Minggu, 19 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

REPUBLIK VS SAPU-SAPU

Oleh: Rizal Tanjung

di negeri ini
kami mengumumkan perang
bukan pada keserakahan,
bukan pada pabrik yang memuntahkan luka ke sungai,
bukan pada tangan-tangan yang menebang hutan
seperti mengupas masa depan—

Baca juga: UNCRI Jadi Pusat Penguatan HAM: KemenHAM Papua Barat Libatkan 150 Mahasiswa dalam Edukasi Strategis

kami memilih musuh yang lebih sederhana:
seekor ikan
yang bahkan tidak tahu
ia sedang dijadikan berita utama.

ia berenang tanpa manifesto
tanpa pidato
tanpa ambisi jadi penguasa perairan

Baca juga: Perkuat Sinergi Seni dan Adat, Wakil Bupati Usulkan Perubahan Nama Menjadi Dewan Kebudayaan

ia hanya makan
hanya hidup
hanya berkembang biak
seperti kita—
bedanya,
ia tidak pernah pura-pura suci.

lalu kami datang dengan jaring
dengan kamera
dengan narasi yang rapi dan mudah dicerna:

“inilah penyebab rusaknya ekosistem!”

kami menunjuk sisiknya
seolah-olah plastik di sungai
tidak pernah kami lempar
seolah-olah limbah
tidak pernah kami alirkan diam-diam di malam hari.

kami lupa,
atau sengaja lupa—

bahwa sebelum ikan itu datang
air sudah keruh oleh kesepakatan
yang ditandatangani tanpa nurani

bahwa sebelum ia menggali dasar sungai
kami sudah lebih dulu menggali tanah
sampai akar-akar kehilangan arah pulang.

dan kini
kami berdiri gagah
di atas jembatan yang retak
menjadi pahlawan dadakan
yang berani melawan ikan kecil

kami potret
kami unggah
kami beri judul besar:

“perang melawan sapu-sapu”

like berdatangan
komentar berjatuhan
dan sungai—
tetap diam
tetap sekarat
tanpa kuasa membela diri.

lucunya,
kami tidak pernah menyatakan perang
pada diri sendiri

tidak ada konferensi pers tentang
keserakahan yang dilegalkan

tidak ada operasi tangkap tangan
untuk manusia yang membuang masa depan
ke aliran air.

ikan itu terus berenang
mungkin ia heran

kenapa makhluk paling merusak di bumi
justru menunjuknya
sebagai biang kehancuran.

dan aku membayangkan
jika suatu hari
air benar-benar jernih kembali

ikan-ikan kecil pulang
arus mengalir tanpa luka
dan hutan berdiri utuh seperti doa yang tidak dipotong—

apakah kita masih butuh musuh
untuk merasa benar?

atau justru
tanpa sapu-sapu
kita akan saling menunjuk
dan akhirnya sadar:

yang paling invasif di bumi ini
bukanlah ikan
melainkan
manusia
yang lupa cara hidup
tanpa merusak.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini