Senin, 06 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD Ponsianus Ongirwalu: Gereja Harus Keluar Menjumpai Umat

Oleh: joko

http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, panggilan seorang imam tidak berhenti pada altar dan ruang gereja. Semangat misioner justru menemukan maknanya ketika Gereja berani melangkah keluar, menyapa umat di rumah-rumah mereka, mendengarkan pergulatan hidup, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang berada di pinggiran kehidupan.

Sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat sekaligus Vikaris Episkopal Kepulauan Kei dan Tanimbar (Vikep KKT), RD Ponsianus Ongirwalu membagikan refleksi pastoral yang berangkat dari pengalaman nyata melayani umat di wilayah Olilit Barat, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Baca juga: Bupati Biak Buka Parade Perahu Mansusu dan Wairon di Anggopi : Mengukuhkan Jejak Maritim Leluhur di Panggung Global

Refleksi tersebut tidak hanya menjadi evaluasi pribadi atas panggilan imamat, tetapi juga menawarkan arah baru pelayanan Gereja yang semakin dekat dengan kehidupan umat, terlebih dalam menyongsong Tahun Yubileum.

Semangat Misioner Harus Terus Diperbarui
Bagi RD Ponsianus, semangat pelayanan yang menyala ketika menerima tahbisan imam harus terus dipelihara melalui kesediaan hadir di tengah umat, sebagaimana teladan Santo Fransiskus Xaverius.

Menurutnya, tantangan pelayanan di Paroki HKY Olilit Barat bukan hanya melayani umat di pusat kota Saumlaki, tetapi juga menjangkau berbagai rukun dan stasi yang membutuhkan kehadiran seorang gembala.

Baca juga: Bupati Biak Buka Parade Perahu Mansusu dan Wairon di Anggopi : Mengukuhkan Jejak Maritim Leluhur di Panggung Global

“Semangat misioner di HKY Olilit Barat diuji lewat konsistensi pelayanan di tengah dinamika pusat kota Saumlaki sekaligus wilayah rukun dan stasi yang membutuhkan kehadiran fisik. Meneladani Fransiskus Xaverius berarti terus memperbarui kerelaan untuk mendengarkan, hadir, dan melayani tanpa lelah.”

Diutus untuk Seluruh Umat
RD Ponsianus menegaskan bahwa seorang imam tidak diutus hanya kepada kelompok tertentu, melainkan kepada seluruh umat Allah.

Mereka yang menjadi perhatian pastoral meliputi anak-anak, kaum muda, keluarga, para lansia, hingga mereka yang mengalami pergumulan hidup.

Perhatian khusus juga diberikan kepada dunia pendidikan melalui pembinaan anak-anak, termasuk di Taman Seminari Santa Maria Bunda Allah sebagai bagian dari pembentukan karakter dan iman sejak usia dini.

Gereja Tidak Boleh Menunggu
Dalam refleksinya, RD Ponsianus menilai pola pelayanan Gereja harus bergerak aktif. Pastoran tidak boleh menjadi pusat yang hanya menunggu umat datang, melainkan menjadi titik awal bagi Gereja untuk hadir di tengah masyarakat.

“Pelayanan tidak boleh mandek di pastoran. Pola gerakan yang tepat adalah meningkatkan frekuensi kunjungan rumah tangga rutin dan mendekatkan pelayanan sakramen langsung ke tengah lingkungan masyarakat untuk merasakan langsung denyut kehidupan umat.”

Baginya, kunjungan pastoral bukan sekadar agenda, melainkan kesempatan membangun relasi, mendengar keluhan umat, serta menemukan solusi bersama.

Menjangkau Mereka yang Terlupakan
Dalam kehidupan menggereja, RD Ponsianus mengakui masih terdapat kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar. Kaum muda menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap derasnya arus modernisasi.

Di sisi lain, masih ada anak-anak dari keluarga kurang mampu yang menghadapi keterbatasan biaya pendidikan, serta umat yang perlahan menjauh dari kehidupan menggereja karena tekanan ekonomi maupun persoalan keluarga.

