Oleh: Era Nurza
–
Sore turun perlahan di beranda rumah tua itu. Langit Padang tampak pucat setelah hujan kecil yang sejak siang tidak benar-benar reda. Ratna duduk sendiri di kursi kayu sambil memandangi jalan yang mulai sepi. Di tangannya, secangkir teh hangat sudah lama kehilangan uap.
Usianya enam puluh tiga tahun.
Baca juga: Batu: Nyanyian dari Tengkorak yang Retak
Anak-anaknya tinggal jauh. Yang sulung di Jakarta, yang bungsu di Pekanbaru. Mereka sering menelepon, sering mengirim kabar, tetapi rumah itu tetap terasa kosong. Terlalu banyak diam yang tinggal di dalamnya sejak suaminya meninggal tujuh tahun lalu.
Hari-hari Ratna berjalan lambat.
Bangun pagi, menyiram bunga, memasak seadanya, lalu menunggu malam datang bersama televisi yang menyala tanpa benar-benar ia tonton.
Sampai suatu sore, seseorang mengetuk pagar rumahnya.
“Assalamu’alaikum.”
Ratna menoleh. Seorang lelaki berdiri sambil membawa payung hitam yang masih basah oleh gerimis.
“Wa’alaikum salam… cari siapa?”
“Saya Arman. Teman lama almarhum suami Ibu.”
Ratna mempersilakannya masuk.
Lelaki itu datang untuk mengembalikan sebuah buku lama. Namun setelah hari itu, Arman mulai sering mampir. Kadang membawa gorengan hangat, kadang hanya membawa cerita sederhana tentang hidup yang semakin sunyi.
Mereka berbicara tentang banyak hal.
Tentang tubuh yang mulai mudah lelah. Tentang anak-anak yang terlalu sibuk. Tentang malam yang semakin panjang ketika usia menua.
Dan tanpa Ratna sadari, kehadiran Arman membuat rumah itu terasa hidup kembali.
Baca juga: DOA YANG TERKUTUK
Suatu malam, listrik padam ketika hujan turun deras. Mereka duduk di ruang tamu dengan cahaya lilin kecil di atas meja.
“Bu Ratna,” kata Arman pelan, “pernah merasa rumah ini terlalu sepi?”
Ratna tersenyum tipis.
“Setiap hari.”
Arman tertawa kecil, lalu menunduk.
“Saya juga begitu.”
Hening jatuh perlahan.
Namun anehnya, hening itu tidak terasa canggung. Justru hangat. Seperti dua orang yang sama-sama lelah berjalan sendiri terlalu lama.
Sejak saat itu, Ratna mulai menunggu kedatangan Arman tanpa berani mengakuinya. Ia mulai memasak lebih rapi. Mulai menyisir rambut lebih lama di depan cermin.
Ada sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam hatinya.
Bukan cinta yang gaduh seperti masa muda. Bukan pula rasa ingin memiliki.
Hanya ketenangan.
Namun dunia rupanya tidak pernah benar-benar ramah pada cinta di usia senja.
Suatu malam, anak sulung Ratna menelepon.
“Ibu sekarang dekat sama Pak Arman?”
Ratna terdiam sesaat.
“Hanya teman bicara.”
“Ibu jangan macam-macam di usia begini.”
Kalimat itu terasa tajam.
Ratna menggenggam ponselnya erat.
“Maksud kamu?”
“Orang-orang nanti ngomong, Bu. Kasihan Papa.”
Ratna menutup matanya pelan.
“Papamu sudah meninggal tujuh tahun lalu.”
“Iya, tapi bukan berarti Ibu harus mencari pengganti.”
Setelah telepon ditutup, Ratna duduk lama dalam gelap. Dadanya sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Ternyata di usia setua ini, hati masih bisa terluka.
Keesokan harinya Arman datang seperti biasa. Namun Ratna tampak murung.
“Ada apa?” tanya Arman.
Ratna tersenyum lemah.
“Anak saya tidak suka Bapak sering datang.”
Arman terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Lucu ya… waktu muda kita dilarang mencintai karena belum mapan. Setelah tua, kita dilarang mencintai karena dianggap tidak pantas.”
Ratna menunduk agar air matanya tidak jatuh.
“Maaf…”
“Tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah dari dua orang kesepian yang saling menemani.”
Kalimat itu membuat hati Ratna bergetar.
Namun setelah itu, bisik-bisik tetangga mulai terdengar semakin jelas. Ada yang mengatakan Ratna terlalu genit untuk perempuan seusianya. Ada yang memandang mereka dengan senyum penuh penilaian.
