Sabtu, 13 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Refleksi RD. Domincs Baldawins Masriat tentang Ketulusan dan Misi Hidup

Penulis: joko

Sumber: RD. Domincs Baldawins Masriat

http://suara anak negeri.com | Manila -Kamis, 11 Juni 2026
Dari Central Seminary, University of Santo Tomas (UST), Manila, Filipina, RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila, menyampaikan refleksi spiritual yang menekankan makna ketulusan, kemerdekaan batin dari materialisme, serta panggilan untuk menjadi pembawa damai di tengah kehidupan modern yang kian kompleks.

Baca juga: ATR/BPN Tanimbar Gelar Pengambilan Sumpah PNS dan Pelantikan Pejabat Fungsional

“Semoga kasih Allah memberkati kita selalu.” Bacaan Liturgi Hari Biasa, Pekan Biasa X, Peringatan St. Barnabas, Rasul
Bacaan I: Kisah Para Rasul 11:21b–26; 13:1–3, Injil: Matius 10:7–13

Pesan Tuhan Hari Ini
Dalam refleksi yang disampaikan, RD. Domincs Baldawins Masriat menegaskan bahwa Injil hari ini bukan sekadar seruan moral, melainkan undangan untuk menghidupi iman secara konkret dalam tindakan sehari-hari.

Pertama, manusia dipanggil untuk menghadirkan kebaikan tanpa kalkulasi keuntungan pribadi.

Baca juga: Wamen ATR/BPN: Latsarmil Perkuat Karakter dan Integritas ASN

“Kita diajak untuk mempraktikkan kebaikan, talenta, dan pertolongan tanpa motif mencari keuntungan pribadi atau pamrih,” demikian ditegaskan dalam refleksinya.

Ia menekankan bahwa hidup adalah anugerah yang pada dasarnya diberikan secara cuma-cuma, sehingga pelayanan pun semestinya mengalir dari ketulusan, bukan transaksi.

Kedua, di tengah arus dunia yang semakin materialistik, umat diajak untuk tidak terjebak dalam kecemasan akan kepemilikan.

“Di tengah dunia yang konsumeris, di mana orang sering kali merasa cemas jika tidak menimbun harta, Injil hari ini mengingatkan kita untuk melepaskan kemelekatan pada materi,” demikian pesan yang disampaikan, seraya menegaskan pentingnya fokus pada misi kebaikan ketimbang kenyamanan ego.

Ketiga, penghargaan terhadap relasi menjadi cermin kedewasaan iman.
“Ketika seseorang membukakan pintu rumah atau hatinya untuk menolong kita, hargailah mereka dengan kesetiaan dan rasa syukur,” demikian refleksi tersebut menekankan pentingnya menjaga kepercayaan dan tidak menyalahgunakan kebaikan orang lain.

Keempat, setiap pribadi dipanggil untuk menjadi pembawa damai di mana pun berada. “Kehadiran kita di mana pun harus membawa aura kedamaian (peacebringer),” demikian disampaikan. Dalam penegasan itu, RD. Domincs Baldawins Masriat juga mengingatkan bahwa penolakan tidak boleh dibalas dengan kemarahan, melainkan dengan keteguhan menjaga integritas batin dan damai yang tetap utuh dalam diri.

Penutup Doa
“Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu membawa damai bagi setiap orang.” Salam kasih dan doa,
RD. Domincs Baldawins Masriat.

Kategori:
Tags:

Terkini