http:///suaraanaknegeri.com | Tanimbar – Di tengah kehidupan modern yang kian dipenuhi berbagai tantangan sosial, krisis empati, serta derasnya arus informasi yang sering kali menyesatkan, manusia dituntut untuk tidak sekadar menjadi penonton atas berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya. Kehadiran setiap pribadi ditantang untuk menjadi bagian dari solusi, menghadirkan kebaikan, serta memberi makna bagi kehidupan bersama.
Pesan itulah yang disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dalam renungan pagi pada Selasa (9/6/2026).
Berangkat dari Injil Matius 5:13-16 tentang garam dan terang dunia, Pastor Pius mengajak umat untuk memahami identitas sejati sebagai murid Kristus, yakni menjadi pribadi yang mampu membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.
Baca juga: Pastor Pius Heljanan MSC Serukan Persatuan dalam Ekaristi
“Kamu adalah garam dunia… kamu adalah terang dunia,” ungkap Pastor Pius Heljanan MSC mengawali refleksinya.
Menurutnya, menjadi murid Yesus bukanlah sekadar hadir sebagai pengamat yang menyaksikan berbagai persoalan kehidupan tanpa mengambil peran. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk terlibat aktif dalam menghadirkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
“Murid Yesus hadir tidak sekadar jadi penonton, komentator atau reporter. Kita hadir menjadi pemeran utama menunjukan teladan hidup baik dan benar,” tegasnya.
Baca juga: RD. Domincs Baldawins Masriat: Menjadi Roti yang Terpecah bagi Sesama
Dalam refleksinya, Pastor Pius menjelaskan bahwa makna “garam” tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga berfungsi menjaga sesuatu agar tidak mengalami pembusukan. Dalam konteks kehidupan sosial, umat dipanggil untuk menghadirkan keadilan, kejujuran, kebenaran, serta semangat kasih dan pengampunan di tengah masyarakat yang mulai kehilangan rasa empati.
“Kita dipanggil menjadi garam, memberi rasa keadilan, kejujuran, kebenaran, mencintai dan mengampuni sesama yang telah hilang rasa empati dan cinta terhadap sesama,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa berbagai bentuk perilaku negatif seperti gosip, fitnah, dan hoaks merupakan ancaman nyata yang dapat merusak tatanan kehidupan bersama apabila dibiarkan berkembang tanpa kendali.
“Kita mencegah pembusukan dalam hidup akibat gosip, fitnah, hoaks dan berbagai hal yang merusak kehidupan bersama,” katanya.
Di tengah situasi sosial yang sering kali diwarnai kompromi terhadap kesalahan dan penyimpangan moral, Pastor Pius juga mengajak umat untuk memiliki keberanian dalam membedakan yang benar dan yang salah. Baginya, iman tidak boleh berhenti pada tataran simbol atau ritual semata, melainkan harus diwujudkan dalam keberanian menjaga nilai-nilai kebenaran.
“Kita juga dipanggil untuk menyingkap yang benar dan salah. Tidak boleh kompromi pada dosa dan kesesatan hidup,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, ketika berbagai kepentingan kerap membuat sebagian orang memilih diam terhadap ketidakadilan atau bahkan ikut terbawa arus yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan.
Menutup refleksinya, Pastor Pius mengingatkan bahwa teladan utama dalam menjalani kehidupan bersama tetaplah Yesus Kristus. Kehadiran-Nya harus menjadi arah sekaligus pedoman dalam setiap keputusan dan tindakan manusia.
“Hadirkan Yesus sebagai teladan dan kompas utama hidup bersama,” pesan Pastor Pius Heljanan MSC.
Di tengah dunia yang semakin membutuhkan keteladanan, pesan sederhana itu menjadi pengingat bahwa perubahan besar selalu berawal dari pribadi-pribadi yang berani menjadi garam dan terang bagi sesamanya. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukan semata-mata tentang apa yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain dan lingkungan di sekitarnya.(jk)





