Sabtu, 13 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD. Domincs Baldawins Masriat: Hati yang Tak Bernoda, Jalan Menuju Kedamaian

Oleh: Johanis Kopong

http://suaraanaknegeri.com | Manila – Ditengah derasnya arus kehidupan modern yang dipenuhi tuntutan pekerjaan, pendidikan, dan persoalan ekonomi, manusia kerap terjebak dalam kesibukan yang perlahan mengikis ruang bagi kehidupan rohani. Dalam situasi itulah, RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary, University of Santo Tomas (UST), Manila, Filipina, mengajak umat untuk kembali menata hati dan menjadikan keluarga sebagai tempat pertama bertumbuhnya iman.

Pesan tersebut disampaikan melalui refleksi “Sejenak Sabda”, Sabtu (13/6/2026), bertepatan dengan Peringatan Wajib Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria, yang didasarkan pada bacaan Yesaya 61:9–11 dan Lukas 2:41–51.

Baca juga: ATR/BPN Perkuat Tata Ruang untuk Dukung KSPEAN Papua Selatan

Bagi RD. Domincs Baldawins Masriat, keberhasilan dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial tidak boleh menggeser prioritas utama seorang beriman, yakni memelihara relasi dengan Tuhan dan membangun kehidupan rohani di dalam keluarga.

“Sesibuk apa pun kita dengan urusan pekerjaan, sekolah, atau ekonomi, kita tidak boleh mengabaikan pertumbuhan iman dan kehidupan rohani di dalam keluarga,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi refleksi yang relevan ketika banyak keluarga menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Kesibukan sering kali menghadirkan jarak, bukan hanya antarsesama anggota keluarga, tetapi juga antara manusia dengan Tuhan.

Baca juga: BPN Tanimbar Tetapkan Lokasi Akses Reforma Agraria Fase I 2026

Lebih jauh, ia mengajak umat memahami makna Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria sebagai teladan kemurnian batin yang diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

“Hati yang ‘tak bernoda’ adalah hati yang tidak dikuasai oleh kepahitan, kemarahan tak terkendali, atau dorongan untuk menghakimi. Saat menghadapi situasi yang memicu stres, kepanikan, atau kesalahpahaman dalam keluarga maupun relasi, kita dipanggil untuk belajar menahan diri, mengomunikasikannya dengan kepala dingin, dan tidak mengedepankan ego,” ungkap RD. Domincs Baldawins Masriat.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar masyarakat modern adalah kecenderungan bereaksi secara spontan terhadap setiap persoalan. Kecepatan teknologi dan media sosial sering kali mendorong orang mengambil kesimpulan tanpa ruang untuk merenung.

Dalam konteks itulah, RD. Domincs Baldawins Masriat menempatkan Bunda Maria sebagai teladan yang mengajarkan keheningan, kesabaran, dan kemampuan membaca karya Allah di balik setiap peristiwa kehidupan.

“Di zaman modern, kita sering kali terlalu cepat bereaksi, cepat mengeluh di media sosial, atau menuntut jawaban instan atas setiap masalah hidup. Hati Maria mengajarkan moralitas tentang kontemplasi dan kesabaran. Ketika hidup memberi kita teka-teki, penderitaan, atau ketidakpastian, belajarlah untuk ‘hening’, merefleksikannya secara mendalam, dan percaya bahwa rencana Tuhan akan indah pada waktunya,” tuturnya.

Keheningan, menurutnya, bukanlah bentuk menyerah, melainkan ruang batin tempat seseorang menemukan hikmat sebelum bertindak. Dalam keheningan, manusia belajar melihat setiap persoalan dengan lebih jernih, tanpa dikuasai emosi maupun kepentingan diri.

Refleksi tersebut kemudian ditutup dengan ajakan untuk tetap memelihara kerendahan hati, meskipun telah mencapai berbagai keberhasilan dalam hidup.

“Sehebat, sepintar, atau sesukses apa pun kita, kita dipanggil untuk tetap memiliki kerendahan hati, menghormati orang tua, dan menghargai otoritas moral dalam keluarga maupun masyarakat,” pesannya.

Mengakhiri renungannya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak seluruh umat memanjatkan doa agar hati setiap orang semakin dimurnikan, serupa dengan Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria.

“Ya Allah, berkatilah kami dan jadikanlah hati kami seperti hati Maria yang ‘Tak Bernoda’ (Immaculate Heart). Semoga hati kami selalu bersih dari noda dosa, kepahitan, dan keegoisan.”

Dari Central Seminary UST Manila, refleksi ini menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kualitas hidup seseorang tidak semata diukur dari keberhasilan yang dicapai, melainkan dari kemampuannya menjaga kejernihan hati, membangun kehidupan rohani dalam keluarga, serta memelihara kasih, kesabaran, dan kerendahan hati.

Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan yang damai, harmonis, dan berakar kuat pada iman.

Kategori:
Tags:

Terkini