http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Dari Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat beriman untuk merenungkan kembali makna sejati relasi manusia dengan Tuhan. Melalui refleksi Injil Markus 12:35-37 yang disampaikan pada Jumat (5/6/2026), ia menegaskan bahwa iman yang benar bukan sekadar mengagumi karya-karya Tuhan, melainkan menyerahkan seluruh kendali hidup kepada-Nya.
Berangkat dari dialog antara Yesus dan para ahli Taurat, Pastor Pius menjelaskan bahwa pada masa itu banyak orang memahami Mesias hanya sebagai “Anak Daud”, sosok yang diharapkan hadir sebagai pembebas politik bangsa Israel. Pemahaman yang sempit tersebut membuat mereka gagal melihat identitas Mesias yang sesungguhnya. “Daud sendiri menyebut Dia Tuan,” ungkap Pastor Pius dalam refleksinya.
Menurutnya, pernyataan itu menunjukkan bahwa Mesias bukan hanya hadir sebagai manusia keturunan Daud, tetapi juga memiliki kuasa ilahi yang melampaui segala pengertian manusia. Karena itu, umat diajak untuk tidak membatasi kebesaran Tuhan hanya pada ukuran-ukuran yang dapat dipahami secara manusiawi.
Baca juga: Pdt. Roy Daniel Sitepu Dorong Generasi Tanimbar Menjadi Pribadi Berdampak
Pastor Pius menilai, dalam kehidupan beriman saat ini masih banyak orang yang tanpa sadar mereduksi kemahakuasaan Tuhan. Tidak sedikit yang memandang Tuhan hanya sebagai pribadi yang siap membantu ketika dibutuhkan, mengabulkan permohonan, atau menyelesaikan persoalan hidup. “Kita membangun paham: Tuhan sebagai pembantu yang mengikuti kemauan kita saat diminta,” ujarnya.
Cara pandang seperti itu, menurutnya, berisiko menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu, sementara Tuhan hanya diposisikan sebagai pelengkap kebutuhan. Padahal hakikat iman justru mengajak manusia untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. “Beriman benar adalah menjadikan Tuhan sebagai Tuan yang berkuasa atas hidupmu. Dia pemegang kendali atas hidupmu,” tegas Pastor Pius.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa iman bukanlah hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan sesaat. Iman adalah kesediaan untuk mempercayakan hidup kepada kehendak Tuhan, bahkan ketika jalan yang ditempuh tidak selalu sesuai dengan harapan manusia.
Baca juga: Patroli Presisi Polres Tanimbar Cegah Begal dan Premanisme
Di tengah zaman yang mendorong manusia merasa mampu mengendalikan segalanya melalui pengetahuan, teknologi, dan kekuatan pribadi, refleksi ini mengajak umat untuk kembali menyadari keterbatasannya. Kebijaksanaan sejati lahir ketika manusia mampu menempatkan Tuhan di atas segala rencana dan ambisinya.
Pada akhir refleksinya, Pastor Pius mengajak umat untuk terus membangun ketaatan melalui sikap mendengarkan, percaya, dan melaksanakan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari dengarkan Tuhan, percaya pada-Nya dan lakukan kehendak-Nya,” ajaknya.
Dari Lauran, pesan sederhana itu mengandung makna yang mendalam: kehidupan akan menemukan arah yang benar ketika manusia tidak lagi berusaha menjadi pengendali utama, melainkan dengan rendah hati menyerahkan seluruh perjalanan hidupnya kepada Tuhan.
Jk





