Sabtu, 15 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kadis Pariwisata Turbey Onny Dangeubun Tegaskan Dampak Ekonomi Langsung untuk OAP di Lapangan Cenderawasih

BIAK-PAPUA, SUARA ANAK NEGERI  – Festival Biak Numfor Munara Wampasi (FBMW) 2026 siap digelar sebagai salah satu ajang pariwisata bergengsi yang masuk dalam kurasi Karisma Event Nusantara (KEN). Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun, saat dikonfirmasi awak media di Gelanggang Remaja Biak, (29/6/2026) menegaskan bahwa festival tahun ini akan berlangsung pada 1-7 Juli 2026 dengan fokus utama pada pemberdayaan ekonomi langsung bagi Orang Asli Papua (OAP) dan pelaku usaha mikro.

“Kami sangat yakin bahwa efek domino dari pengelolaan festival ini bisa kita rasakan. Ketika jumlah kunjungan tinggi, nadi ekonomi daerah mulai bergerak mulai dari bandara, pelabuhan, porter, transportasi, hingga UMKM,” ujar Turbey Onny Dangeubun.

Masuk Kurasi Nasional dan Target Wisatawan Mancanegara

Baca juga: Rapat Paripurna DPRK Supiori Bahas Pertanggung Jawaban APBD 2025, Di Hadiri Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan Kapolres

Turbey menjelaskan bahwa FBMW 2026 merupakan salah satu dari tiga perwakilan Provinsi Papua dalam KEN, bersama Festival Danau Sentani (Kabupaten Jayapura) dan Festival Kopi (Kota Jayapura). Masuknya FBMW dalam KEN menandakan bahwa standar perhelatan telah memenuhi kriteria nasional.

Tahun ini, panitia menargetkan peningkatan tiga indikator utama pariwisata: jumlah kunjungan, lama tinggal (length of stay), dan pengeluaran wisatawan (spending). Konfirmasi kehadiran tamu internasional telah diterima dari negara-negara seperti Singapura, Filipina, Malaysia, dan Tiongkok, khususnya untuk kegiatan wisata minat khusus seperti lomba foto bawah air, selam, dan pengamatan burung (bird watching).

Dampak Ekonomi Langsung: “Fresh Money” untuk Pelaku Seni dan UMKM

Baca juga: Pemkab Biak Numfor Gelar Operasi Pasar Murah di Kampung Adorbari, Tekan Inflasi Daerah hingga 30 Persen

Salah satu poin penting yang ditekankan Kadis Pariwisata adalah prinsip manfaat ekonomi yang harus dinikmati langsung oleh masyarakat setempat. Berbeda dengan dampak tidak langsung, anggaran festival dikonversi menjadi fresh money yang mengalir tunai kepada pelaku seni dan budaya.

Sebagai contoh, kegiatan Parade Wor melibatkan 24 kelompok dari SRAM, dan Suling Tambur melibatkan 6 kelompok. Hanya dari jasa penampilan saja, diperkirakan ada aliran dana tunai sekitar Rp150 juta yang langsung masuk ke kantong pelaku seni, belum termasuk akomodasi dan konsumsi.

Praktis bahwa dampak secara ekonomi secara langsung itu benar-benar dinikmati oleh Orang Asli Papua, mulai dari UMKM, kemudian juga pelaku seni dan budaya,” tegas Turbey.

Lokasi pelaksanaan acara juga sengaja disebar ke berbagai kampung wisata seperti Mnurwar, Anggopi, Owi (termasuk Rurbas), Karnindi, Samber, dan Biak Timur. Penyebaran ini bertujuan agar dampak ekonomi tidak terpusat di kota, melainkan merata hingga ke pelosok desa.

Kolaborasi Komunitas sebagai Pilar Utama

Persiapan 12 event yang digelar saat ini telah mencapai tahap 90%. Kekuatan utama FBMW 2026 adalah pelibatan aktif komunitas lokal yang hidup secara mandiri. Beberapa kolaborasi strategis meliputi:

* Lomba Foto Bawah Air: Di-scale up ke level internasional dengan dukungan komunitas Diverse Biak.

* Run Tour Pulau Rurbas Kecil: Dikolaborasikan dengan komunitas lari lokal.

* Simponi Wampasi: Kerjasama dengan komunitas musik Kosmik Biak, yang diharapkan menjadi langkah awal menuju nominasi Kota Kreatif bidang musik.

Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa pengelolaan acara tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membangun kapasitas dan legitimasi komunitas lokal sebagai pilar pariwisata berkelanjutan.

Tema “Elok Alamku, Pesona Budayaku“: Menjaga Rumah Besar Kita

Mengusung tema “Elok Alamku, Pesona Budayaku”, penyelenggaraan tahun ini membawa pesan mendalam tentang tanggung jawab ekologis. Turbey mengingatkan bahwa alam adalah brand utama Biak yang menghidupi masyarakat. Oleh karena itu, tekanan terhadap daya dukung lingkungan harus diminimalisir selama perhelatan berlangsung.

Gabungan antara pelestarian alam (ekonomi biru/hijau) dan penguatan budaya (ekonomi oranye) dikonstruksikan sebagai bentuk ekonomi restoratif. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pariwisata yang memiliki resiliensi tinggi, mampu bertahan di tengah tantangan efisiensi global, dan tetap menjadikan Biak sebagai “rumah besar” yang nyaman bagi semua orang.

Mari kita tetap jaga rumah besar ini menjadi rumah bagi semua orang. Supaya orang ketika datang dia mengalami pengalaman yang baik, dan cerita yang baik itu akan terus membuat kita punya brand dan orang datang terus. Ya, itu bisa membagi keuntungan-keuntungan bagi kita semua,” pungkas Turbey Onny Dangeubun.

Dengan persiapan yang matang dan partisipasi luas dari 30 tim panitia serta ratusan pelaku seni, FBMW 2026 diproyeksikan bukan sekadar tontonan, melainkan prototipe pembangunan pariwisata berbasis komunitas yang dapat direplikasi di masa depan.

Editor ✍️: Anis Rumaropen

Kategori:
Tags:

Terkini