Rabu, 10 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Berikan Aku Sebait Puisi

Oleh: Rizal Tanjung

Mata adalah jendela hati—
tempat cahaya singgah sebelum menjadi kenangan,
tempat air mata diam-diam belajar
mengeja luka dengan bahasa yang tak terdengar.

Baca juga: Kumpulan Puisi Leni Marlina "Senja dan Cahaya di Matamu"

Di dalam sepasang mata,
langit sering menyembunyikan senjanya,
dan bulan menaruh separuh rindunya
pada kedalaman yang tak mampu disentuh waktu.

Maka berikan aku sebait puisi—
agar aku dapat menanam matahari
di ladang sepi dalam dadaku,
yang sejak lama kehilangan musim berbunga.

Berikan aku sebait puisi
tentang rahasia di balik riak air,
tentang sungai yang memikul bayangan gunung
dengan punggung yang letih oleh perjalanan.

Baca juga: KETIKA VLADIMIR PUTIN MENJEMPUT SENDIRI GURUNYA

Aku ingin mendengar
bagaimana ombak mengecup bibir pantai
dengan cinta yang selalu gagal menetap,
bagaimana laut menyembunyikan tangisnya
di balik suara camar yang pulang menjelang petang.

Berikan aku sebait puisi
tentang alunan yang dikulum gelombang,
tentang karang yang setia menunggu badai
meski tubuhnya remuk oleh ciuman samudra.

Sebab hidup kadang seperti laut:
indah dari kejauhan,
namun di dasarnya
terkubur kapal-kapal harapan
yang karam tanpa nisan.

Berikan aku sebait puisi
tentang bisikan angin
yang mengembara dari daun ke daun
membawa aroma hujan dan kenangan masa kecil.

Tentang pohon-pohon tua
yang diam-diam bercakap dengan malam,
sementara akar-akarnya memeluk bumi
seperti ibu yang tak rela kehilangan anaknya.

Aku ingin mendengar
bagaimana angin menyebut namamu
dengan suara yang tak dapat ditangkap telinga,
tetapi mampu membuat dada tiba-tiba sesak
oleh rindu yang tak diketahui asalnya.

Berikan aku sebait puisi
tentang celoteh burung di langit sana,
tentang sayap-sayap kecil
yang tak pernah lelah meminjam biru kepada cakrawala.

Barangkali burung lebih mengerti
bahwa kebebasan adalah luka
yang tetap harus diterbangkan.

Dan manusia hanyalah pengembara
yang sering tersesat
di lorong pikirannya sendiri.

Atau…
berikan aku sebait puisi
tentang bidadari bersayap putih
yang turun diam-diam melalui tangga cahaya bulan.

Biarkan ia mengetuk jendela mimpiku
dengan jemari dari kabut,
lalu menidurkanku
di negeri dongeng yang tak mengenal kehilangan.

Di sana,
malam tidak pernah melahirkan air mata,
dan waktu berjalan perlahan
seperti sungai yang lupa menuju muara.

Di sana,
aku ingin menjadi hujan
yang jatuh di rambut seseorang yang kucintai,
menjadi embun
yang berdiam di kelopak bunga sebelum pagi,
atau menjadi doa
yang diam-diam disebut seseorang
di antara sunyi selepas tahajudnya.

Berikan aku sebait puisi—
cukup sebait saja—
agar aku dapat hidup lebih lama
di dalam kata-kata.

Sebab dunia terlalu bising
untuk menjelaskan kesedihan,
dan manusia terlalu pandai tersenyum
untuk mengakui kehancurannya.

Maka biarkan puisi menjadi rumah
bagi jiwa-jiwa yang kelelahan.

Biarkan bait-bait itu
menjadi lentera kecil
di lorong hati yang gelap.

Dan bila suatu hari
aku hilang ditelan usia,
kuburkan namaku
di bawah pohon kenangan,
lalu bacakan sebait puisi
agar rohku tahu
bahwa aku pernah dicintai oleh kata-kata.

Karena pada akhirnya,
manusia hanyalah debu
yang ingin dikenang sebentar
oleh bahasa.

Dan aku…
hanyalah seorang pengembara sunyi
yang meminta kepada langit:

“Berikan aku sebait puisi…
cukup sebait puisi saja…”


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini