Sabtu, 15 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Jumat Aksi Seni FPS-TIM Kembali Digelar, Puluhan Polisi Datangi Aksi Seniman

Laporan: Nuyang Jaimee

JAKARTA, 15 Agustus 2026 — Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) kembali menggelar Jumat Aksi Seni (JAS) di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (15/8).

Aksi diikuti seniman, pekerja seni, komunitas, dan pendukung gerakan FPS-TIM untuk menyampaikan kritik terhadap tata kelola TIM dan tuntutan agar TIM kembali menjalankan fungsinya sebagai pusat kesenian.

Baca juga: Jejak Srikandi Polri Dr. Sulastiana: Dari Peneliti hingga Wakapolda, Menginspirasi Calon Mahasiswa UNCRI

Dalam kegiatan tersebut, puluhan personel kepolisian mendatangi kawasan aksi dan berada di sekitar para seniman. Kehadiran aparat menjadi salah satu peristiwa yang menarik perhatian dalam pelaksanaan JAS.

JAS 15 Agustus merupakan kelanjutan dari rangkaian gerakan FPS-TIM yang sebelumnya dilakukan melalui konsolidasi, diskusi, aksi unjuk rasa dan unjuk karya. Mujib Hermani dan David Karo memberikan orasi terkait sikap seniman untuk melawan penyimpangan-penyimpangan struktural dalam kebijakan dan pengelolaan yang tengah terjadi di  Taman Ismail Marzuki.

Baca juga: 246 Calon Mahasiswa Ikuti PKKMB UNCRI 2026

Pada JAS 7 Agustus, seniman melakukan karnaval di kawasan TIM dengan membawa keranda bertuliskan “TIM Sudah Mati”, poster perlawanan, serta menggelar dialog publik di pelataran TIM.

Rangkaian aksi tersebut berlanjut pada 12 Agustus 2026, ketika FPS-TIM membawa petisi dan TRITURA FPS-TIM ke Balai Kota DKI Jakarta. Karnaval dilakukan dari TIM melalui Cikini Raya, Tugu Tani, Merdeka Selatan, Balai Kota hingga Kebon Sirih.

TRITURA FPS-TIM memuat tiga tuntutan: menolak JAKPRO mengelola dan mengkomersialisasikan TIM; mengembalikan tata kelola TIM kepada Dinas Kebudayaan, UP PKJ TIM, Dewan Kesenian Jakarta bersama komunitas-komunitas seni secara demokratis dan adil; serta mengembalikan marwah TIM sebagai Pusat Kesenian.

Persoalan tersebut menjadi bagian dari tuntutan agar kebijakan pengelolaan TIM lebih berpihak pada keberlangsungan ekosistem seni.
Kehadiran puluhan polisi juga menjadi bagian penting dari peristiwa JAS 15 Agustus.

Bagi FPS-TIM, penggunaan seni sebagai medium aksi merupakan cara menyampaikan kritik sekaligus mempertahankan ruang kebudayaan. JAS 15 Agustus menjadi kelanjutan perjuangan yang telah dibawa dari ruang konsolidasi, aksi di TIM, hingga petisi ke Balai Kota.

Gerakan tersebut pada akhirnya membawa satu tuntutan utama: mengembalikan Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian yang terbuka, demokratis, dan berpihak pada kehidupan seniman serta komunitas seni. [PM]

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini