RD Ponsianus Ongirwalu: Langkah Boleh Lelah, Pelayanan Tak Boleh Berhenti
http://suaraanaknegeri.com | Olilit Barat – pagi itu, Sabtu (30/5/2026), suasana di wilayah pelayanan Rukun Santo Paulus, Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, terasa berbeda. Setelah lebih dari enam bulan berjalan dari rumah ke rumah, menembus terik matahari dan hujan yang silih berganti di bumi Tanimbar, agenda kunjungan keluarga akhirnya mencapai titik akhir.
Namun bagi Pastor Paroki HKY Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, berakhirnya kunjungan bukanlah akhir dari pelayanan. Justru dari perjalanan panjang itulah lahir ikatan yang semakin erat antara gembala dan umat yang dilayaninya.
Baca juga: ATR/BPN Hadiri RDP Pembahasan Tanah PSN Blok Masela
Sejak pagi hingga menjelang siang, suasana penuh syukur dan haru mewarnai pertemuan penutup kunjungan keluarga di Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Bagi banyak keluarga, kehadiran Pastor bersama Ketua Rukun dan Badan Pengurus Rukun (Baperus) bukan sekadar kunjungan biasa. Lebih dari itu, kunjungan tersebut menjadi tanda bahwa Gereja sungguh hadir dan berjalan bersama umat dalam setiap pergumulan hidup.
“Kehadiran Pastor dan pengurus rukun di rumah ini adalah berkat yang nyata. Di tengah kesibukan pelayanan yang padat, Pastor masih meluangkan waktu untuk duduk bersama kami, mendengarkan cerita kami, dan meneguhkan iman kami,” ungkap keluarga Roby Ametembun.
Baca juga: Menteri Nusron Salurkan Hewan Kurban ke Ponpes Darunnajah
Ungkapan serupa datang dari berbagai keluarga yang selama enam bulan terakhir menerima kunjungan pastoral.
Keluarga Edy Rangkore mengaku merasakan kedamaian yang mendalam saat rumah mereka diberkati.
“Ketika Pastor memberkati rumah dan keluarga kami, ada rasa sukacita dan kehangatan yang baru. Terima kasih karena telah menembus batas jarak dan waktu demi menjumpai kami di tempat tinggal kami yang sederhana ini,” tuturnya.
Sementara keluarga Haryanto menilai kunjungan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Gereja tidak pernah jauh dari umatnya.
“Kehadiran Gembala bersama Ketua Rukun dan Baperus mengingatkan kami bahwa Gereja itu hidup dan dekat dengan umatnya. Doa-doa yang dipanjatkan bersama di altar keluarga kami menjadi kekuatan baru bagi kami,” katanya.
Bagi keluarga Renra, kunjungan pastoral memberikan keyakinan bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiri menghadapi berbagai tantangan kehidupan. “Kunjungan keluarga hari ini membuka mata kami bahwa ada mata yang selalu berjaga dan hati yang selalu mengasihi kami melalui kehadiran Pastor dan para pengurus rukun,” ungkapnya.
Kesan mendalam juga disampaikan keluarga Yosep Sorluri. “Kunjungan ini menjadi momen refleksi yang indah bagi keluarga kami. Kami merasa diteguhkan untuk terus merawat iman dan semakin aktif terlibat dalam kehidupan menggereja,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Sumatan Bersaudara yang menilai kunjungan tersebut memperkuat persaudaraan sekaligus mempererat hubungan umat dengan Gereja. “Tak ada satu pun umat yang terlupakan. Kami merasa sangat dihargai dan dicintai,” katanya.
Di rumah keluarga Tony Belay, pelayanan yang dijalankan Pastor dan pengurus rukun dipandang sebagai bentuk pengorbanan yang nyata. “Panas dan hujan yang Pastor serta pengurus rukun lewati untuk sampai ke rumah kami adalah khotbah yang paling nyata tentang arti pengorbanan,” ujarnya.
Keluarga Boy Futwembun menyebut kehadiran tim kunjungan keluarga sebagai sumber kesegaran rohani yang memberikan kekuatan baru dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Sedangkan keluarga Cak Fasse mengaku semakin merasakan indahnya hidup sebagai satu keluarga dalam Tuhan. “Melalui perjumpaan ini, kami merasakan betapa indahnya hidup sebagai satu keluarga dalam Tuhan. Sapaan pastoral ini sungguh menyentuh hati dan menguatkan iman kami,” katanya.
Sebagai keluarga terakhir yang dikunjungi, keluarga Ulis Fanumbi menyebut momentum tersebut sebagai berkat yang istimewa. “Kunjungan penutup ini menjadi tanda syukur yang besar bagi kami. Terima kasih karena telah membawa terang Kristus langsung ke dalam rumah kami,” ujarnya.
Di balik seluruh perjalanan tersebut, Ketua Rukun dan Baperus Santo Paulus mengakui bahwa pelayanan selama enam bulan bukanlah perjalanan yang mudah.
Namun semangat umat menjadi energi yang terus menguatkan langkah pelayanan.
“Perjalanan dari rumah ke rumah bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya fisik kami lelah, tetapi melihat antusiasme umat dan menyaksikan langsung bagaimana Pastor merangkul setiap jiwa, semangat kami kembali berkobar,” ungkap mereka.
Menutup seluruh rangkaian kunjungan pastoral, RD Ponsianus Ongirwalu menyampaikan refleksi yang menyentuh hati umat. “Amatilah kepunyaan-Ku, gembalakanlah domba-domba-Ku.”
Menurutnya, selama lebih dari enam bulan perjalanan pastoral berlangsung, berbagai tantangan telah dilalui bersama. Namun satu hal yang tidak boleh berhenti adalah semangat pelayanan yang lahir dari kasih kepada umat Allah. “Langkah kaki ini mungkin sesekali terhenti oleh cuaca. Oleh panas yang menyengat atau hujan yang membasahi bumi Tanimbar. Namun langkah boleh lelah, tetapi semangat pelayanan karena rasa cinta kepada umat Allah tidak akan pernah boleh berhenti,” tegasnya.
Dalam pesan pastoralnya, RD Ponsianus Ongirwalu mengajak seluruh umat untuk terus merawat altar keluarga sebagai pusat doa, menjaga semangat persekutuan, serta mendukung pelayanan para pengurus rukun sebagai perpanjangan tangan Gereja di tengah umat. “Rumah yang telah diberkati harus tetap menjadi bait doa. Jangan biarkan lilin doa di rumahmu padam. Teruslah berkumpul sebagai keluarga untuk mengucap syukur kepada Tuhan,” pesannya.
Bagi Pastor Ponsianus, kunjungan fisik mungkin telah selesai. Namun perhatian seorang gembala kepada umatnya tidak pernah berakhir. “Kunjungan fisik mungkin selesai hari ini, tetapi nama-nama kalian dan seluruh pergumulan keluarga kalian tetap terukir dalam setiap intensi misa dan doa-doa pribadi saya sebagai imam,” tutupnya.
Di penghujung perjalanan enam bulan itu, yang tersisa bukan sekadar daftar rumah yang telah dikunjungi, melainkan jejak kasih yang telah ditanamkan dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Sebuah pengingat bahwa Gereja tidak hanya hadir di altar, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat umat menjalani kehidupan sehari-hari.(jk)





