Selasa, 02 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pastor Pius Heljanan MSC Ingatkan Bahaya Keserakahan dalam Kehidupan Beriman

http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Di tengah suasana pagi yang tenang pada Senin (1/6/2026), suara refleksi iman dari Pastor Pius Heljanan MSC menggema dari Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Melalui permenungan Injil Markus 12:1-12 tentang para penggarap kebun anggur, Pastor Pius mengajak umat untuk merenungkan kembali relasi manusia dengan Tuhan, terutama ketika berhadapan dengan harta, kekuasaan, jabatan, dan berbagai berkat yang dipercayakan dalam kehidupan.

Menurut Pastor Pius, seluruh yang dimiliki manusia pada hakikatnya bukanlah milik pribadi yang mutlak. Iman, keluarga, talenta, waktu, hingga harta benda merupakan titipan Tuhan yang harus dirawat, dikembangkan, dan dipertanggungjawabkan dengan penuh kesadaran.

Baca juga: Dari Balikpapan ke Saumlaki, Infrastruktur Pelatihan Migas Mulai Dibangun

“Tuhan itu Bapa yang murah hati dan maha kasih. Dia menitipkan iman, keluarga, talenta, harta dan waktu pada kita. Dia menghendaki kita merawat dan mengembangkannya,” ujar Pastor Pius Heljanan MSC.

Dalam refleksinya, Pastor Pius menyoroti kecenderungan manusia yang sering kali menikmati berkat, namun melupakan Sang Pemberi Berkat. Sikap tersebut, menurutnya, menjadi pintu masuk lahirnya kerakusan dan keserakahan yang perlahan dapat merusak kehidupan rohani maupun hubungan sosial.

Ia mengibaratkan manusia seperti para penggarap kebun anggur yang dipercaya mengelola kebun milik tuannya. Ketika tiba saatnya memberikan hasil kepada pemilik kebun, justru muncul penolakan, bahkan pemberontakan. Gambaran itu menjadi cermin bagi kehidupan manusia modern yang kadang lebih mencintai pemberian daripada menghormati pemberi.

Baca juga: Tanimbar Industrial Training Center Jadi Pusat Pengembangan SDM Migas

“Nyatanya, ada orang beriman yang menolak taat untuk mengembalikan. Telah tumbuh sifat rakus dan serakah. Anehnya, kita tetap meminta berkat, tetapi menolak Pemberi Berkat,” katanya.

Pastor Pius menegaskan bahwa keberanian sejati seorang beriman lahir dari tindakan yang benar di hadapan Tuhan. Karena itu, ia mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam ambisi yang berlebihan terhadap kekayaan, kekuasaan maupun kedudukan sosial. “Jangan rakus akan harta, kuasa, jabatan dan lainnya. Semua itu titipan,” tegasnya.

Di tengah berbagai perubahan sosial dan tantangan zaman, Pastor Pius mengajak umat untuk tetap menjadi pribadi yang rendah hati, tahu diri, serta memiliki rasa syukur yang mendalam atas setiap anugerah yang diterima.

“Jadilah penggarap, orang beriman yang benar di hadapan Tuhan. Jadilah pribadi yang tahu diri dan selalu bersyukur,” pesan Pastor Pius Heljanan MSC.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari kesetiaan dalam mengelola dan mempertanggungjawabkan setiap berkat yang dipercayakan Tuhan.

Di tengah godaan materialisme dan ambisi duniawi, sikap syukur dan kesadaran bahwa segala sesuatu hanyalah titipan menjadi fondasi penting untuk menjaga martabat manusia dan kemurnian iman. “Kerakusan membuat manusia merasa memiliki segalanya, sementara rasa syukur mengingatkan bahwa segalanya berasal dari Tuhan.”(Jk)

Kategori:
Tags:

Terkini