Selasa, 19 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

ANAK YANG DATANG DARI KABUT (2)

Novel Fantasy “KABUT MORVA DI ATAS KOTA LUNARA” Karya Leni Marlina

Pada malam ketika seluruh jam di kota Lunara berdetak mundur sepuluh detik, seorang anak perempuan pengungsi menyebut nama Ilan sebelum mereka pernah saling berkenalan. Dan sejak saat itu, Ilan mulai memahami bahwa beberapa ketakutan tidak datang dari masa depan. Melainkan dari sesuatu yang telah lama menunggu di masa lalu.
Malam di kota Lunara biasanya bergerak pelan. Seperti lagu pengantar tidur yang dinyanyikan laut kepada kota kecil itu. Tetapi malam setelah seluruh jam berdetak mundur selama sepuluh detik terasa berbeda. Udara terasa terlalu sunyi. Terlalu diam. Seolah dunia sedang menahan napas.
Ilan masih berdiri di depan tokonya ketika camar yang jatuh mati itu mulai mendingin di atas batu jalanan. Burung itu tampak biasa. Tubuh putih. Sayap kelabu. Paruh kekuningan. Tetapi matanya. Matanya membuat tengkuk Ilan terasa dingin. Kosong. Tidak seperti mata hewan mati. Lebih seperti sesuatu yang telah melihat ketakutan terlalu besar untuk dipahami makhluk hidup.
Angin laut belum kembali bertiup. Padahal kota Lunara tidak pernah benar-benar diam tanpa angin. Selalu ada bau asin. Selalu ada suara layar kapal. Selalu ada desir ombak. Tetapi sekarang seluruh kota terasa seperti lukisan. Diam. Kaku. Mencekam. Jendela-jendela mulai terbuka. Orang-orang memandang keluar dengan wajah bingung. Beberapa membawa lentera. Beberapa lain hanya berdiri sambil mengenakan pakaian tidur.
“Apa yang terjadi?”
“Kenapa lonceng berbunyi sendiri?”
“Gempa?”
“Badai?”
Suara-suara kecil mulai memenuhi jalan. Namun semua percakapan itu terdengar rapuh. Seperti manusia sedang berusaha meyakinkan diri bahwa dunia masih dapat dijelaskan. Ilan menunduk lagi pada burung mati itu. Di paruhnya tersangkut sehelai rambut manusia. Panjang. Hitam. Basah.
Ilan tidak tahu mengapa, tetapi dadanya mendadak sesak. Dan tiba-tiba ia teringat anak perempuan di kapal pengungsi. Rambut hitam. Mantel kebesaran. Tatapan yang terlalu tua. Peluit kayu di genggaman tangannya. Sebuah firasat buruk bergerak pelan di dalam dirinya. Tidak masuk akal. Tetapi perang mengajarkan manusia bahwa banyak hal mengerikan sering kali datang tanpa penjelasan.
Dari kejauhan, mercusuar tua Lunara masih memutar sinarnya ke laut. Cahayanya bergerak lambat di antara kabut yang mulai turun dari utara. Kabut itu tampak lebih gelap dari biasanya. Bukan hitam. Namun seperti abu basah. Dan untuk sesaat, Ilan merasa ada sesuatu bergerak jauh di dalamnya.

Sesuatu yang terlalu besar untuk disebut manusia. Ia memaksa dirinya berpaling. Jangan bodoh. Hanya kabut. Hanya malam. Hanya pikiran lelah. Tetapi sebelum ia sempat masuk kembali ke dalam toko, suara langkah cepat terdengar dari ujung gang. Seseorang berlari. Tersandung. Lalu berhenti tepat di depan tokonya. Seorang anak laki-laki pelabuhan. Napasnya terengah.
“Ilan!” katanya.
“Taref mencarimu!” Ilan mengernyit.
“Sekarang?” Anak itu mengangguk cepat.
“Katanya penting. Sangat penting.”
Kabut dari laut bergerak makin rendah di belakang tubuh anak itu. Dan entah mengapa, Ilan langsung tahu malam ini belum selesaim
Rumah Taref tampak lebih gelap dari biasanya. Lentera di depan pintunya hanya menyala kecil seperti nyaris kehabisan minyak. Angin mulai kembali bertiup ketika Ilan tiba. Tetapi udara yang dibawanya terasa jauh lebih dingin. Pintu rumah kayu itu terbuka sebelum Ilan mengetuk. Taref berdiri di sana. Wajah lelaki tua itu pucat. Sangat pucat.
“Masuk,” katanya pendek.
Nada suaranya membuat Ilan langsung merasa tidak nyaman. Ruangan rumah itu masih berbau teh pahit dan kayu lembap. Namun malam ini ada aroma lain. Besi. Darah. Ilan langsung melihatnya. Di meja dekat jendela, sebilah pisau pendek tergeletak dengan bercak merah tua di ujungnya.
“Apa yang terjadi?”
Taref tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu perlahan. Lalu berjalan menuju jendela. Di luar sana, kabut terus turun dari utara.
“Ada kapal lain datang malam ini,” katanya akhirnya.
“Kapal pengungsi?”
“Tidak.”
Suara Taref terdengar lebih pelan.
“Kapal kosong.”
Ilan merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Kosong?”
Taref mengangguk.
“Tak ada awak. Tak ada penumpang. Hanya darah.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
“Dan ini?”
Ilan menunjuk pisau di meja. Taref memandangnya cukup lama.
“Kami menemukannya tertancap di tiang kapal.”
“Kami?”
“Aku dan para penjaga pelabuhan.”
Ilan menelan ludah. Ia tidak sering melihat Taref takut. Mungkin bahkan belum pernah. Tetapi malam ini ada sesuatu dalam mata lelaki tua itu. Sesuatu yang menyerupai ingatan lama. Buruk. Sangat buruk.
“Apa ada tanda bendera?”
“Tidak ada.”
“Nama kapal?”
“Sudah dihapus.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Kayu rumah berderit pelan diterpa angin. Lalu Taref berkata:
“Kau pernah mendengar tentang Armada Morva?”
Ilan langsung menggeleng.
“Dongeng pelaut?”
“Dulu aku juga mengira begitu.”
Taref duduk perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dalam cahaya lentera.
“Tetapi pada tahun kedua perang, aku pernah melihat satu kapal yang kembali dari utara tanpa awak.”
Napas Ilan terasa pendek.
“Apa yang terjadi?”
Taref memejamkan mata sesaat. Seolah ingatan itu sendiri terasa menyakitkan.
“Seminggu kemudian seluruh kota pelabuhan tempat kapal itu berlabuh hilang.”
Ilan membeku.
“Hilang?”
“Bukan dibakar. Bukan dihancurkan.” Taref menatapnya.
“Hilang.”
Angin menghantam jendela. Lentera kecil bergoyang. Sejak perang mulai mendekati selatan, Ilan merasakan ketakutan yang berbeda. Bukan ketakutan pada tentara. Bukan pada ledakan bom. Bukan pada kelaparan. Melainkan pada sesuatu yang tidak ia pahami.
Sementara itu, di bangunan pengungsian dekat pelabuhan, anak perempuan berambut hitam itu belum tidur. Puluhan pengungsi lain berbaring berdesakan di ruangan besar bekas gudang ikan. Beberapa batuk dalam tidur. Beberapa menangis pelan. Seorang bayi terus merengek kecil di sudut ruangan.
Namun anak perempuan itu hanya duduk diam sambil memeluk lutut. Matanya memandang jendela. Ke arah laut. Ke arah Utara. Relawan perempuan bernama Sena mendekatinya perlahan. Ia membawa sup hangat.
“Kau harus makan sedikit,” katanya lembut.
Anak itu tidak menjawab. Sena meletakkan mangkuk di dekatnya.
