SELANGOR, MALAYSIA – SUARA ANAK NEGERI, 3 November 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia bersama Monash University menyelenggarakan Literacy and Numeracy Educators Symposium di Monash University Malaysia, Selasa (3/11/2026). Forum akademik internasional ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas profesional pendidik, mengembangkan inovasi pedagogis berbasis bukti, serta memperluas kolaborasi antara institusi pendidikan Indonesia dan perguruan tinggi internasional.

Simposium diikuti oleh 30 peserta dari Indonesia yang terdiri atas dosen, guru, dan tenaga kependidikan, serta turut dihadiri peserta lokal dari lingkungan Monash University Malaysia. Kehadiran kedua kelompok peserta memperkaya perspektif akademik, membuka ruang dialog lintas institusi, dan mendorong pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan pembelajaran literasi dan numerasi.
Program pengembangan kompetensi yang menjadi landasan kegiatan ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Beasiswa Non Gelar Tahun 2026. Dukungan pendanaan ini memperkuat kesempatan bagi pendidik dan tenaga kependidikan untuk mengikuti pengembangan profesional bertaraf internasional, sekaligus mendorong pemanfaatan hasil pembelajaran bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi atas efektivitas program peningkatan kompetensi pendidik, khususnya dalam menghubungkan hasil pengembangan profesional dengan praktik pembelajaran di kelas serta potensi replikasi inovasi pada berbagai konteks pendidikan.
Baca juga: SEMBAHYANG ITU HAK HIDUP BERIMAN
Kolaborasi Akademik untuk Memperkuat Kompetensi Pedagogis
Simposium diawali dengan pengantar akademik oleh Dr. Tanya Davies dan Prof. Gillian Kidman dari Monash University, yang memfasilitasi rangkaian diskusi, refleksi, dan pertukaran praktik pembelajaran. Sambutan resmi pihak tuan rumah disampaikan oleh Associate Professor Tridip Saha, Director of Education and Training Academy, Monash University Malaysia.

Sementara itu, mewakili Kemendikdasmen, Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom., M.M., Ketua Tim Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan pada Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, menyampaikan arah kebijakan penguatan kompetensi guru serta pentingnya memastikan keberlanjutan dampak program pengembangan profesional.
Menurut Ahmad, kerja sama akademik internasional perlu ditempatkan dalam kerangka peningkatan kualitas pendidikan nasional, bukan sekadar mobilitas akademik atau pertukaran pengalaman. Hasil pembelajaran diharapkan dapat diterjemahkan menjadi inovasi pedagogis, penguatan komunitas belajar, penelitian terapan, serta praktik yang dapat direplikasi sesuai kebutuhan sekolah.
Empati sebagai Landasan Transformasi dan Pemerataan Pendidikan
Salah satu gagasan utama yang ditekankan Ahmad Budidarma adalah empati sebagai fondasi transformasi pendidikan. Peningkatan kompetensi profesional pendidik harus berjalan beriringan dengan kesadaran sosial dan kepedulian terhadap ketimpangan akses maupun kualitas layanan pendidikan.
“Poin besar yang ingin saya sampaikan dari simposium ini adalah empati. Kepedulian untuk memajukan pendidikan harus dimulai dari rasa empati. Kompetensi yang kita miliki akan semakin bermakna ketika digunakan untuk membantu guru dan peserta didik yang menghadapi keterbatasan akses serta sumber daya pendidikan,” ujar Ahmad.
Ia menilai bahwa empati merupakan dimensi penting dalam profesionalisme guru, terutama ketika dihadapkan pada keragaman geografis, sosial, budaya, dan karakteristik peserta didik di Indonesia. Keberhasilan pengembangan profesional tidak hanya diukur melalui peningkatan keterampilan individu, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap pemerataan kesempatan belajar.
Forum Pleno Gagas Pertukaran Guru ke Daerah 3T
Salah satu hasil penting simposium mengemuka dalam forum pleno yang dimoderatori oleh Dr. Agus Mutohar. Forum ini menghasilkan refleksi mengenai potensi besar para peserta sebagai agen perubahan pendidikan, khususnya dalam pengembangan literasi dan numerasi.

