Bupati Biak Numfor Posisioning Festival Munara Wampasi sebagai Gerbang Ekonomi Kreatif Kawasan Saireri
–
BIAK-PAPUA| SUARA ANAK NEGERI – Bupati Kabupaten Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, SH., M.M., secara resmi membuka Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 pada Selasa (1/7/2026), sekaligus menggariskan visi strategis daerah untuk mentransformasi kekayaan adat istiadat dan sumber daya pesisir menjadi aset ekonomi kreatif bertaraf internasional. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan instrumen vital dalam memperkuat identitas masyarakat Saireri dan mempromosikan Biak Numfor sebagai hub pariwisata utama di kawasan Pasifik.

“Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena meskipun kita tidak memiliki banyak sumber daya alam ekstraktif, kita dianugerahi kekayaan alam laut yang luar biasa, kawasan pesisir yang indah, serta budaya Saireri yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Biak Numfor,” ujar Markus O. Mansnembra.
Paradigma Pembangunan Berbasis Kearifan Lokal dan Blue Economy
Baca juga: PW GKI Harapan Abepura Gelar Wisata Rohani Berbasis Diakonia Transformatif di Jemaat Israel Marao
Bupati menekankan pentingnya pelestarian adat istiadat sebagai fondasi identitas daerah yang diferensiatif di tengah globalisasi. Festival ini berfungsi sebagai media strategis untuk mendemonstrasikan warisan budaya yang eksotis dan unik kepada khalayak global, sejalan dengan komitmen pemerintah daerah dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata.

Dari perspektif ekonomi wilayah, sektor pariwisata diposisikan sebagai lokomotif utama yang diharapkan dapat menciptakan efek multiplier (multiplier effect) tidak hanya bagi Kabupaten Biak Numfor, tetapi juga bagi kabupaten-kabupaten lain di kawasan pesisir Saireri. Pendekatan ini mengintegrasikan konsep blue economy dengan pariwisata budaya, memanfaatkan potensi laut dan pantai sebagai daya tarik utama.
Roadmap Diplomasi Budaya: Karnaval Budaya Pasifik 2026
Sebagai bagian dari ekspansi strategi pariwisata, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor mengumumkan rencana pelaksanaan Karnaval Budaya Pasifik pada Oktober 2026, yang akan diselenggarakan bertepatan dengan Bulan Budaya Nasional. Event ini dirancang sebagai platform diplomasi budaya yang melibatkan partisipasi negara-negara di kawasan Pasifik, termasuk Papua Nugini, Selandia Baru, Fiji, dan berbagai negara kepulauan Pasifik lainnya.

Melalui inisiatif ini, Biak Numfor berupaya memposisikan diri sebagai pusat pertukaran budaya (cultural exchange hub) dan destinasi wisata unggulan di kawasan Pasifik. Bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memberikan dukungan penuh guna memastikan kesuksesan pelaksanaan event berskala internasional tersebut.
Manajemen Destinasi: Keamanan, Kebersihan, dan Keramahtamahan
Dalam konteks manajemen destinasi (destination management), Bupati mengingatkan pentingnya menjaga tiga pilar utama pengalaman wisatawan: keamanan, kebersihan, dan keramahtamahan. Biak Numfor dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan tingkat keamanan tertinggi dan sanitasi terbaik di Tanah Papua.

“Biak dikenal sebagai salah satu kabupaten paling aman di Tanah Papua dan juga salah satu yang terbersih. Mari kita jaga kebersihan, keamanan, serta keramahtamahan sehingga setiap wisatawan yang datang akan pulang membawa kesan yang indah tentang Biak. Harapannya, mereka akan selalu teringat dan kembali berkunjung,” tegas Bupati.
Slogan “Bila Ingat Akan Kembali” diadopsi sebagai filosofi branding destinasi untuk membangun loyalitas wisatawan (repeat visitation) dan memastikan keberlanjutan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Sinergi Multi-Stakeholder dan Apresiasi Kolaboratif
Keberhasilan penyelenggaraan FBMW 2026 merupakan hasil dari kolaborasi sinergis antara berbagai pemangku kepentingan. Bupati Markus O. Mansnembra menyampaikan apresiasi tinggi kepada:
* Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
* Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
* Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Biak Numfor.
* TNI/Polri dalam menjamin keamanan dan ketertiban.
* Tokoh adat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, pemuda, dan perempuan.
* Pimpinan BUMN/BUMD, seniman, budayawan, serta insan media.
Kolaborasi lintas sektor ini mencerminkan model tata kelola pemerintahan yang inklusif dan partisipatif, di mana seluruh elemen masyarakat berkontribusi dalam memperkuat posisi Biak Numfor sebagai destinasi wisata budaya dan alam yang kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Editor ✍️: Anis Rumaropen