“Namamu siapa?” Tetap diam.
“Apa kau punya keluarga?” Tidak ada jawaban.
Sena menghela napas pelan. Sudah dua hari anak itu hampir tidak berbicara. Ia datang bersama kapal pengungsi sore tadi. Sendirian. Tanpa nama. Tanpa penjelasan. Hanya membawa peluit kayu kecil yang terus digenggam erat seperti benda paling penting di dunia. Sena hampir pergi ketika anak itu tiba-tiba berkata:
“Jam-jam sudah mulai mendengar.” Sena menoleh bingung.
“Apa?”
Anak itu perlahan mengangkat wajah. Matanya gelap. Terlalu gelap.
“Ia akan datang sebelum laut membusuk seluruhnya.”
Sena merasakan dingin menjalar di lengannya.
“Siapa?”
Anak itu memandang keluar jendela. Lalu berbisik:
“Yang berjalan di dalam kabut.”
Ilan pulang lewat tengah malam. Jalan-jalan kota Lunara mulai sepi. Namun ketegangan masih terasa. Orang-orang belum benar-benar tidur. Beberapa lelaki berdiri di dekat pelabuhan sambil membawa tombak tua. Para nelayan berbicara pelan. Dan di hampir setiap jendela, lentera masih menyala.
Seolah seluruh kota takut mematikan cahaya. Kabut makin tebal. Ia bergerak perlahan dari laut seperti makhluk hidup. Ketika Ilan membuka pintu tokonya, suara jam-jam kembali menyambutnya.
Tik. Tik. Tik. Normal. Tetapi kini bunyi itu tidak lagi terasa menenangkan. Ia menutup pintu cepat-cepat. Lalu menyalakan lampu minyak di meja kerjanya. Tangannya masih gemetar. Ia mencoba memperbaiki satu jam saku untuk menenangkan diri. Namun pikirannya terus kembali pada kapal kosong. Pada cerita Taref. Pada kabut. Pada burung mati. Dan pada mata anak perempuan pengungsi itu.
Ia membuka penutup jam kecil di tangannya. Jarumnya berhenti.
12:00 malam. Lagi. Napasnya tercekat. Jam lain di meja: 12:00. Jam dinding dekat pintu:
12:00. Jam gantung tua milik ibunya: 12:00.
Seluruh tubuh Ilan terasa dingin. Ia berdiri perlahan. Detak jam terdengar makin keras. Tik. Tik. Tik. Kemudian Semua suara itu berhenti bersamaan. Sunyi. Dalam kesunyian itu, Ilan mendengar sesuatu. Bukan dari luar. Bukan dari jalan. Dari lantai bawah tokonya. Ketukan. Pelan. Tok. Tok. Tok. Ilan membeku. Toko itu tidak memiliki ruang bawah tanah. Tetapi suara itu terus terdengar. Tok. Tok. Tok.
Seolah ada seseorang mengetuk dari bawah dunia. Ilan mengambil lentera. Berjalan perlahan. Lantai kayu berderit di bawah langkahnya. Ketukan itu berhenti. Namun sebelum ia sempat bernapas lega, suara lain terdengar. Bisikan. Sangat pelan. Seperti napas orang tenggelam.
“Ilan…”
Tubuhnya langsung menegang. Suara itu. Perempuan. Lemah. Basah.
“Ilan…”
Ia mundur selangkah. Punggungnya membentur meja. Dan mendadak seluruh jam di toko bergerak sendiri. Jarum-jarumnya berputar liar. Detak mereka kacau. Cepat. Tak beraturan. Seperti ratusan jantung yang sedang panik.
Lampu minyak berkedip. Bayangan memenuhi ruangan. Dan dalam sepersekian detik, Ilan melihat sesuatu berdiri di ujung tokonya. Sosok tinggi. Hitam. Terlalu kurus. Matanya putih. Kosong. Lalu lampu kembali normal.
Ruangan itu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya detak jam yang perlahan kembali teratur. Ilan berdiri membeku. Napasnya gemetar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia takut berada di dalam tokonya sendiri. Pagi berikutnya, kota Lunara berubah. Kabar tentang kapal kosong menyebar lebih cepat daripada angin.
Orang-orang mulai bicara pelan. Pintu rumah dibuka setenga. Para nelayan menolak berlayar terlalu jauh. Dan kabut dari utara belum juga menghilang. Ia justru tampak makin dekat. Pasar tetap buka. Anak-anak tetap bermain. Lelaki tua masih memainkan akordeon di dermaga.
Namun semuanya terasa seperti sandiwara kecil untuk menutupi ketakutan. Di toko roti, orang-orang mulai bertengkar tentang pengungsi.
“Mereka membawa kutukan!”
“Sejak mereka datang, seluruh kota berubah!”
“Kita harus menutup pelabuhan!”
“Kirim mereka pergi sebelum terlambat!”

Ketakutan selalu membutuhkan seseorang untuk disalahkan. Dan manusia yang lapar sering lebih mudah membenci daripada memahami. Ilan berjalan melewati kerumunan tanpa bicara. Ia hampir tidak tidur semalam.
Wajahnya pucat. Matanya merah. Ketika ia tiba di pelabuhan, kapal pengungsi masih bersandar di dermaga. Dan di sana, anak perempuan itu duduk sendirian di ujung kayu pelabuhan. Memandang laut. Kabut bergerak perlahan di belakangnya. Ia tampak terlalu kecil untuk dunia sebesar ini. Ilan ragu beberapa saat. Lalu mendekat. Anak itu tidak menoleh.
“Apa kau sendirian?” tanya Ilan pelan. Tidak ada jawaban.
“Namamu siapa?” Sunyi.
Lalu anak itu berkata:
“Kau mendengar mereka semalam.” Darah Ilan terasa dingin.
“Apa?”
Anak itu akhirnya menoleh. Matanya membuat Ilan merasakan sesuatu yang aneh. Bukan karena mata itu menyeramkan. Tetapi karena mata itu tampak terlalu lelah. Seperti seseorang yang telah melihat akhir dunia berkali-kali.
“Jam-jam itu,” katanya pelan.
“Mereka mulai takut.” Napas Ilan tercekat.
“Siapa kau sebenarnya?” Anak itu memandang laut lagi.
“Namaku Nara.”
Angin bergerak pelan melewati mereka. Peluit kayu di tangan gadis kecil itu bergoyang sedikit.
“Dan ia sudah menemukan Lunara.”
“Siapa?”
Nara terdiam cukup lama.
Lalu berbisik: “Morva.”
Di kejauhan. Jauh di balik kabut utara. Terdengar sesuatu. Bukan suara kapal. Bukan petir. Melainkan bunyi panjang. Dalam. Rendah. Seperti sesuatu yang sangat besar sedang bernapas di bawah laut. Dan seluruh camar di pelabuhan mendadak terbang bersamaan.
Suara itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun cukup untuk membuat seluruh pelabuhan membeku. Para nelayan saling berpandangan. Seorang lelaki tua menjatuhkan peti ikan dari tangannya.
Anak-anak berhenti berlari. Dan bahkan laut seolah ikut menahan gerak ombaknya. Ilan menatap utara. Kabut terus bergerak perlahan. Tebal. Dingin. Hidup. Perasaan aneh merayapi dadanya. Seolah ada sesuatu di balik kabut itu yang sedang mendengarkan setiap detak jantung manusia di Lunara.
“Apa itu?” bisiknya. Nara memeluk lututnya lebih erat.
“Suara sebelum ia datang.”
“Siapa Morva sebenarnya?”
Anak perempuan itu tidak langsung menjawab. Angin meniup rambut hitamnya. Wajah kecilnya tampak sangat pucat di bawah cahaya pagi.
“Dulu orang-orang menyebutnya monster laut,” katanya akhirnya.
“Tetapi itu salah.” Ilan mengernyit.
“Lalu?”
Nara memandangnya perlahan. Dan untuk sesaat, Ilan merasa gadis kecil itu jauh lebih tua daripada seluruh kota ini.
“Morva bukan makhluk,” katanya.
“Ia adalah sesuatu yang lahir ketika manusia terlalu lama saling membunuh.”
Kalimat itu membuat udara terasa lebih dingin. Ilan ingin tertawa. Mengatakan bahwa semua itu hanya dongeng. Namun ia tidak mampu. Karena setelah malam tadi, dunia tidak lagi terasa sesederhana sebelumnya. Sebab Hari-hari berikutnya membawa kegelisahan baru ke kota Lunara.
Kabut dari utara tidak pergi. Ia justru semakin sering turun hingga mendekati pelabuhan. Para nelayan mulai menemukan ikan-ikan mati mengambang di laut. Tubuhnya pucat. Matanya putih. Dan anehnya, semua jam milik beberapa keluarga mulai berhenti tepat pukul 12.00 siang.
Rumor berkembang cepat. Orang-orang mulai mengunci pintu lebih awal. Pasar menjadi lebih sepi. Bahkan lelaki tua pemain akordeon tidak lagi datang ke dermaga. Di kedai-kedai kecil, nama Morva mulai dibisikkan seperti doa terlarang.
“Kutukan Laut Utara.”
“Roh perang lama.”
“Bayangan yang memakan kota-kota.”
“Makhluk yang membuat manusia saling membunuh.” Semakin sedikit orang tidur nyenyak. Dan semakin banyak orang mulai saling curiga.
Pengungsi menjadi sasaran pertama. Suatu sore, keributan pecah dekat gudang pelabuhan. Sekelompok warga melempari dinding bangunan pengungsian dengan batu.
“Pergi dari sini!”
“Kalian membawa kematian!”
“Sejak kalian datang, kota ini dikutuk!”
Anak-anak pengungsi menangis ketakutan. Para relawan mencoba menahan massa. Tetapi ketakutan manusia sering kali lebih kuat daripada belas kasihan. Ilan datang terlambat. Ketika ia tiba, seorang lelaki telah menarik kerah seorang pengungsi tua hingga lelaki itu jatuh ke tanah.
“Kami tidak punya cukup makanan bahkan untuk diri sendiri!” bentaknya.
“Kalian akan menghancurkan kota Lunara!”
Ilan langsung menarik tangan lelaki itu.
“Sudah cukup!”
“Kau tidak mengerti!” balas lelaki itu marah.
Matanya merah karena kurang tidur.
“Anakku mulai sakit sejak kabut datang! Istriku mendengar suara-suara malam hari! Semua ini dimulai setelah mereka tiba!”
Ilan ingin membantah. Namun sebagian kecil dirinya diam-diam mengerti. Karena ketakutan mulai tumbuh di dalam dirinya juga. Dan itulah hal paling mengerikan. Bahwa manusia bisa tetap merasa benar bahkan ketika sedang berubah menjadi kejam.
Kerumunan perlahan bubar setelah para penjaga kota datang. Namun kebencian tidak ikut pergi. Ia tetap tinggal di udara. Tinggal di mata orang-orang. Tinggal di sela-sela percakapan kecil. Dan perang selalu tumbuh subur di tempat-tempat seperti itu.
Malamnya, Ilan kembali mendatangi rumah Taref. Hujan tipis turun di kota Lunara. Jalan-jalan batu memantulkan cahaya lentera seperti genangan emas redup. Taref sedang membuka peta tua ketika Ilan masuk. Kertas-kertas berserakan di meja. Sebagian tampak sangat kuno. Ada noda air. Ada bekas terbakar. Dan ada simbol-simbol aneh yang tidak dikenali Ilan.
“Apa itu?”