Kelompok-kelompok inilah yang menurutnya harus menjadi prioritas pelayanan Gereja. “Mereka adalah keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, anak-anak yang terancam putus sekolah karena kendala biaya atau transportasi, serta para lansia yang membutuhkan perhatian pastoral dan sosial secara khusus.”

Gereja Berorientasi Misi
RD Ponsianus menegaskan bahwa Paroki HKY Olilit Barat terus diarahkan agar tidak terjebak dalam rutinitas liturgi.

Menurutnya, orientasi misi harus diwujudkan melalui kerja sama pastoral lintas rukun, penguatan Dewan Pastoral Paroki, dan pembaruan kehidupan iman yang berdampak nyata bagi masyarakat.

“Paroki HKY Olilit Barat terus diarahkan agar tidak terjebak dalam rutinitas perayaan liturgi semata.”

Ia juga menilai bahwa kegiatan pastoral harus lebih banyak berlangsung di tengah masyarakat. Program seperti kunjungan rumah, pembinaan iman anak di tingkat rukun, hingga aksi sosial perlu menjadi wajah nyata Gereja yang melayani.

Sahabat bagi Semua
Salah satu kekuatan Gereja di Tanimbar, menurut RD Ponsianus, adalah kemampuannya mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan kehidupan iman.
Nilai luhur Duan Lolat, yang menekankan persaudaraan, solidaritas, dan harmoni, dipandang sebagai modal sosial yang memperkuat kehidupan menggereja.

“Dengan merawat harmoni, solidaritas, dan persaudaraan sejati berlandaskan adat dan iman, Gereja HKY Olilit Barat hadir sebagai sahabat sejati yang merangkul semua lapisan masyarakat.”

Pendekatan tersebut membuat Gereja tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam membangun kehidupan bersama.

Pendidikan dan Kepedulian Sosial Menjadi Prioritas

Dalam refleksinya, RD Ponsianus menempatkan pendidikan sebagai salah satu fokus utama pelayanan pastoral.
Penguatan pendidikan karakter sejak usia dini melalui Taman Seminari, disertai dukungan bagi siswa-siswi yang mengalami keterbatasan ekonomi, menjadi bagian dari upaya memastikan tidak ada anak Tanimbar yang tertinggal memperoleh pendidikan.

Di bidang sosial, Gereja terus berupaya menyalurkan bantuan secara tepat sasaran kepada keluarga yang membutuhkan, sembari memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian antarsesama.

Belajar dari Santo Fransiskus Xaverius
Menutup refleksinya, RD Ponsianus membayangkan apabila Santo Fransiskus Xaverius datang ke Maluku pada masa kini.
Menurutnya, Sang Misionaris Agung tentu akan mengapresiasi keteguhan iman umat, hidupnya komunitas basis, serta kemampuan Gereja memadukan nilai budaya Duan Lolat dengan semangat persaudaraan Kristiani.

Namun, Santo Fransiskus Xaverius juga diyakini akan mengingatkan Gereja agar semakin aktif menjangkau wilayah-wilayah yang masih membutuhkan pelayanan serta mendorong kaum muda mengambil bagian lebih besar dalam karya misi.

“Ia akan meminta agar kesenjangan pelayanan antara pusat paroki dan rukun-rukun yang membutuhkan perhatian lebih segera dijembatani melalui kunjungan yang lebih intensif, serta mendorong keterlibatan kaum muda yang lebih militan dalam misi Gereja.”

Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, masa depan Gereja tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan ataupun banyaknya kegiatan liturgi. Masa depan Gereja dibangun melalui keberanian untuk hadir di tengah umat, berjalan bersama mereka yang lemah, merangkul yang tersisih, dan menghadirkan kasih Kristus dalam tindakan nyata.

Refleksi tersebut menjadi penegasan bahwa Gereja yang hidup adalah Gereja yang terus bermisi, mendatangi, mendengarkan, melayani, dan menjadi sahabat bagi setiap orang. “Syalom. Ratu Norkit Monuk Dedesar. Ubilaa Norang Ita Didtinemun. Salve.”tutupnya.

Kategori:
Tags:

Terkini