Senin, 12 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Ruang Audiensi ke Ruang Kelas: Mahyeldi Ingin Buku Terbaik Guru Menjadi Pelita Literasi Sumbar

Laporan: Ita Desnatalia, M.Pd.

–

PADANG, SUARA ANAK NEGERI, 11 Oktober 2026 — Ada perjumpaan yang tidak saja mempertemukan orang-orang dalam sebuah ruangan, tetapi juga mempertemukan gagasan, harapan, dan masa depan. Itulah suasana yang mengemuka dalam audiensi Panitia Padang International Literacy Festival (PIL-Fest) bersama Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi, medio September 2026 lalu.

Baca juga: Boat “UNP Berdampak” Hadir di Danau Atas Alahan Panjang, UNP Dorong Wisata Air Berbasis Masyarakat

Selama kurang lebih satu setengah jam, percakapan berlangsung hangat dan penuh gagasan. Waktu seolah berjalan singkat, sementara pikiran-pikiran tentang masa depan literasi terus bertaut. Di ruang audiensi itu, buku dibicarakan sebagai jembatan pengetahuan yang menghubungkan guru, siswa, sekolah, dan peradaban.

Dukungan pemerintah daerah menjadi energi baru bagi Panitia Penyala Literasi Semesta (PLS) yang tengah mematangkan persiapan PIL-Fest, sebuah perhelatan literasi berskala internasional yang dijadwalkan berlangsung pada 27–29 November 2026.

Baca juga: Dosa

Pertemuan yang juga menyimpan pengalaman spiritual yang berkesan. Seluruh panitia berkesempatan menunaikan salat Subuh berjemaah dengan Buya Mahyeldi sebagai imam. Dalam suasana yang khidmat dan penuh kekeluargaan, ikhtiar membangun budaya membaca dan menulis sebagai panggilan untuk menyalakan kecerdasan dan harapan generasi muda, didiskusikan Bersama Gubernur Sumbar.

Karya Guru Menemukan Jalan ke Ruang Kelas

Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam audiensi itu ialah dorongan agar buku-buku terbaik karya guru, khususnya yang berhasil meraih penghargaan di tingkat nasional, dapat dibaca lebih luas oleh para siswa.

Buya Mahyeldi menyarankan agar karya-karya para guru tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi penulis atau  menjadi koleksi penghargaan. Sekolah diharapkan memberi ruang bagi buku-buku itu untuk hadir dalam kehidupan belajar, bahkan membelinya sebagai bahan ajar bagi peserta didik.

Gagasan ini menyentuh persoalan mendasar dalam dunia pendidikan: bagaimana karya seorang guru dapat melampaui ruang tempat ia mengajar dan menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan pengetahuan?

Guru bukan hanya penyampai materi di depan kelas. Mereka juga pengamat kehidupan, peneliti pengalaman, pengolah gagasan, dan penulis yang dapat melahirkan sumber belajar dari realitas di sekitarnya. Ketika karya mereka memperoleh tempat dalam pembelajaran, penghargaan terhadap profesi guru menjelma menjadi pemanfaatan nyata bagi pendidikan.

Buku yang ditulis dengan kesungguhan dapat menjadi jendela baru bagi siswa. Di dalamnya, mereka tidak hanya menemukan pengetahuan, tetapi juga mengenali pengalaman, kebudayaan, persoalan masyarakat, serta kemungkinan-kemungkinan masa depan.

Dengan demikian, dorongan untuk menjadikan karya terbaik guru sebagai bahan ajar merupakan langkah yang patut dikembangkan melalui mekanisme seleksi, penilaian mutu, kesesuaian kurikulum, dan kebijakan pengadaan yang transparan. Sebab, buku yang baik bukan hanya layak dibanggakan, tetapi juga harus bermanfaat bagi pembacanya.

Eka Teresia dan Ikhtiar Menyalakan Semesta Literasi

Ketua Penyala Literasi Semesta, Eka Teresia, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Gubernur Sumatera Barat serta perhatian pemerintah daerah terhadap gerakan literasi.

Apresiasi juga disampaikan kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat beserta seluruh panitia yang terus bekerja membangun kebersamaan demi menyukseskan festival dimaksud.

Bagi penyelenggara, persiapan PIL-Fest, di balik setiap kegiatan, terdapat harapan agar literasi tumbuh menjadi kebiasaan, menjadi gerakan bersama, bukan hanya pekerjaan segelintir orang.

Sebuah festival memang memiliki tanggal pembukaan dan penutupan. Namun, gerakan literasi yang baik seharusnya tidak berakhir ketika panggung dibongkar dan para peserta kembali ke rumah masing-masing. Ia mesti berlanjut di perpustakaan sekolah, di ruang kelas, di rumah-rumah, serta dalam percakapan sehari-hari masyarakat, demikian ketika dikonfirmasi via telpon seluler, Eka Teresia mengharapkan.