Taref tidak menjawab segera. Ia tampak lebih lelah dibanding beberapa hari lalu. Lingkar hitam muncul di bawah matanya. “Catatan perang lama,” katanya.
“Tentang Morva?” Lelaki tua itu mengangguk pelan.
“Aku berharap semuanya hanya dongeng.”
Ia membuka satu lembar halaman tua. Tulisan tangan di atasnya hampir pudar. Namun satu kalimat masih dapat dibaca: “Jika laut mulai diam dan jam-jam bergerak mundur, jangan biarkan kabut mencapai kota.” Ilan merasakan tenggorokannya mengering.
“Siapa yang menulis ini?”
“Seorang penjaga mercusuar dari utara.”
“Apa yang terjadi padanya?”
Taref terdiam.
“Ia ditemukan tanpa mata di tepi pantai tiga minggu kemudian.”
Angin menghantam rumah kayu itu. Lampu minyak bergoyang. Dan di luar jendela, kabut tampak semakin dekat.
“Apa Morva benar-benar nyata?” tanya Ilan pelan. Taref memandang api cukup lama.
“Selama perang, aku pernah melihat manusia membakar desa berisi anak-anak,” katanya.
“Setelah itu, sulit bagiku mengatakan sesuatu mustahil.”
Ilan menunduk. Lelaki tua itu melanjutkan:
“Tetapi ada hal lain yang lebih menakutkan daripada Morva.”
“Apa?”
“Manusia yang ketakutan.” Sunyi jatuh. Karena mereka berdua tahu itu benar.
Sementara itu, Nara mulai bermimpi lagi. Ia terbangun di tengah malam dengan napas tersengal. Tubuh kecilnya gemetar. Keringat dingin membasahi dahinya. Sena segera mendekat.
“Kau mimpi buruk lagi?”
Nara tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah dinding. Lalu perlahan ia berkata:
“Ia sudah dekat.”
“Siapa?”
“Yang ada di bawah laut.” Sena mencoba tersenyum.
“Itu hanya mimpi.” Nara menggeleng.
“Tidak.” Suaranya hampir seperti bisikan. “Aku pernah melihat satu kota dimakan kabut.”
Tubuh Sena membeku.
“Apa maksudmu?” Anak itu memeluk peluit kayunya.
“Semua orang mulai saling membenci sebelum itu terjadi.”
Ruangan pengungsian sunyi. Hanya suara ombak dan batuk kecil dari sudut ruangan.
“Mereka bilang kabut membunuh kota itu,” lanjut Nara.
“Tetapi sebenarnya manusia yang melakukannya sendiri.”
Sena tidak tahu harus menjawab apa, karena untuk ia merasa anak kecil itu tidak sedang berbicara seperti anak-anak. Melainkan seperti seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak hal.
Tiga hari kemudian, seorang nelayan hilang. Perahunya ditemukan mengambang dekat tebing utara. Kosong. Tidak ada darah. Tidak ada jejak perkelahian. Hanya jaring-jaring basah dan seekor camar mati di dasar perahu. Berita itu menyebar cepat.
Kota Lunara mulai berubah menjadi kota yang berbeda. Orang-orang menutup jendela lebih awal. Doa-doa dibacakan lebih sering. Anak-anak dilarang keluar malam. Bahkan suara tawa mulai jarang terdengar.
Suatu malam, ketika Ilan sedang memperbaiki jam di tokonya, suara ketukan kembali terdengar dari bawah lantai. Tok. Tok. Tok. Kali ini lebih keras. Ia berdiri perlahan. Napasnya berat. Ketukan itu berhenti. Lalu suara perempuan itu kembali.
“Ilan…”
Lebih dekat. Lebih jelas.
“Buka…”
Tubuh Ilan membeku. Keringat dingin muncul di tengkuknya.