Ratna mulai membatasi pertemuan mereka.
Suatu sore, Arman berkata pelan, “Kalau kehadiran saya membuat hidup Ibu sulit, saya bisa pergi.”
Ratna langsung menatapnya.
“Jangan bicara begitu.”
“Tapi saya tidak mau Ibu terluka.”
Hening kembali duduk di antara mereka.
Lalu Arman berkata sangat pelan, “Saya menyayangi Ibu.”
Ratna membeku.
Tidak ada bunga. Tidak ada kata-kata indah.
Namun justru karena sederhana, kalimat itu terasa sangat tulus.
Air mata Ratna jatuh perlahan.
“Saya lupa rasanya diperhatikan seperti ini,” katanya lirih.
Arman hanya tersenyum.
Mereka duduk berdampingan memandangi langit senja yang perlahan tenggelam. Tidak saling menyentuh, tetapi hati mereka terasa begitu dekat.
Sayangnya, cinta di usia senja sering kali kalah oleh suara dunia.
Seminggu kemudian, anak-anak Ratna pulang ke rumah.
“Ibu jangan egois,” kata anak sulungnya.
Ratna tersenyum pahit.
“Jadi perempuan tua tidak boleh bahagia?”
“Kami cuma takut Ibu jadi omongan orang.”
Ratna menunduk.
“Aku sudah terlalu lama hidup bersama sepi.”
Ruangan mendadak diam.
Malam itu Ratna menangis sendirian di kamar. Ia tahu anak-anaknya mencintainya. Namun tetap saja, hatinya terasa remuk.
Karena untuk kedua kalinya dalam hidupnya, ia harus mengubur perasaannya sendiri.
Keesokan harinya Ratna menemui Arman di taman kecil dekat masjid.
“Kita sebaiknya jangan terlalu sering bertemu lagi,” katanya pelan.
Arman terdiam lama.
“Karena anak-anak?”
Ratna mengangguk.
“Mereka tidak mengerti.”
Arman tersenyum tipis, meski matanya tampak menyimpan luka.
“Mungkin suatu hari mereka akan tahu… bahwa kesepian juga bisa membunuh perlahan.”
Ratna menangis.
“Saya minta maaf.”
“Jangan. Mencintai Ibu adalah hal paling tenang yang pernah saya rasakan.”
Kalimat itu membuat air mata Ratna jatuh semakin deras.
“Kalau dunia tidak mengizinkan kita bersama,” lanjut Arman lirih, “setidaknya izinkan saya tetap mendoakan Ibu.”
Setelah hari itu, mereka jarang bertemu.
Namun setiap pagi, Ratna sering menemukan sebungkus roti hangat tergantung di pagar rumahnya.
Tanpa nama. Tanpa pesan.
Tetapi Ratna tahu siapa yang meninggalkannya.
Dan setiap selesai salat malam, ia selalu menyebut nama Arman dalam doa-doanya yang paling sunyi.
Kadang cinta memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki.
Ia hanya datang untuk membuat hati yang lama mati kembali hidup sesaat.
Suatu malam, Ratna menerima pesan singkat.
“Bagaimana kabarnya hari ini?”
Ratna tersenyum kecil sambil membalas:
“Baik.”
Beberapa menit kemudian, Arman menjawab:
“Kalau begitu saya tenang.”
Ratna memandangi layar ponselnya lama sekali. Air matanya jatuh tanpa suara.
Di usia senja, cinta ternyata tidak lagi membutuhkan janji besar.
Ia hanya ingin memastikan seseorang baik-baik saja.
Malam semakin larut. Angin bergerak pelan membawa aroma tanah basah sehabis hujan. Ratna duduk sendiri di beranda rumahnya sambil memandang langit yang gelap.
Lalu dalam sunyi yang paling dalam, ia berbisik lirih:
“Sayang… dalam sepi yang paling sunyi, aku masih merindukanmu.”
Padang, 8 Mei 2026
_____
Tentang Penulis
Edrawati, M.Pd., dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah penulis, penyair, dan pendidik. Ia telah menerbitkan beberapa buku tunggal serta terlibat dalam lebih dari 50 antologi fiksi dan nonfiksi. Aktivitas literasinya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga menjangkau berbagai negara seperti Australia, Turki, Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Era Nurza aktif dalam sejumlah komunitas literasi, antara lain, WPI, PERRUAS, WPM, PLS, Satu Pena, SAN, NN, Media Guru, PPP, dan KISI. Melalui karya dan pendidikan, ia konsisten menumbuhkan minat baca dan menulis, khususnya di kalangan generasi muda.



