oleh Reiner Emyot Ointoe
–
“Politik adalah seni mencari masalah, menemukannya di mana-mana, mendiagnosisnya secara keliru, dan menerapkan solusi yang salah.” — Thomas Chatcart & Daniel Klein dalam Plato and Playtypus Walk into a Bar(2007).
Lanskap dinamika politik Indonesia kontemporer lebih sering harus direspon dengan logika dagelan.
Dalam sejarah politik kepala negara, setidaknya dua dan delapan, mendiang KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur dan Joko Widodo, yang paling lucu dan yang paling kontroversi.
Dalam satu tayangan di facebook, politisi PDIP dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, M. Djarot, menanggapi niat penasehat partai gajah, PSI, Joko Widodo untuk safari politik ke seluruh Indonesia adalah suatu kewajaran.
Namun, di balik tanggapan itu, Djarot membuat suatu dagelan yang — tentu bagi saya barangkali — cukup menggelitik sekaligus “luris”, lucu serius.
Selain kefiguran Jokowi yang menurut Blend kontradiksi, mungkin satu-satunya dari delapan presiden periode 2014-2024 yang terus membangun citra kekuasaannya nyaris “riskol”, serius tapi konyol.
Di sisi keseriusan tentu itu hak politik semua warga negara. Tapi, semua juga tahu, Jokowi masih punya legasi relatif bagus namun cacat dan penuh borok misterius.
Menurut tradisi politik Jawa klasik, “legasi bagus tapi cacat” seperti ditulis Said Sumarsono dalam “Bina Negara Jawa”, hal itu dianggap sebagai pulung maupun kasekten.
Di sisi lain, “cacat legasi” era dan paska kekuasaan Jokowi terus menghidupkan pulung itu, khusus dalam isu skandal konstitusi, kebohongan mobil esemka maupun 11 triliun dan tuduhan ijazah palsu.
Akibatnya, muncul produksi parodi politik seperti dagelan Djarot kurang lebih, “silahkan Pak Jokowi dan PSI safari politik ke seluruh Indonesia, asalkan ia bisa tunjukkan ke rakyat ijazah aslinya.”
Dengan demikian, safari politik seorang bekas kepala negara sering kali lebih mirip dagelan ketimbang strategi serius.
Ketika seorang mantan presiden turun ke jalan, menyapa rakyat, dan mengibarkan bendera safari politik bersama partainya, publik tidak hanya melihat niat politik.
Akan tetapi, juga bisa menyaksikan sebuah pertunjukan komedi yang masih terus berlangsung penuh paradoks.
Dagelan muncul ketika isu serius — seperti tuduhan ijazah palsu yang tiada akhir — dapat dibawa sebagai bahan olok-olok dalam arena safari politik.
Seolah-olah ijazah asli menjadi tiket masuk safari, bukan sekadar bukti dokumen akademik yang legal.
Dalam kerangka dagelan filsafat sosial dan politik yang ditulis Thomas Cathcart dan Daniel Klein dalam Plato and a Platypus Walk into a Bar(2007), humor bukan sekadar hiburan, melainkan cara untuk menyingkap absurditas dalam sistem politik.
Mereka menunjukkan bahwa filsafat sering kali menemukan bentuk paling jernihnya dalam lelucon.
Dagelan politik tentang safari dengan bawa ijazah asli adalah contoh nyata.
Ini merupakan sebuah lelucon yang mengandung kritik serius terhadap legitimasi kekuasaan dan sekaligus membuka ruang refleksi tentang bagaimana rakyat menilai legasi otentik seorang pemimpin.
Safari politik dengan dagelan membawa ijazah asli memperlihatkan kontradiksi antara citra serius seorang bekas kepala negara dan kenyataan bahwa politik Indonesia sering kali berjalan di atas panggung komedi.
Di satu sisi, ada legasi yang dianggap “bagus tapi cacat” menurut tradisi Jawa klasik.
Di sisi lain, ada borok historis yang terus dipertontonkan dalam isu konstitusi dan ijazah.
Dagelan ini bukan sekadar olok-olok, melainkan sebuah filosofi politik: bahwa kekuasaan tanpa legitimasi moral akan selalu menjadi bahan kritik sekaligus tertawaan.
Akhirnya, safari politik dengan dagelan membawa ijazah asli adalah gambaran bagaimana humor menjadi senjata sosial.
Ia menyingkap absurditas, menertawakan kontradiksi, dan sekaligus mengingatkan bahwa politik bukan hanya soal prosedur, melainkan soal kepercayaan.
Seperti filsafat dalam bentuk lelucon, dagelan politik ini mengandung kebenaran pahit: safari politik bisa berakhir sebagai tontonan untung atau buntung.
Dan hal itu, tergantung apakah rakyat melihat ijazah itu sebagai bukti atau sekadar bahan tertawa yang tiada akhir seperti kasusnya itu sendiri.
#coverlagu:
Parodi lucu bertema Gen Z yang sedang ramai adalah “We Wok The Tok(Gen Z Anthem)” yang dirilis pada tahun 2025 di YouTube.
Lagu ini dibuat sebagai parodi dance gokil dengan visual dan musik hasil kreasi AI, dan langsung viral di kalangan TikTokers serta komunitas Gen Z.
#credit foto diunggah dari laman facebook.





