Aguk Irawan MN| Penulis
–
Dalam sepak bola, terkadang ada yang lebih punya reputasi dari status pemenang. Pada seorang pemain berbaju merah, celana pendek putih dan kaos kaki hitam: ada reputasi bagi jutaan penggemarnya, meski mereka tak mendapatkan keadilan dan terluka.
Baca juga: Kadispar Biak Numfor: FBMW 2026 Jadi Instrumen Resiliensi Ekonomi dan Revitalisasi Budaya Inklusif
Di bawah lampu stadion yang benderang, kita menyaksikan bagaimana sebuah drama sepak bola dimainkan, bukan lagi sebagai ruang pacu bakat yang jujur, melainkan sebagai panggung di mana kuasa tak kasat mata menentukan siapa yang boleh tersenyum dan siapa yang harus tersisih.
Mesir kalah tiga-dua dari Argentina. Papan skor mencatat angka-angka itu dengan dingin, seolah-olah ia adalah kebenaran mutlak. Namun, sejarah tak pernah ditulis hanya oleh mesin penghitung gol. Kita melihat sebuah gol yang indah dengan proses perjuangan dari pinggir lapangan yang hebat dan berliku-liku mendadak digagalkan oleh keputusan yang ganjil dan ada pelanggaran yang telat.
Kita juga melihat dengan kasat mata Mohamed Salah ujung sepatunya diinjak di kotak terlarang—sebuah pelanggaran yang begitu benderang di mata jutaan pasang penonton, namun mendadak gaib di mata sang pengadil. Di sanalah kita mendeteksi aroma standar ganda yang pekat.
Ada kesan yang sukar ditepis bahwa sang juara bertahan harus dirawat, dijaga, dan dituntun menuju anak tangga berikutnya, sementara tim dari lembah Nil itu diposisikan sebagai pelengkap dekorasi yang harus tahu diri. Banyak yang mengumpat di media sosial, menyebut laga itu sebagai sebuah rancangan, sebuah setingan yang sinis.
Namun, di sinilah keajaiban itu bermula. Ketika peluit panjang berbunyi, dan ketidakadilan itu sah menjadi keputusan yang final, Mohamed Salah dan kawan-kawannya tidak rubuh dalam amarah yang merusak. Mereka berdiri gagah. Wajah-wajah mereka basah oleh keringat dan barangkali sedikit kecewa, tetapi tatapan mata mereka lurus ke depan. Mereka tidak meninggalkan lapangan dengan pundak yang merosot.
Mereka berjalan dengan kepala tegak. Sebab mereka tahu, mereka tidak sedang membawa pulang sebuah trofi berlapis emas, tetapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berat dan berharga: harapan, mimpi, dan harga diri jutaan manusia yang menyandarkan dada mereka pada jersei merah-putih-hitam itu.
Ada tim yang diingat karena logam melingkar di leher mereka. Mereka menang, tetapi kemenangan itu menyisakan bau apak kontroversi yang tak akan hilang oleh selebrasi semalam. Kemenangan yang diraih dengan cara tak lazim, yang dibantu oleh keberpihakan yang pincang, sebenarnya adalah kekalahan yang tertunda dalam ingatan kolektif manusia. Ia adalah kemenangan yang sunyi dari rasa hormat.
Mesir dipaksa memilih jalan yang lain. Mereka kalah secara angka, tetapi bisa jadi mereka menang dalam hakikat yang paling dalam dari olahraga: hati yang menolak untuk menyerah. Mereka dirampok oleh keputusan, tetapi mereka tidak bisa dirampok dari martabat mereka. Dan, sejarah sepak bola selalu menyisakan ruang bagi mereka yang kalah dengan terhormat.
Di masa depan, orang mungkin lupa detail angka di papan skor, tetapi orang akan selalu mengenang bagaimana sebuah tim kecil dari Afrika berdiri tegak menantang raksasa dan ketidakadilan, lalu pulang sebagai pahlawan yang jiwanya tak tergores sedikit pun. Sebab di lapangan hijau itu, kehormatan adalah satu-satunya hal yang tak akan pernah bisa dianulir oleh VAR dan wasit mana pun.





