Jumat, 31 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kumpulan Puisi Leni Marlina “Senja dan Cahaya di Matamu”

/1/

Senja dan Cahaya di Matamu

Puisi: Leni Marlina

Baca juga: KETIKA VLADIMIR PUTIN MENJEMPUT SENDIRI GURUNYA

Senja meminum pelan
cahaya dari matamu
sementara angkutan kota, angkot tua warna hijau
batuk-batuk di tikungan jalan
mengangkut buruh, doa, dan bau hujan.

Kursi-kursinya yang sobek
lebih hafal bentuk tulang belakang pejuang keluarga
daripada mikrofon-mikrofon istana

Baca juga: ANAK YANG DATANG DARI KABUT (2)

Di trotoar basah,
seorang anak penjual tisu
berlari mengejar lampu merah
yang selalu lebih cepat darinya.

Namun matamu tetap hangat:
roti terakhir
di tangan bocah pengungsi
yang mulai lupa aroma tanah selepas hujan di kampung halamannya.

Padang, Sumbar, 2026

/2/

Kota Mengunyah Langit

Puisi: Leni Marlina

Gedung-gedung tinggi
mengunyah langit sore
dengan rahang beton
yang bau semen dan keserakahan.

Sebuah angkot tua
merayap pelan di bawah flyover,
tubuhnya gemetar
seperti dada ayah
yang memikul cicilan hidup.

Dari jendelanya yang berdebu,
anak kecil menjual mawar
dengan suara serak
seperti payung patah
terseret got penuh iklan pemilu

Lalu matamu muncul
dan seolah senja berdarah pelan
di kaca angkot yang suram.

Padang, Sumbar, 2026

/3/

Hujan Tidur di Pelupukmu

Puisi: Leni Marlina

Hujan tidur di pelupukmu
seperti burung basah
yang kehilangan arah migrasi.

Angkot, angkutan kota, terakhir malam itu
melaju lambat
membawa bau solar, pakaian buruh,
dan kantuk para ibu pasar.

Tangan angkot yang berkarat
mencengkeram jalan berlubang
seperti nelayan tua
memegang sisa ombak.

Di bawah jembatan,
lelaki tua mengunyah nasi dingin
dan deru kendaraan
serta bau got yang ikut masuk ke mulutnya,
seolah memakan
sisa hidupnya sendiri.

Dan matamu
menjelma lampu kecil
di kaca depan angkot
yang menolak padam di hujan deras.

Padang, Sumbar, 2026

/4/

Langit Sore Robek Perlahan

Puisi: Leni Marlina

Langit sore robek perlahan.
Matahari meneteskan warna jingga
seperti darah tipis
di bibir bumi yang demam.

Di terminal sempit,
angkot-angkot tua berjajar
seperti kuda renta
yang dipaksa terus menarik
beban kehidupan kota.

Knalpot mereka batuk hitam
ke paru-paru senja,
namun tetap setia
mengantar manusia pulang
meski tak pernah benar-benar sampai.

Dan matamu menjahit semua itu
dengan cahaya kecil
setabah sopir tua
yang tetap mengemudi
meski matanya mulai kabur oleh usia.

Padang, Sumbar, 2026

/5/

Tenggorokan Malam Penuh Semen dan Iklan

Puisi: Leni Marlina

Malam menelan kota
dengan mulut hitam
berbau asap, kopi basi,
dan kesepian terminal terakhir.

Angkot tua melintas pelan
dengan tubuh penuh lecet,
seperti veteran perang
yang tak pernah diberi medali.

Lampunya berkedip lemah-
di antara hujan dan billboard raksasa,
tetapi ia tetap berjalan
mengangkut manusia-manusia letih
menuju kamar sempit
dan mimpi-mimpi cacat
yang tetap dipelihara sampai pagi.

Kulihat sisa matahari di matamu,
senja masih menyala kecil
seperti lampu angkot terakhir
yang bertahan hidup
di tenggorokan malam penuh sesak dengan semen dan iklan.

—-

Padang, Sumbar, 2026

——-

Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina merupakab seorang penyair, penulis, penerjemah, dan akademisi di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.

Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi The Beloved Teachers (2025) dan L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2025), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.

Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis dan editor lepas di platform media digital seperti Suara Anak Negeri News dan Negeri News, tempat ia menerbitkan artikel tentang pendidikan, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Kedua platform tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”

Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.

Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia & sejak tahun 2024 juga berrgabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).

Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam.

Kategori:
Tags:

Terkini