Kemampuan pedagogis, kreativitas, pengalaman akademik, dan komitmen profesional para peserta dipandang sebagai modal penting untuk mempercepat peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam pleno berkembang pandangan bahwa apabila semakin banyak guru Indonesia memiliki kompetensi dan semangat pengembangan diri seperti para peserta simposium, kemajuan pendidikan nasional berpotensi berlangsung lebih cepat dan merata.
Dari refleksi tersebut muncul gagasan agar Kemendikdasmen mempertimbangkan inisiasi program pertukaran atau penugasan pengabdian guru dengan melibatkan peserta yang telah memperoleh pengalaman pengembangan kompetensi melalui kerja sama internasional. Program yang diusulkan berupa penugasan mengajar selama sekurang-kurangnya dua minggu di sekolah-sekolah daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Gagasan ini diarahkan untuk membangun model pengembangan profesional berbasis pengalaman langsung (experiential professional learning) sekaligus memperluas distribusi praktik pedagogis yang efektif. Guru peserta program dapat berbagi pendekatan pembelajaran, strategi asesmen, pemanfaatan teknologi, serta inovasi literasi dan numerasi kepada guru di sekolah sasaran.
Sebaliknya, pengalaman mengajar di daerah 3T memungkinkan peserta memperoleh pemahaman kontekstual mengenai tantangan pembelajaran, keterbatasan infrastruktur, karakteristik peserta didik, serta strategi adaptif yang dikembangkan guru setempat. Pendekatan ini diharapkan menciptakan pembelajaran dua arah yang saling memperkaya, bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah.
Para peserta simposium menyampaikan kesiapan untuk berpartisipasi apabila inisiatif ini dapat dikembangkan menjadi program terstruktur. Gagasan ini masih memerlukan kajian lebih lanjut mengenai mekanisme penugasan, pemilihan sekolah sasaran, dukungan pemerintah daerah, keberlanjutan pendampingan, dan evaluasi dampaknya.
Prof. Gillian Kidman Dukung Penguatan Riset dan Publikasi Ilmiah Guru Indonesia
Prof. Gillian Kidman menunjukkan komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi akademik dalam peningkatan kualitas pendidikan melalui pengembangan profesional, penelitian, dan diseminasi pengetahuan. Pengalaman pembelajaran dan inovasi pedagogis yang dipresentasikan diharapkan dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Berbagai praktik baik peserta berpotensi dikembangkan menjadi penelitian tindakan kelas, studi kasus pembelajaran, penelitian evaluatif, maupun kajian implementasi inovasi literasi dan numerasi. Publikasi ilmiah menjadi instrumen strategis untuk mendokumentasikan pengetahuan profesional guru dan memperkuat hubungan penelitian dengan praktik di sekolah.
Komitmen kolaborasi juga ditunjukkan melalui kesediaan Prof. Gillian Kidman untuk berkontribusi dalam jajaran editorial Jurnal Guru Dikmen dan Diksus, jurnal ilmiah di lingkungan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen. Keterlibatan akademisi internasional diharapkan memperluas jejaring keilmuan dan memperkuat kualitas proses editorial.
“Simposium ini seharusnya tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran pengalaman. Berbagai gagasan, inovasi, dan praktik baik yang telah dihasilkan perlu dikembangkan menjadi artikel ilmiah, dipublikasikan, dan yang terpenting diimplementasikan agar memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran,” ungkap Ahmad.
Ia mendorong peserta untuk mendiseminasikan hasil pengembangan profesional melalui Jurnal Guru Dikmen dan Diksus, yang dapat diakses pada https://jgdd.kemendikdasmen.go.id. Penguatan publikasi diharapkan turut membangun budaya akademik dan penelitian di kalangan guru.
Diseminasi Inovasi Pembelajaran melalui Gallery Walk dan Refleksi Akademik
Melalui sesi Participant Showcase, para peserta mempresentasikan inovasi pembelajaran dan bukti penerapan hasil program literasi dan numerasi dalam format gallery walk yang mencakup sepuluh tema atau hasil utama pembelajaran. Pendekatan ini membuka kesempatan mendiskusikan konteks penerapan inovasi, faktor pendukung, dan tantangan implementasi.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi “Literacy and Numeracy in Partnership: Building Strong Foundations for Learning” yang difasilitasi Dr. Tanya Davies dan Prof. Gillian Kidman. Dalam sesi paralel, kelompok literasi membahas praktik literasi lintas disiplin dan strategi perluasan pendekatan efektif, sementara kelompok numerasi mengeksplorasi pedagogi numerasi, pemecahan masalah, dan penggunaan data untuk pengambilan keputusan pembelajaran.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan diskusi panel, refleksi hasil pembelajaran, penyerahan sertifikat, serta penyampaian apresiasi kepada para peserta dan mitra penyelenggara.
Menuju Ekosistem Pengembangan Profesional Guru yang Berkelanjutan
Simposium ini memperlihatkan pentingnya membangun ekosistem pengembangan profesional guru yang mengintegrasikan pelatihan, praktik reflektif, penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat pendidikan. Kolaborasi Kemendikdasmen dan Monash University membuka peluang kerja sama yang berorientasi pada perluasan dampak pembelajaran melalui jejaring profesional dan kemitraan kelembagaan.
Tiga arah tindak lanjut yang mengemuka meliputi pengembangan gagasan pertukaran guru ke daerah 3T, penguatan penelitian dan publikasi ilmiah, serta keberlanjutan kolaborasi akademik internasional. Ketiganya diharapkan saling mendukung dalam memperkuat pemerataan kualitas pendidikan melalui distribusi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi pembelajaran.
Forum ini menegaskan bahwa transformasi pendidikan memerlukan keseimbangan antara kompetensi profesional, penguasaan pengetahuan ilmiah, inovasi pedagogis, dan empati sosial. Kemajuan pendidikan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak guru memperoleh kesempatan belajar, tetapi juga oleh seberapa luas pengetahuan, pengalaman, dan kepedulian tersebut dibagikan untuk seluruh anak bangsa.



