Oleh: Rizal Tanjung
–
Batu
adalah usia yang membeku
di pelipis waktu.
Ia lahir dari gunung-gunung purba
yang menelan jerit bumi
lalu mengeras menjadi diam.
Baca juga: MENGGALI ENERGI DENGAN LEBIH SEDIKIT MANUSIA DAN EMPAT TAHAP ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Dan manusia—
anak kandung debu dan cahaya—
menaruh batu itu
di kepalanya,
di dadanya,
di matanya,
hingga langkahnya sendiri
terdengar seperti reruntuhan candi
yang berjalan perlahan
menuju kehancuran.
—
Batu dalam kepala,
batu retak berderak,
dijerang terik
oleh matahari yang murka
seperti nabi tua
yang lelah mengingatkan umatnya.
Baca juga: DOA YANG TERKUTUK
Pecah!
Suara itu melompat
dari tempurung pikiran
ke langit yang luka.
Burung-burung beterbangan
membawa serpihan kesombongan
ke lembah sunyi
tempat gema kehilangan
menggigil sendirian.
Kepala batu—
betapa kerasnya ia menolak hujan.
Betapa congkaknya ia kepada angin.
Ia merasa abadi
padahal retak kecil
telah tumbuh diam-diam
di sudut kesadarannya.
Dan terik waktu
adalah api yang sabar.
Ia membakar perlahan
segala keyakinan yang membatu,
hingga manusia mendengar
suara dirinya sendiri
remuk seperti kendi tua
yang jatuh dari tangan nenek moyang.
—
Batu di dada.
Ah,
siapa yang menaruh gunung
di dalam dada manusia?
Mengapa jantung
harus berdetak
di bawah reruntuhan beban
yang tak bernama?
Batu
mengadu malam
menerkam kegelapan.
Buta!
Malam pun terkejut.
Langit menggigil
melihat manusia berjalan
tanpa mata jiwa,
tanpa pelita kasih,
tanpa kemampuan
untuk menangis.
Dada batu—
tempat cinta terkubur
seperti kota tua
yang hilang ditelan pasir sejarah.
Di sana
doa-doa patah sebelum sampai ke langit.
Pelukan berubah menjadi tembok.
Dan kata-kata
menjadi pisau
yang diasah oleh kecewa.
Buta.
Bukan mata yang kehilangan cahaya,
tetapi hati
yang lupa cara melihat.
Sebab ada manusia
yang dapat memandang matahari
namun tak mampu melihat penderitaan
di wajah saudaranya sendiri.
Ada manusia
yang hafal seluruh nama bintang
namun tak mengenal
air mata ibunya.
—
Batu dada.
Kepala batu.
Pecah!
Maka pecahlah kesunyian itu.
Pecahlah segala tabu
yang disimpan dalam tengkorak ketakutan.
Pecahlah dinding-dinding ego
yang dibangun dari puing-puing kesombongan.
Karena manusia terlalu lama
menjadi batu bagi sesamanya.
Ia duduk di singgasana pendapatnya sendiri,
memahat hukum dari kebekuan,
mengubur kelembutan
di bawah altar kekuasaan.
Dan dunia pun berubah
menjadi lembah batu:
orang-orang saling membentur
tanpa pernah benar-benar menyentuh.
—
Batu.
Buta.
Tabu.
Batu!
Kata-kata itu
bergema seperti mantra purba
di lorong-lorong peradaban.
Batu—
adalah ketakutan yang mengeras.
Buta—
adalah pengetahuan tanpa cahaya batin.
Tabu—
adalah pintu yang dikunci
oleh generasi yang takut kepada perubahan.
Dan manusia
menjadi arca bagi dirinya sendiri:
diam, dingin,
namun diam-diam rapuh.
—
Matahari menyengat,
dan bulan penuh masih ada,
dan kerlip cerlang bintang
masih menulis puisi rahasia
di tubuh langit malam.
Alam tak pernah berhenti
mengajari manusia
cara menjadi cahaya.
Tetapi manusia
lebih memilih batu.
Ia menggenggam dendam
seperti pusaka.
Ia memelihara murka
seperti api suci.
Ia membangun rumah-rumah megah
dari semen kesepian.
Lalu bertanya
mengapa hidup terasa sunyi.
—
Di padang waktu
yang luas seperti kitab tak selesai dibaca,
aku melihat manusia-manusia batu
berjalan membawa kepalanya sendiri
bagai makam.
Mereka tertawa
namun suara mereka kosong.
Mereka berbicara
namun kata-katanya berdebu.
Mereka mencintai
namun cinta mereka
keras dan tajam
seperti tebing karang
yang menunggu ombak untuk hancur.
—
Batu kepala.
Buta dada.
Batubuta.
Batu!
Dan dunia terus berputar
di antara pecahan mimpi.
Anak-anak lahir
membawa cahaya di matanya,
namun perlahan
dunia mengajari mereka
cara menjadi batu:
menahan tangis,
menyembunyikan luka,
memakai topeng kekuatan
agar tidak dianggap lemah.
Maka tumbuhlah generasi
yang pandai berbicara
namun lupa mendengar,
pandai menghakimi
namun takut memahami.
—
Namun di suatu malam
yang sangat sunyi,
ketika bulan menggantung
seperti lentera tua
di langit kenangan,
aku mendengar suara kecil
dari dalam batu itu sendiri.
Tangis.
Ya—
bahkan batu pun menangis
ketika kesepian terlalu lama
dikuburkan dalam diam.
Retaknya
adalah doa.
Pecahnya
adalah kelahiran baru.
Karena tak ada batu
yang benar-benar abadi.
Waktu akan menghancurkannya.
Cinta akan melunakkannya.
Air mata akan mengikisnya.
Dan Tuhan—
dengan rahasia-Nya yang tak selesai dipahami manusia—
akan mengubah batu paling keras
menjadi debu,
lalu meniupkannya kembali
ke dalam tubuh kehidupan.
—
Maka pecahlah,
wahai kepala batu.
Runtuhlah,
wahai dada batu.
Biarkan hujan masuk
ke celah-celah retakmu.
Biarkan cahaya menyelinap
ke reruntuhan egomu.
Karena hanya yang retak
yang mampu menerima terang.
Dan hanya yang hancur
yang benar-benar tahu
arti pulang.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026