687 Buku, Delapan Negara, dan Sebuah Panggung Pengetahuan

Padang International Literacy Festival tahun 2026, dirancang dengan rangkaian kegiatan yang beragam dan inklusif. Salah satu agenda utamanya adalah peluncuran 687 buku karya penulis dari delapan negara.

Angka ini menghadirkan gambaran tentang luasnya ruang perjumpaan yang hendak dibangun melalui literasi. Penulis dengan pengalaman, bahasa, dan latar kebudayaan berbeda dipertemukan dalam satu panggung untuk merayakan gagasan dan pengetahuan.

Selain peluncuran buku, festival juga akan menghadirkan lomba wastra serta penganugerahan bagi guru dan siswa berprestasi. Penghargaan turut dirancang untuk kepala sekolah, guru penggerak literasi, sekolah penggerak literasi dari jenjang SD hingga perguruan tinggi, serta komunitas yang berkontribusi dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis.

Perpaduan literasi dengan wastra juga membuka ruang bagi perjumpaan antara kata dan kebudayaan. Sebab, pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam buku pelajaran, ia juga hidup dalam kain, motif, tradisi, cerita rakyat, dan ingatan kolektif masyarakat.

Di titik inilah festival diharapkan  menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, identitas budaya, pendidikan, dan dialog lintas bangsa.

Menanam Literasi Sejak Sekolah Dasar

Bagi Penyala Literasi Semesta, masa depan literasi tidak dapat dibangun secara instan. Kebiasaan membaca dan kemampuan menulis perlu ditumbuhkan sejak dini, dimulai dari sekolah dasar, kemudian diperkuat pada jenjang pendidikan berikutnya.

Anak-anak perlu dibiasakan membaca untuk memahami kehidupan. Mereka perlu belajar menulis bukan hanya demi memenuhi tugas sekolah, tetapi juga agar mampu menyampaikan pikiran, merekam pengalaman, dan mengungkapkan gagasan dengan jernih.

Sekolah memiliki peran penting dalam proses tersebut. Perpustakaan yang hidup, guru yang gemar membaca, kegiatan menulis yang terarah, serta akses terhadap buku bermutu dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi yang kritis, kreatif, dan terbuka terhadap pengetahuan.

Sumatera Barat memiliki kekayaan tradisi intelektual dan kebudayaan yang dapat menjadi sumber inspirasi. Kekayaan itu akan semakin bermakna apabila dirawat melalui pendidikan, diterjemahkan menjadi karya, dan diwariskan kepada generasi muda melalui kebiasaan membaca serta menulis.

Cita-cita menjadikan Sumatera Barat sebagai provinsi yang literat membutuhkan kerja bersama pemerintah, sekolah, guru, keluarga, penulis, komunitas, dan masyarakat luas.

Menyalakan Pelita, Menjaga Cahaya

Dukungan Gubernur Sumatera Barat terhadap PIL-Fest memberi ruang bagi tumbuhnya harapan baru. Namun, ukuran keberhasilan gerakan literasi tidak semata-mata terletak pada banyaknya buku yang diluncurkan atau meriahnya sebuah festival.

Ukuran yang lebih mendasar ialah berapa banyak anak yang mulai mencintai buku, berapa banyak guru yang terdorong melahirkan karya, berapa banyak sekolah yang membuka ruang bagi bacaan bermutu, dan seberapa jauh pengetahuan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Buku-buku terbaik karya guru yang kelak hadir di ruang kelas dapat menjadi simbol penting dari perubahan tersebut: pengetahuan yang lahir dari tangan pendidik, memperoleh pengakuan, lalu kembali kepada dunia pendidikan untuk memperkaya pembelajaran.

Pada akhirnya, literasi adalah perjalanan panjang. Ia dimulai dari sebuah halaman yang dibaca dengan rasa ingin tahu, berlanjut menjadi gagasan yang ditulis dengan keberanian, lalu tumbuh menjadi pengetahuan yang dibagikan kepada sesama.

Melalui Padang International Literacy Festival pada 27–29 November 2026, Penyala Literasi Semesta berupaya menjaga nyala itu tetap hidup. Sebab, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung yang menjulang, tetapi juga oleh pikiran yang tercerahkan, kata-kata yang menggerakkan, dan generasi yang tidak pernah berhenti belajar.

Dari Padang, pelita literasi diharapkan terus menyala, menerangi ruang kelas, menyapa masyarakat, dan membawa Indonesia melangkah menuju masa depan yang lebih berpengetahuan.

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini