Review Puisi Leni Marlina “Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut” oleh:
Pinto Janir
–
Baca juga: Ketika Cantik mulai Pamitan
Selamat sore, Lina.
Padahal, saya sedang menulis sesuatu. Sejenak saya terhenti. Saya terganggu dalam kenikmatan membaca puisimu. Saya jedakan kerja yang sebenarnya harus saya selesaikan menjelang senja ini; hanya demi menulis tentangmu dan tentang puisimu itu.
Tak apa-apa, saya memang merdeka dengan apa yang akan saya kerjakan terlebih dahulu. Terkadang, saya tak pakai skala prioritas. Skala saya adalah hati, bukan berdasarkan apa yang urgen, apa yan. mendesak, dan apa yang tak mendesak. Saya akan seperti petus menulis kalau sesuatu itu ada di hati. Dan puisimu itu ada di hati saya. Maaf, Lina, saya agak terburu-buru menuliskan dan menyampaikannya.
Baca juga: Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: "AKAR YANG TIDAK PERNAH TERSASAR"
Oke, Lina. Puisimu ini, Lina, memaksa saya untuk berpikir. Ia “memaksa” dengan cara yang saya sukai, yakni tidak menggurui atau menyodorkan gagasan secara langsung. Ia memaksa melalui ketidaklaziman citraan dan logika puitiknya.
Satu: “lumutlah yang perlahan menghafal bentuk tulangmu…”. Kemudian: “hijau kehilangan pekerjaannya sebagai warna”. Sudah itu: “seekor siput menyalin lengkung bukit ke dalam rumah yang dipikulnya sendiri”.
Gila, “keren bana”….🙏
Pada akhirnya saya harus bekerja untuk menemukan makna. Berat ini, Lina. Kita melihat pohon, batu, hujan, atau wajah orang lain tanpa benar-benar “melihat” mereka. Adalah tugas puisi untuk mengembalikan keanehan dunia agar kita merasakan kembali pengalaman melihat dan memahami sesuatu. Saya paham, Lina.
Saya ulang kembali selarik dari puisimu: “lumutlah yang perlahan menghafal bentuk tulangmu”. Kalau bukan dalam bahasa puisi, barangkali kita akan mengatakannya bahwa “lumut tumbuh di atas batu”. Namun, dengan kontemplasi aksara di ruang intuitifmu yang hidup, kau “paksa” lumut menghafal bentuk tulangmu.
Mungkin ini yang disebut sebagai defamiliarisasi (ostranenie), istilah yang diperkenalkan oleh kritikus Rusia, Viktor Shklovsky, di mana aksara dibuat asing agar pembaca tidak menerima realitas secara otomatis. Lina, saya baca puisimu itu, Dik.
Seketika, lumut bukan lagi tumbuhan kecil yang biasa direkam mata. Ia menjadi makhluk yang seolah-olah memiliki kekuatan mengingat. Kurasa, di situlah defamiliarisasi bekerja. Penyair besar seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, atau Sutardji Calzoum Bachri memakai teknik ini. Lina, banyak memang penyair menulis tentang batu, lumut, hujan, atau gunung. Namun, hanya sedikit yang mampu menghadirkan hubungan baru di antara benda-benda itu.
Pesanmu, Lina, sampai… Sampai pada larik: “Mengapa manusia tergesa menjadi musim, sedangkan batu rela menunggu seribu hujan untuk memperoleh satu pori?”
Bila alam “berevolusi”, celaka dunia dan segala isinya. Kalau manusia “berevolusi”, yang sengsara adalah alam. Habis binasa dibuatnya.
Puisimu sudah berfilsafat, Dik. Aku suka! Makin kuat puisi ini. Makin dalam pesan yang hendak dirimu sampaikan. “Jika suatu hari namamu meluruh menjadi lumut, barangkali gunung akhirnya menemukan cara baru untuk bernapas bersamamu.”
Teruslah, Dik. Berpuisi adalah salah satu tanda bahwa seseorang masih bersedia masuk pada kedalaman dirinya sendiri; sedalam-dalamnya hingga relung yang paling “cukam” (dalam). Sesungguhnya, puisi bukan sekadar merangkai kata-kata indah. Bukan hanya soal, “Oh bulan, oh bintang, kaulah pujaan hatiku.” Bukan begitu. Bukan pula sekadar menyusun kalimat yang terdengar puitis. Pada hakikatnya, puisi adalah cara berpikir yang paling dalam, paling sunyi, dan paling jujur.
Karena itu, saya selalu percaya bahwa puisi sesungguhnya adalah filsafat yang menjelma menjadi bahasa. Dan kuamati dirimu sedang menuju ke arah sana, Lina.
Oalah, kata orang bikin puisi itu mudah. Padahal, membuat puisi yang benar-benar hidup dan penuh makna tidaklah semudah yang sering dibayangkan orang. Menulis puisi bukan pekerjaan menghias kata belaka. Tukang puisi adalah tukang yang kerjanya menggali makna. Bukan asal “malontong”.
Oi, Lina, yakinlah bahwa seorang penyair tidak hanya bertanya tentang apa yang ia lihat. Seorang penyair itu “memandang”, sehingga ia mampu melihat apa yang tersembunyi di balik yang tak terlihat itu.
Penyair tidak akan pernah berhenti pada sebuah peristiwa. Ia akan berusaha terus menjangkau hakikat peristiwa itu sendiri. Ia akan terus menjangkau walau ia tahu bahwa bulan itu jauh.
Karena itulah saya membedakan antara puisi yang tumbuh dan puisi yang hanya bertunas. Puisi persemaian, itu namanya. Ya, puisi persemaian, puisi yang masih berada pada tahap awal pertumbuhan. Ia baru masuk pada tahap untuk memperlihatkan kecakapan memilih kata. Puisi persemaian belum sepenuhnya memiliki kedalaman makna. Ia mungkin enak untuk dibaca, tetapi belum meninggalkan gema pemikiran setelah selesai dibaca. Ia seperti bibit yang baru ditanam: menjanjikan, tetapi belum tentu menjadi pohon.
Lina, puisimu puisi bermakna. Bukan puisi hampa. Puisi hampa yang saya maksudkan adalah puisi yang biasanya tersusun dari kata-kata yang tampak seperti puitis, tetapi tidak mengandung pergulatan batin, tidak menyimpan gagasan, tidak menghadirkan pengalaman estetik, dan pula tidak membuka ruang tafsir untuk berpikir. Kata-katanya bergerak, tetapi maknanya tidak berjalan ke mana-mana. Jalannya jalan di tempat! Tak ada yang dapat dipetik. Begitulah. Kalimat-kalimatnya tersusun rapi, namun tidak melahirkan perenungan. Ibarat putus cinta; dunia terasa hampa!
Kau beda, Lina. Kau, di mataku, memang penyair!
Puisimu bukan puisi kosong. Puisi kosong itu seperti ini, Lina, di mana “si puisi” sering terjebak pada narasi biasa yang hanya dipotong-potong menjadi larik. Ia bercerita, tetapi tidak menggaduh ruang rasa. Ia menjelaskan, tetapi tidak mencerahkan. Ia berbunyi, tetapi tidak bergaung. Setelah dibaca, tidak ada pertanyaan yang tertinggal. Tidak ada kesan yang menetap, dan tidak ada pula pemikiran yang tumbuh di dalam diri pembaca. Nah, inilah yang saya sebut dengan “puisi kosong”. Ya, asal malontong itu tadi. Itu “doang”.
Lina, puisi yang baik selalu meninggalkan sesuatu. Ia berkesan. Ia berbekas. Ia tak tenggelam ditimbun debu zaman. Ia mungkin tidak memberikan jawaban, tetapi ia menanamkan kegelisahan. Ia mungkin saja tidak pernah menyampaikan pesan-pesan secara gamblang, tetapi ia membuka pintu bagi lahirnya sebuah makna. Puisi yang baik, bagi saya, ibarat sebuah jendela. Begitu kita buka, tampaklah cakrawala. Sebab pada akhirnya, puisi bukanlah tumpukan kata, melainkan perjumpaan antara bahasa, pemikiran, pengalaman, dan jiwa manusia.
Teruslah menulis, Lina. Sebab setiap puisi yang lahir dari perenungan yang sungguh-sungguh adalah bukti bahwa manusia masih mau berpikir, masih mau merasakan, dan masih mau mencari makna di tengah dunia yang semakin tergesa-gesa.
Penyair Lina, teruslah menyair.
–
Padang, 31 Juli 2026
——
Lampiran Puisi
Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut
Puisi: Leni Marlina
–
Engkau batu
Kau tidak menjadi tua,
lumutlah yang perlahan menghafal bentuk tulangmu.
Embun mengapur urat daun hingga hijau kehilangan pekerjaannya sebagai warna.
Mengapa manusia tergesa menjadi musim,
sedangkan batu rela menunggu seribu hujan untuk memperoleh satu pori?
Kau menyentuh granit,
telapakmu dipenuhi serbuk waktu yang belum selesai menjadi abad.
Seekor siput menyalin lengkung bukit ke dalam rumah yang dipikulnya sendiri.
Retakan mengandung akar,
akar mengandung hujan,
hujan mengandung batu yang akan lahir.
Tak cukup keteguhan di sini,
hanya mineral yang terlalu sabar untuk disebut bergerak.
Jika suatu hari namamu meluruh menjadi lumut,
barangkali gunung akhirnya menemukan cara baru untuk bernapas bersamamu.
–
Monash, Australia, 2012
—————–
✍️ Kumpulan puisi selengkapnya dapat di akses melalui link official berikut:
Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina “Jika Namamu Meluruh Menjadi Lumut”
———-
Tentang Penulis – Pinto Janir
Pinto Janir merupakan seorang seniman multi talenta, wartawan, tokoh sastra dan budayawan asal Padang, Sumatera Barat, yang terkenal dengan julukan “Raja Penyair” lewat gaya baca puisi yang penuh tenaga dan musikal.
Sering tampil memukau dalam berbagai panggung puisi dan acara seni besar di Indonesia dengan ciri khas tersendiri sebagai seorang penyair dan seniman.






