Jumat, 16 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

MENELAAH PUISI KEPERGIANMU RAMADAN

Bagi saya, menulis puisi itu ibarat orang lapar yang kepingin makan. Karena itu substansi dalam tulisan itu saya rangkai dengan metapora yang terungkap secara detil. Itu karena berkaitan dengan kepentingan jiwa, perasaan, dan pikiran saya.
——————–

PALEMBANG – SUARA ANAK NEGERI| Mendalami ide untuk menulis satu karya (terutama puisi), membutuhkan plot rasa yang harus diendapkan terlebih dahulu.

Sebab ide yang ada di dalam diri ini perlu digagas menjadi satu bentuk karya yang kuat secara estetika. Karena itu saya merangkainya dengan daya ucap yang konkret ( the concrete word), sehingga ketika puisi itu dibaca oleh siapapun, narasinya akan hidup dan membuat orang kagum.

Baca juga: Membaca Masa Depan Ekonomi Indonesia Sesudah 10 Tahun di Bawah Jokowi

Seperti yang diungkap B Somorangkir-Sumandjuntak, ..peladjar atau penggemar sastra sudah banjak memahami kata kesusteraan bahkan kerapkali djuga mengutjapkan perkataan itu, memang harus diendap setjara mendalam. (Kekusuteraan Indonesia : halaman 32 terbitan Jajasan Pembangunan Djakarta 1953).

Itu berarti, sebelum pembaca mendalami karya yang kita tulis, harus dirangkai secara mendalam, sehingga pembaca akan masuk ke ruang sense of intention di dalam puisi yang kita tulis.

Yang dimaksud dengan sense’ itu adalah tema atau arti. Inilah yang memgantarkan pembaca untuk memahami tujuan puisi yang kita tulis.

Baca juga: Apa yang Diketahui Puisi tentang Kita?

Sedangkan intention merupakan arahan untuk tiba kepada tujuan isi yang kita tulis. Karena itu meski tema satu puisi terasa tampak tersamar, namun tak ada satu karya yang tidak mengandung arti.

Ini yang saya rangkai secara imajinasi agar tiap rangkaian kalimat puisi itu bisa diarahkan ke ruang rasa pembaca ( feeling of human ).

Seperti puisi terbaru yang saya tulis di Senabung (perbatasan Sumsel dan Lampung Barat) tanggal 26 April 2023 bertajuk ” Kepergianmu Ramadan”, mengutarakan tentang pembelajaran diri ketika jiwa ini merasakan haus dan lapar sebagai satu keharusan dan kewajiban melaksanakan puisi (Ramadan).

Karena itu tiap bait (larik) puisi, menjelaskan kaitan rangkaian rasa secara religiusitas, yang diurai dalam diksi-diksi pilihan.

Inilah puisi bertajuk Kepergianmu Ramadan yang saya urai dengan maksud dan nilai arti dari balik rangkaian kalimat tersaji melalui metapora sederhana.

di batas waktu inilah, aku sendiri

sebab dalam situasi cemas dan padat cerita atas kepergianmu Kekasih, liku-liku jalan pun masih jauh panggang dari api

selama tiga puluh hari setelah kita berpeluk mesra dengan segala doa dan ruang kesempatan, Kau tunggalkan aku sendiri

entah
yang keberapa kali
percikan air mata ini
hanyut ke dalam derasnya perasaan itu

sebab
kehadiran dan kepergianmu yang begitu harum,
tercatat dari keringnya lapar haus keyakinanku sebulan penuh

begitu surut kobaran api
tatkala keikhkasan itu tiba pada momentum yang Kau ajarkan selama berpuasa

o aku merenung sendiri di puncak kegelisahan
ketika Kau ajarkan hakikat tentang siapa aku dan diri-Mu

sebab jarak kepergianmu yang jauh dari bulan ke bulan,
selalu menebalkan kecemasan apabila batas usiaku tiba lebih duluan dibanding kesucianMu, Ramadan

Senabung
26 April 2023

Dari rangkaian puisi Kepergianmu Ramadan itu bisa disimpulkan tentang kekhawatiran seorang aku (lirik) yang cemas apakah Ramadan tahun berikutnya ia bisa jumpa lagi dengan Dia (Ramadan) ?

Bagi aku (lirik), kehadiran Ramadan yang selalu tiba setahun sekali itu begitu merasuk dan menggugah jiwanya. Hal itu pula yang ia ungkap pada larik (bait) kedua …sebab dalam situasi cemas dan padat cerita atas kepergianMu Kekasih, liku-liku jalan pun masih jauh panggang dari api…

Aku (lirik) menanyakan apakah Ramadan bisa ia temui lagi di tahun berikutnya. Sementara saat ia melaksanakan ibadah puasa tahun ini masih “centang perentang” dan belum sesuai dengan kaidah sebenarnya.

Artinya ibadah secara kaffah itu masih jauh dari harapan (jauh panggang dari api). Terkait kegelisahan itulah aku (lirik) cemas apakah Ramadan berikutnya bisa jumpa lagi dengan Dia (Ramadan).

Dalam kaitan metapora yang memenuhi lingkar puisi ini, meski diungkap secara sederhana namun ada kaitan kalimat yang dirangkai dengan pendekatan kejiwaan dan pendekatan falsafah.

Dengan berbagai kaitan itu dapat terbaca dari pendekatan ekstrinsik dan intrinsik yang saling bersentuhan pada lapisan bait satu dan kedua.

Dari balik keduanya, kita merasa nilai rasa (feeling) begitu kental menyentuh jiwa. Munculnya rasa ini karena sikap penyair terhadap pokok masalah (kecemasan bisa jumpa Ramadan) yang terdapat di dalam puisi itu.

Sebab setiap penyair memiliki sikap tertentu sesuai pokok-pokok pandangannya, watak pribadi sebagai gambaran untuk melengkapi keutuhan isi pusinya.

Karena itu tujuan penyair untuk menciptakan puisinya harus diperkuat dengan nilai intensi yang mengarah kuat ke arah dasarnya.

Maka dari bait-bait lanjutan puisi Kepergianmu Ramadan’ini menjelaskan kecemasan dan ketakutan akan ketidakhadiran Ramadan karena tugas hidupnya dibatasi ajal.

Seperti dikemukakan seorang penyair sufi Arab Machmud Darwish, kecemasan diri pribadi yang berkaitan dengan nilai kepercayaan adalah unsur getaran hati karena nur hidayah yang merasuk ke ruang keyakinan telijik yang begitu kuat.

Dari pandangan religiusitasnya itu akan melahirkan karya-karya yang memiliki sikap tertentu. Misalnya sajak filosofis agama yang mengarah ke puisi dikdaktis.

Tujuan ini pula yang berhubungan dengan situasi dan kondisi tertentu seperti puisi Kepergianmu Ramadan ini.

Tiap penyair, tentu akan memilih kata-kata yang paling tepat sehingga dapat memberi daya saran yang maksimal.

Maka setiap diksi yang dipilih tidak pernah sama karena visi dan latar belakang tradisi yang tidak sama. Selain itu pergumulan kreatif para penyair tidak sama.

Terkait puisi saya ini, tentu didasari pola-pola kreativitas yang didalami dengan keyakinan (reliji) yang kuat sehingga muncul nilai-nilai kecemasan terhadapat peredaran datangnya Ramadan yang sama di tahun berikutnya. (*)

Penulis adalah sastrawan dan wartawan senior

3 Mei 2023

Kategori:
Tags:

Terkini