dan guru anggota PLS dipajang dan menjadi bukti bahwa gerakan literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca, tetapi berkembang menjadi gerakan menciptakan dan menerbitkan karya.
Baca juga: SUKA-SUKA KAU LAH
Dua Duta Literasi Bikin Panggung Bergemuruh
Tidak hanya aktif di area pameran, PLS juga menunjukkan eksistensinya di panggung utama.
Dua Duta Penggerak Penyala Literasi Semesta, Afiqa Carissa Makmur dan Afika Inaya Malika, siswi SMPN 2 Padang, tampil membawakan teatrikal puisi. Penampilan keduanya yang memadukan kekuatan sastra, ekspresi, dan seni pertunjukan berhasil mencuri perhatian pejabat dan tamu undangan.
Tepuk tangan penonton pun menggema setelah keduanya menyelesaikan penampilan.
Bagi PLS, panggung tersebut menjadi ruang penting untuk menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja memiliki kemampuan luar biasa ketika diberikan kesempatan untuk berekspresi melalui literasi dan seni.
Gubernur Mahyeldi Sambangi Stan PLS
Perhatian terhadap PLS semakin terasa ketika Gubernur Sumatera Barat Buya Mahyeldi, didampingi Bunda Literasi Sumbar Harneli Bahar dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi, mengunjungi langsung stan PLS.
Rombongan melihat secara langsung deretan buku karya siswa dan guru yang dipajang di stan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Buya Mahyeldi bersama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jumaidi menyampaikan apresiasi terhadap karya-karya yang dihasilkan para siswa dan guru anggota PLS.
Apresiasi tersebut menjadi energi baru bagi komunitas PLS untuk terus memperluas gerakan literasi, terutama dalam mendorong lahirnya penulis-penulis muda dari Sumatera Barat.
Eka Teresia: Literasi Harus Melahirkan Karya
Pimpinan Penyala Literasi Sumbar, Eka Teresia, S.Pd., M.M., mengatakan kehadiran PLS dalam Festival Literasi Daerah merupakan bagian dari komitmen komunitas untuk membangun ekosistem literasi yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan membaca, tetapi juga menghasilkan karya nyata.
“Literasi bagi kami bukan hanya tentang membaca buku. Literasi harus menjadi proses yang mendorong seseorang untuk berpikir, berani berekspresi, menulis, dan akhirnya melahirkan sebuah karya yang dapat dibaca dan memberi manfaat bagi orang lain,” ujar Eka Teresia.
Menurutnya, keterlibatan siswa dan guru dalam menghasilkan buku menunjukkan bahwa dunia pendidikan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekosistem literasi.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi pencipta. Ketika seorang siswa berani menulis dan karyanya diterbitkan menjadi buku, di situlah kita melihat bahwa gerakan literasi benar-benar hidup,” katanya.
Eka juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terhadap gerakan literasi yang berkembang melalui komunitas, sekolah, guru, dan generasi muda.
“Kami berterima kasih atas apresiasi dan dukungan yang diberikan. Ini menjadi motivasi bagi Penyala Literasi Semesta untuk terus menyalakan semangat berkarya, mendampingi para penulis muda, dan membuka ruang seluas-luasnya bagi guru serta siswa untuk menghasilkan karya,” tuturnya.
Dari Stan Buku Menuju Gerakan Literasi
Festival Literasi Daerah Sumatera Barat akhirnya memperlihatkan wajah lain dari gerakan literasi. Buku memang menjadi bagian penting, tetapi kreativitas, keberanian tampil, kemampuan menulis, dan kolaborasi antargenerasi menjadi kekuatan yang tidak kalah penting.
Kehadiran PLS melalui pameran buku sekaligus aksi panggung menjadi gambaran bahwa literasi dapat hadir dalam berbagai bentuk dari halaman buku hingga panggung seni.
Semangat tersebut menjadi pesan penting dari festival: literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi bagaimana pengetahuan diubah menjadi kreativitas, kreativitas menjadi karya, dan karya menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Dari Ranah Minang, nyala literasi terus dijaga agar tidak hanya menerangi ruang kelas, tetapi juga menyebar ke tengah masyarakat dan melahirkan generasi yang berani berpikir, berkarya, serta menyuarakan gagasan.


