Senin, 29 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kadis Pariwisata Turbey Onny Dangeubun Tegaskan Dampak Ekonomi Langsung untuk OAP di Lapangan Cenderawasih

BIAK-PAPUA, SUARA ANAK NEGERI – Gelaran tahunan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 siap menyapa wisatawan nusantara maupun mancanegara. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun, saat dikonfirmasi di Lapangan Cenderawasih, Biak, sore tadi pukul 15.52 WIT.

Ditetapkan sebagai salah satu dari tiga perwakilan Provinsi Papua dalam Karisma Event Nusantara (KEN), festival ini akan berlangsung pada 1-7 Juli 2026 di tujuh destinasi wisata utama Biak Numfor. Dengan mengusung tema “Elok Alamku, Pesona Budaya Ku”, penyelenggaraan tahun ini tidak hanya bertujuan menarik kunjungan, tetapi juga menegaskan komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi bagi Orang Asli Papua (OAP).

Masuk Kurasi Nasional dan Target Wisatawan Mancanegara

Baca juga: Rapat Paripurna DPRK Supiori Bahas Pertanggung Jawaban APBD 2025, Di Hadiri Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan Kapolres

Saat dikonfirmasi, Turbey Onny Dangeubun menjelaskan bahwa masuknya FBMW ke dalam KEN merupakan hasil kurasi ketat karena standar perhelatan yang telah memenuhi kriteria nasional. Selain FBMW, dua event lain dari Papua yang masuk KEN adalah Festival Danau Sentani dan Festival Kopi Jayapura.

Tahun ini, panitia menargetkan peningkatan tiga indikator utama pariwisata: jumlah kunjungan, lama tinggal (length of stay), dan pengeluaran wisatawan (spending). Konfirmasi kehadiran tamu internasional telah diterima dari negara-negara seperti Singapura, Filipina, Malaysia, dan Tiongkok, khususnya untuk kegiatan wisata minat khusus seperti lomba foto bawah air, selam, dan pengamatan burung (bird watching).

Kami berharap festival ini menjadi lokomotif penggerak nadi ekonomi daerah. Ketika wisatawan tiba, efek domino ekonomi langsung terasa mulai dari porter, transportasi, hotel, kuliner, hingga kerajinan tangan,” ujar Turbey Onny Dangeubun saat memberikan keterangan kepada awak media.

Baca juga: Pemkab Biak Numfor Gelar Operasi Pasar Murah di Kampung Adorbari, Tekan Inflasi Daerah hingga 30 Persen

Kolaborasi Komunitas sebagai Pilar Utama

Salah satu kekuatan FBMW 2026 adalah pelibatan aktif komunitas lokal yang hidup secara mandiri. Persiapan 12 event yang digelar saat ini telah mencapai tahap 90%. Beberapa kolaborasi strategis meliputi:

* Lomba Foto Bawah Air: Di-scale up ke level internasional dengan dukungan komunitas Diverse Biak.

* Run Tour Pulau Rurba Kecil: Dikolaborasikan dengan komunitas lari lokal.

* Simfoni Wampasi: Kerjasama dengan komunitas musik Kosmik Biak, yang diharapkan menjadi langkah awal menuju nominasi Kota Kreatif bidang musik.

Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa pengelolaan acara tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membangun kapasitas dan legitimasi komunitas lokal sebagai pilar pariwisata berkelanjutan.

Dampak Ekonomi Langsung untuk OAP dan Pelaku Seni

Penyelenggara menekankan prinsip manfaat ekonomi yang harus dinikmati langsung oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh nyata, kegiatan Parade Wor melibatkan 24 kelompok dari SRAM, dan Suling Tambur melibatkan 6 kelompok. Hanya dari jasa penampilan saja, diperkirakan ada aliran dana tunai sekitar Rp150 juta yang langsung masuk ke kantong pelaku seni, belum termasuk akomodasi dan konsumsi.

Selain itu, lokasi pelaksanaan acara sengaja disebar ke berbagai kampung wisata seperti Mnurwar Anggopi, Owi (termasuk Rurbas), Karnindi, Samber, dan Biak Timur. Penyebaran ini bertujuan agar dampak ekonomi tidak terpusat di kota, melainkan merata hingga ke pelosok desa.

Uang fresh money dari festival ini langsung dinikmati pelaku usaha riil. Ini berbeda dengan dampak tidak langsung. Kami ingin memastikan Orang Asli Papua mendapatkan manfaat terbesar,” tegas Turbey Onny Dangeubun saat ditanya mengenai realisasi anggaran.

Menjaga “Rumah Besar” Melalui Ekonomi Restoratif

Tema “Elok Alamku, Pesona Budaya Ku” membawa pesan mendalam tentang tanggung jawab ekologis. Penyelenggara mengingatkan bahwa alam adalah brand utama Biak yang menghidupi masyarakat. Oleh karena itu, tekanan terhadap daya dukung lingkungan harus diminimalisir selama perhelatan berlangsung.

Gabungan antara pelestarian alam (ekonomi biru/hijau) dan penguatan budaya (ekonomi oranye) dikonstruksikan sebagai bentuk ekonomi restoratif. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem pariwisata yang memiliki resiliensi tinggi, mampu bertahan di tengah tantangan efisiensi global, dan tetap menjadikan Biak sebagai “rumah besar” yang nyaman bagi semua orang.

Pesan Penutup: Mari Jaga Rumah Besar Kita

Menutup keterangannya saat dikonfirmasi, Turbey Onny Dangeubun menyampaikan pesan penting kepada seluruh masyarakat Biak Numfor terkait keberlanjutan pariwisata:

Mari kita tetap jaga rumah besar ini menjadi rumah bagi semua orang. Supaya orang ketika datang dia mengalami pengalaman yang baik, dan cerita yang baik itu akan terus membuat kita punya brand dan orang datang terus. Ya, itu bisa membagi keuntungan-keuntungan bagi kita semua,” pungkas Kadis Pariwisata.

Dengan persiapan yang matang dan partisipasi luas dari 30 tim panitia serta ratusan pelaku seni, FBMW 2026 diproyeksikan bukan sekadar tontonan, melainkan prototipe pembangunan pariwisata berbasis komunitas yang dapat direplikasi di masa depan.

Editor ✍️: Anis Rumaropen

Kategori:
Tags:

Terkini