Selasa, 14 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

CERMIN

Oleh: Rizal Tanjung

Terkadang,
cerminlah yang mengajakku bertemu diri sendiri—
bukan dunia, bukan orang-orang yang gemar menamai luka
dengan pujian yang palsu,
melainkan sepotong kaca dingin
yang tak pandai berbohong.

Baca juga: Puing

Ia berdiri tanpa bahasa,
tanpa tepuk tangan,
tanpa topeng-topeng yang disewakan oleh pergaulan.

Di sanalah aku,
seperti aktor yang lupa perannya sendiri,
berdiri telanjang dari segala pencitraan—
hanya tubuh, hanya mata, hanya napas
yang tersisa dari keramaian yang lelah.

Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Poetry Collection "Never Surrender and the Road that Remembers You"

Cermin,
kau adalah hakim paling sunyi
yang tak pernah belajar tentang kompromi.

Kau tak mengenal kata “mungkin,”
tak peduli pada alasan yang kubangun
seperti istana pasir di tepi kejujuran.

Kau hanya memantulkan—
dan dalam pantulan itu,
aku melihat betapa wajahku adalah arsip
dari segala kebohongan yang pernah kupeluk
sebagai kebenaran.

Di luar sana,
aku adalah seseorang.
Seseorang yang disukai,
yang dipuji,
yang dianggap tahu arah
meski berjalan di lorong yang salah.

Aku adalah tawa yang terlatih,
adalah anggukan yang sopan,
adalah kalimat-kalimat yang dirancang
agar tidak melukai siapa pun—
kecuali diriku sendiri.

Namun di hadapanmu, wahai cermin,
aku hanyalah pertanyaan
yang lupa bagaimana cara dijawab.

Mengapa mataku tampak seperti laut
yang kehilangan ombaknya?
Mengapa senyumku
terlihat seperti bunga plastik
yang tak pernah mengenal musim gugur?

Dan mengapa,
di balik wajah yang kukenal seumur hidup ini,
aku merasa seperti tamu
yang tersesat di rumahnya sendiri?

Ah, cermin…
kau terlalu jujur untuk dunia yang gemar berdandan.

Di luar sana,
orang-orang berlomba menjadi bayangan
dari harapan orang lain.
Mereka memahat wajahnya
dengan pahat pengakuan,
mengukir dirinya
agar muat dalam bingkai pujian.

Dan aku—
aku adalah salah satu dari mereka,
seorang pemahat yang kelelahan
menciptakan versi diri
yang bahkan tak ingin kutemui.

Betapa lucunya hidup ini,
ketika manusia lebih akrab dengan topengnya
daripada wajahnya sendiri.

Kita belajar tersenyum
sebelum belajar jujur.
Kita belajar berbicara
sebelum memahami sunyi.
Kita belajar menjadi orang lain
sebelum menjadi diri sendiri.

Dan cermin—
kau datang terlambat,
atau mungkin aku yang terlalu lama
menghindar darimu.

Di hadapanmu,
aku melihat seorang lelaki
yang mengumpulkan harapan
seperti pengemis mengumpulkan recehan—
tak pernah cukup,
tak pernah utuh,
tak pernah benar-benar miliknya.

Aku melihat mata yang penuh janji,
namun gemetar saat harus menepatinya.

Aku melihat seseorang
yang ingin dicintai oleh dunia,
tetapi lupa bagaimana mencintai dirinya sendiri.

Cermin,
kau tidak hanya memantulkan wajahku—
kau memantulkan seluruh kegagalan
yang pernah kusembunyikan
di balik kata “nanti.”

Nanti aku akan berubah.
Nanti aku akan jujur.
Nanti aku akan menjadi diriku sendiri.

Namun “nanti”
adalah kebohongan paling halus
yang pernah diciptakan manusia—
ia tak pernah datang,
ia hanya berulang
seperti doa yang kehilangan Tuhan.

Lihatlah aku sekarang—
berdiri di hadapanmu
seperti puisi yang belum selesai ditulis,
penuh jeda,
penuh ragu,
penuh kata-kata yang takut dilahirkan.

Apakah ini aku?
Atau hanya bayangan
dari semua yang gagal aku jadi?

Aku ingin memecahkanmu, cermin—
menghancurkan kejujuranmu
agar aku bisa kembali nyaman
dalam kebohongan yang hangat.

Namun aku tahu,
seribu keping kaca yang pecah
takkan mengubah satu hal pun—
aku tetap akan terbagi
dalam serpihan-serpihan diri
yang tak pernah utuh.

Terkadang,
cerminlah yang mengajakku bertemu diri sendiri—
dan pertemuan itu
bukanlah perayaan,
melainkan pengadilan.

Di sanalah aku diadili
oleh mataku sendiri,
oleh napasku sendiri,
oleh diam yang tak bisa kubantah.

Dan aku mulai mengerti—
bahwa menjadi diri sendiri
adalah keberanian yang paling langka
di dunia yang gemar menyamar.

Bahwa kejujuran
adalah luka yang harus dipeluk,
bukan ditutup dengan riasan kata-kata.

Cermin,
terima kasih atas kebisuanmu
yang lebih lantang dari segala nasihat.

Hari ini,
aku tidak ingin lari lagi.
Aku tidak ingin menjadi bayangan
dari bayangan orang lain.

Aku ingin pulang—
meski rumah itu retak,
meski pintunya berderit,
meski di dalamnya hanya ada aku
yang belum selesai.

Terkadang,
cerminlah yang mengajakku bertemu diri sendiri—
dan kali ini,
aku tidak akan berpaling.

Aku akan menatap
hingga semua topeng jatuh satu per satu,
hingga yang tersisa
hanyalah aku—

yang rapuh,
yang jujur,
yang akhirnya…
benar-benar hidup.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026

Kategori:
Tags:

Terkini