Selasa, 14 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

NEGERI KAYA RAYA, TETAPI RAKYAT KECIL BERTARUH NYAWA

Ririe Aiko| Penulis dan Konten Kreator

Beberapa waktu lalu, sebuah video viral melintas di linimasa Instagram saya. Sebuah video yang menurut saya sangat menyayat hati.

Baca juga: Hari Ketika Pohon-Pohon Berhenti Bermimpi

Seorang pengemudi ojek online meninggal di pelataran sebuah toko saat sedang mengantarkan pesanan. Di samping tubuhnya, sang istri menangis tersedu-sedu. Menurut kabar yang beredar, ia memang sudah lama mengidap penyakit. Namun, karena tuntutan ekonomi yang setiap hari mendesak, ia tidak bisa hanya berpangku tangan di rumah. Ia tetap memilih bekerja, tetap turun ke jalan, demi membawa pulang nafkah untuk keluarganya.

Saya terus merenungi potongan video itu. Rasanya hati saya begitu sedih menyaksikan pemandangan tersebut.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah sebuah musibah. Takdir. Kecelakaan hidup yang bisa terjadi kepada siapa saja. Namun, bagi saya, kisah itu menyisakan pertanyaan yang jauh lebih besar.

Baca juga: Goa Jepang: Sunyi yang Berbicara dalam Bahasa Sastra

Mengapa ada orang yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat saat sedang sakit? Mengapa ada orang yang tubuhnya sudah menyerah, tetapi hidup memaksanya terus bekerja?

Kalau boleh saya menamainya, mereka adalah korban dari sebuah kejahatan sistem yang memiskinkan. Saya menyebutnya demikian karena kemiskinan sering kali tidak lahir begitu saja. Ia bukan semata-mata akibat seseorang malas bekerja atau tidak berusaha. Kemiskinan sering kali merupakan hasil dari banyak persoalan yang saling bertumpuk: lapangan pekerjaan yang belum mampu memberikan penghasilan yang layak, akses kesehatan yang belum sepenuhnya mudah dijangkau, jaring pengaman sosial yang belum selalu hadir ketika masyarakat berada dalam kondisi paling rentan, hingga tingginya kasus korupsi yang menggerus anggaran yang seharusnya kembali kepada rakyat. Ketika semua itu bertemu, orang miskin kehilangan satu kemewahan yang bagi sebagian orang mungkin terasa biasa, tetapi begitu sulit dimiliki oleh mereka: kesempatan untuk bisa beristirahat ketika sedang sakit.

Kemiskinan pada akhirnya tidak lagi hanya menjadi persoalan ekonomi. Ia berubah menjadi persoalan hidup dan mati.

Ironisnya, hanya berselang beberapa hari, linimasa media sosial kembali menghadirkan berita viral yang menyayat hati, tapi kali ini tentang wajah Indonesia yang berbeda. Jika sebelumnya saya melihat seseorang mempertaruhkan nyawanya demi mencari nafkah, kali ini saya melihat tumpukan kekayaan yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah. Berita tentang penyitaan 74 kilogram emas beserta aset lain yang diduga berkaitan dengan kasus korupsi.

Saat membaca berita itu, saya hanya bisa tersenyum getir.

Katanya ekonomi negara kita cukup sejahtera. Katanya kenaikan dolar tidak terlalu berdampak terhadap masyarakat. Katanya harga-harga masih stabil. Bahkan, berita-berita tentang rakyat yang hidup dalam kesulitan sering kali dianggap hanya cerita kemiskinan yang didramatisasi saja, sengaja dibuat untuk menaikan insight di media sosial.

Baiklah.

Anggap saja negara kita memang baik-baik saja.

Toh, bagaimana mungkin kita disebut miskin jika puluhan kilogram emas bisa terkumpul di satu tempat?

Sulit mengatakan negara ini miskin ketika satu lokasi saja mampu menyimpan kekayaan bernilai sekitar Rp140 miliar.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kekayaan sebesar itu tidak pernah benar-benar terasa di lapisan masyarakat yang paling membutuhkannya. Padahal 74 kilogram emas itu secara ilustratif dapat menggaji hampir 2.000 pekerja dengan upah Rp6 juta per bulan selama satu tahun. Nilai sebesar itu juga dapat membangun puluhan puskesmas, menyediakan ratusan rumah sederhana, membiayai ribuan operasi medis, atau memberikan beasiswa kepada belasan ribu pelajar.

Bayangkan berapa banyak orang yang tidak perlu memaksakan diri bekerja saat sedang sakit.

Bayangkan berapa banyak ayah yang bisa menjalani pengobatan tanpa dihantui pertanyaan, “Kalau besok saya nggak kerja, anak-anak makan apa?”

Bayangkan berapa banyak keluarga yang tidak perlu kehilangan tulang punggungnya karena kemiskinan memaksa seseorang mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri.

Bayangkan 74 kilogram emas itu sebanyak apa?

Di titik inilah saya sadar, persoalannya mungkin bukan karena negara ini miskin.

Negeri ini kaya.

Sangat kaya.

Yang miskin adalah rasa keadilannya.

Sebab selama masih ada uang rakyat yang bocor akibat korupsi, selama pembangunan belum benar-benar menjangkau mereka yang benar-benar butuh dibangun, selama orang miskin masih harus memilih antara bekerja atau berobat, maka kesejahteraan akan lebih sering terasa sebagai angka di dalam laporan daripada kenyataan yang mereka rasakan setiap hari.

Kemiskinan bukan sekadar persentase.

Ia memiliki wajah.

Ia memiliki nama.

Ia memiliki keluarga.

Dan terkadang, ia hadir sebagai wajah dari seorang pengemudi ojek online yang terpaksa tetap bekerja meski tubuhnya sudah tidak sanggup lagi mencari orderan hingga akhirnya ia meninggal di tengah jalan.

Mungkin benar, grafik ekonomi kita terlihat baik.

Mungkin benar, berbagai indikator menunjukkan pertumbuhan.

Namun, ukuran kesejahteraan sebuah bangsa tidak hanya dapat dibaca dari angka-angka. Ia juga dapat dilihat dari pertanyaan sederhana: apakah rakyatnya memiliki kesempatan untuk hidup dengan layak, beristirahat ketika sakit, dan pulang ke rumah dalam keadaan selamat? Selama jawaban atas pertanyaan itu masih membuat kita terdiam, selama itu pula saya akan percaya bahwa yang sedang kita hadapi bukan sekadar kemiskinan, melainkan kejahatan sistem yang memiskinkan.

Kategori:
Tags:

Terkini