“Siapa kau?” katanya gemetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara air. Seperti sesuatu bergerak di bawah laut. Lalu seluruh lampu di tokonya padam bersamaan. Gelap. Pekat. Dan dalam kegelapan itu, Ilan mendengar langkah kaki. Basah. Pelan. Mendekat. Ia mencoba menyalakan lampu. Tangannya gemetar. Korek api jatuh. Langkah itus makin dekat. Cahaya kecil akhirnya menyala.
Dan tepat di depan meja kerjanya berdiri sesosok perempuan. Tubuhnya basah. Rambut hitam panjang menutupi wajahnya. Air laut menetes dari ujung jarinya. Ilan mundur keras hingga kursinya jatuh.
Sosok itu perlahan mengangkat kepala. Dan di balik rambut basahnya, wajah itu tampak rusak. Pucat. Menyedihkan. Seperti mayat yang terlalu lama tenggelam. Matanya kosong putih. Tetapi bibirnya bergerak.
“Ia bangun…”
Lalu seluruh ruangan mendadak dipenuhi suara jeritan. Ratusan. Ribuan. Suara manusia. Suara perang. Suara tangisan. Suara orang-orang yang sekarat. Ilan menutup telinganya. Namun suara-suara itu terasa masuk langsung ke dalam kepalanya. Dan di antara semua jeritan itu, satu suara terdengar paling jelas.
“Jangan biarkan kabut masuk ke mercusuar.”
Kemudian semuanya lenyap. Lampu kembali normal. Ruangan kosong.Tak ada perempuan. Tak ada air. Tak ada suara. Hanya Ilan yang terduduk gemetar di lantai.
Keesokan paginya, kota Lunara menemukan mayat nelayan hilang itu. Tubuhnya terdampar di pantai. Kulitnya pucat kebiruan. Matanya hilang. Dan di dadanya, seseorang menulis satu kata menggunakan darah: MORVA. Jeritan memenuhi pantai. Beberapa perempuan menangis. Anak-anak disuruh pulang.
Sejak perang belum mencapai selatan, Lunara benar-benar merasa takut. Orang-orang mulai meminta gerbang kota ditutup. Sebagian ingin mengusir seluruh pengungsi. Sebagian lain ingin meninggalkan kota sebelum terlambat. Tetapi ke mana manusia bisa lari jika ketakutan telah tinggal di dalam dirinya sendiri?
Taref datang ke pantai bersama para penjaga. Wajahnya langsung berubah pucat ketika melihat tulisan itu.
“Kita terlambat,” bisiknya. Ilan mendengarnya.
“Terlambat untuk apa?”
Taref menatap laut. Kabut kini tampak jelas di cakrawala. Turun perlahan. Seperti dinding abu raksasa. Ketika kabut turun, rahasia bangkit. Ketika hati memilih, takdir berubah.
“Untuk menghentikan kabut itu sebelum ia melahap kota Lunara.”
Dan jauh di utara. Di balik kabut yang bergerak perlahan di atas laut. Sesuatu yang sangat besar membuka mata untuk kedua kalinya.

Baca juga: KABUT MORVA DI ATAS KOTA LUNARA

…… (✍️ Cerita bersambung. Pembaca budiman, nantikan kelanjutannya di bagian 3 novel fantasy “Kabut Morva di Atas Kota Lunara” karya Leni Marlina. Sampai jumpa di kisah berikutnya.)

Silahkan baca bagian 1 novel ”Kabut Morva di Atas Kota Lunara” di link resmi berikut:
https://suaraanaknegerinews.com/kabut-morva-di-atas-kota-lunara-2/
Silahkan baca juga prolog novel di link resmi berikut:
1. https://suaranegerinews.com/edukasi/kabut-morva-di-atas-kota-lunara/
2. https://negerinews.com/sastra/morva-di-atas-kota-lunara/
3. https://suaraanaknegerinews.com/kabut-morva-di-atas-kota-lunara/
4. https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/kabut-morva-di-atas-kota-lunara

 

Baca juga: Kabut Morva di Atas Kota Lunara

Kategori:
Tags:

Terkini